KABARBURSA.COM – Harga emas dunia tiba-tiba kembali menyala setelah sempat bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir. Namun analis masih memberikan sinyal waspada akan Kembali jatuhnya harga emas. Mengapa demikian?
Sinyal damai dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait hubungan Washington dan Teheran, mulai muncul. Pasar langsung bereaksi cepat.
Harga emas spot melonjak 2,4 persen menjadi USD4.667,39 per ons pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026. Ini menjadi level tertinggi sejak 28 April lalu. Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni ikut terbang 2,4 persen ke posisi USD4.678,20 per ons.
Lonjakan ini muncul setelah Trump memberi sinyal bahwa ketegangan di Timur Tengah mulai mereda. Presiden AS tersebut menyatakan akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz karena adanya perkembangan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran.
Pernyataan itu langsung mengubah arah pergerakan pasar global. Investor yang sebelumnya memburu dolar dan minyak sebagai aset perlindungan, mulai mengurangi posisi mereka setelah risiko geopolitik dianggap sedikit mereda.
Harga Minyak dan Dolar AS Terkoreksi Cukup Dalam
Efek paling cepat terlihat di pasar minyak. Harga minyak mentah terkoreksi cukup dalam karena pasar mulai menghitung kemungkinan berkurangnya gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Ketika minyak turun, tekanan inflasi global ikut mereda. Situasi inilah yang kemudian mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Amerika Serikat.
Biasanya, emas bergerak sensitif terhadap dua hal ini. Saat dolar melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga menurun, emas cenderung mendapatkan dorongan besar karena biaya peluang memegang logam mulia menjadi lebih rendah.
Kondisi itu terjadi hampir bersamaan pada perdagangan kali ini. Dolar AS mengalami depresiasi setelah pasar mulai mengurangi permintaan terhadap aset safe haven berbasis greenback.
Akibatnya, emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi investor pemegang mata uang lain. Permintaan pun langsung meningkat tajam.
Analis OANDA Kelvin Wong melihat pergerakan emas kali ini lebih dipicu perubahan sentimen geopolitik dibanding faktor fundamental permintaan fisik. Menurut dia, pasar sedang merespons peluang meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang selama beberapa pekan terakhir menjadi sumber utama ketegangan global.
Analis: Situasi Masih Rapuh
Meski begitu, Wong menilai situasinya masih sangat rapuh. Artinya, jika muncul kembali tanda-tanda eskalasi konflik, pasar bisa berubah cepat dan memicu aksi profit taking pada emas.
Di sisi lain, pasar juga mulai mengalihkan perhatian ke data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan non-farm payrolls yang akan dirilis pekan ini. Data ketenagakerjaan tersebut menjadi penting karena akan menentukan bagaimana arah kebijakan Federal Reserve berikutnya.
Jika data tenaga kerja melemah, pasar akan semakin yakin bahwa ruang kenaikan suku bunga The Fed makin terbatas. Skenario itu biasanya menjadi kabar positif bagi emas karena membuat instrumen berbunga seperti obligasi menjadi kurang menarik dibanding logam mulia.
ANZ dalam catatannya juga melihat faktor ketidakpastian global masih menjadi penopang utama harga emas. Risiko perlambatan ekonomi, gejolak geopolitik, volatilitas mata uang, hingga tekanan di pasar saham dinilai tetap membuat emas relevan sebagai aset diversifikasi portofolio.
Harga Logam Mulia Lainnya Ikut Terkerek
Kenaikan tajam ternyata tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak di pasar spot bahkan melonjak lebih tinggi dengan kenaikan 4,2 persen menjadi USD75,84 per ons.
Platinum ikut melesat 2,6 persen ke posisi USD2.002,75 per ons, sementara paladium naik 2,5 persen menjadi USD1.522,93 per ons. Reli logam mulia secara serempak ini memperlihatkan pasar sedang kembali masuk ke aset berbasis komoditas setelah tekanan geopolitik mulai bergeser arah.
Di tengah situasi tersebut, pasar emas global kini bergerak dalam dua sentimen besar sekaligus. Di satu sisi, meredanya tensi Timur Tengah menekan dolar dan menurunkan ekspektasi inflasi. Namun di sisi lain, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global masih cukup kuat untuk menjaga permintaan safe haven tetap tinggi.(*)