KABARBURSA.COM — Kepemimpinan Kevin Warsh di bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve baru seumur jagung. Namun hanya dalam satu rapat kebijakan perdananya pekan ini, ia sudah menunjukkan arah yang berbeda dari pendahulunya.
Warsh tampaknya ingin mengembalikan The Fed ke gaya lama ala 1990-an. Saat itu bank sentral lebih banyak bekerja di balik layar dan tidak terlalu sibuk menjelaskan segala hal kepada pasar maupun publik. Pendekatan tersebut kontras dengan era setelah berbagai krisis ekonomi abad ke-21 yang membuat The Fed menjadi aktor utama pengelolaan ekonomi sekaligus penenang bagi Wall Street dan masyarakat luas.
Masalahnya, dunia saat ini jauh lebih rumit dibanding tiga dekade lalu. Arus informasi bergerak sangat cepat, masyarakat semakin terpolarisasi, dan pelaku pasar sudah terbiasa mendapatkan penjelasan rinci dari para pejabat bank sentral. Karena itu, muncul pertanyaan apakah pendekatan minimalis Warsh masih relevan diterapkan sekarang.
Kekhawatiran itu mulai terlihat setelah konferensi pers Warsh pada Rabu lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia sangat menekankan pentingnya pengendalian inflasi, tetapi nyaris tidak memberikan penjelasan lebih rinci mengenai kondisi apa yang akan membuat The Fed menaikkan suku bunga.
Akibatnya, investor langsung menarik kesimpulan sendiri. Banyak yang menilai kenaikan suku bunga kemungkinan akan segera terjadi. Respons pasar pun cepat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS langsung bergerak naik.
Wakil Ketua sekaligus Kepala Strategi Ekonomi dan Bank Sentral Evercore ISI, Krishna Guha, menilai reaksi pasar diperparah oleh gaya komunikasi Warsh yang terlalu menonjolkan agenda stabilitas harga tanpa menjelaskan strategi kebijakan secara utuh.
“Reaksi pasar diperbesar secara masif oleh konferensi pers Warsh yang menggabungkan penekanan hawkish yang hampir hanya berfokus pada kebutuhan menjaga stabilitas harga dengan ketiadaan total pembahasan yang dapat memoderasi strategi maupun fungsi reaksi The Fed,” kata Guha, dikutip dari Reuters, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ia menambahkan, pembahasan mengenai strategi dan pola respons kebijakan justru merupakan salah satu fondasi penting praktik bank sentral modern. Dalam rapat pertamanya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen, level yang bertahan sejak Desember lalu. Pernyataan resmi yang dirilis juga jauh lebih ringkas dibanding era sebelumnya.
Banyak pengamat melihat gaya komunikasi tersebut mengingatkan pada masa Alan Greenspan yang terkenal sangat tertutup mengenai cara berpikirnya. Padahal selama dua dekade terakhir, tren komunikasi The Fed justru bergerak ke arah yang lebih terbuka.
Menariknya, meski Warsh enggan membahas prospek kenaikan suku bunga secara detail, dokumen proyeksi suku bunga atau dot plot yang dirilis bersamaan justru menunjukkan banyak pembuat kebijakan memperkirakan kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi tahun ini.
Alih-alih membuat segalanya lebih jelas, pernyataan yang lebih singkat justru memunculkan pertanyaan baru. Salah satunya terkait inflasi. Jika pada era Jerome Powell The Fed cukup menyatakan bahwa inflasi masih tinggi, Warsh memilih kalimat yang lebih bersyarat dengan menyebut inflasi tinggi “dibandingkan dengan target 2 persen Komite.”
Perubahan frasa itu dianggap penting karena bisa diartikan bahwa inflasi saat ini tidak lagi dipandang terlalu berlebihan secara absolut. Warsh sendiri memang tetap mendukung target inflasi 2 persen, tetapi ia pernah menyatakan bahwa angka di belakang koma bukanlah hal yang paling penting. Pernyataan tersebut memberi kesan adanya toleransi terhadap inflasi yang masih berada di sekitar target.
Perubahan lain terlihat pada penilaian kondisi ketenagakerjaan. Jika sebelumnya The Fed hanya menggambarkan pertumbuhan lapangan kerja, kini mereka menyatakan bahwa pertumbuhan pekerjaan “tetap sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja.”
Pilihan kata itu dianggap sengaja menghindari perdebatan mengenai dampak kebijakan pembatasan imigrasi pemerintahan Donald Trump terhadap kebutuhan penciptaan lapangan kerja untuk menjaga tingkat pengangguran tetap stabil. Warsh sendiri tidak membahas isu tersebut lebih lanjut.
Dalam aspek pertumbuhan ekonomi, Warsh juga memilih menyoroti produktivitas dan investasi modal sebagai faktor utama. Sementara sejumlah isu sensitif lain tidak banyak disentuh, mulai dari konsumsi rumah tangga, ketimpangan manfaat pertumbuhan ekonomi, tarif perdagangan hingga belanja pemerintah dan persoalan utang negara.
Yang paling mencolok, penilaian mengenai keseimbangan risiko antara inflasi dan ketenagakerjaan dihapus dari pernyataan resmi. Sebagai gantinya, The Fed menutup pernyataannya dengan kalimat tegas. “Komite akan mewujudkan stabilitas harga.”
Kepala Ekonom dan Managing Director KPMG US, Diane Swonk, menilai dokumen tersebut menjadi hadiah politik yang cukup besar bagi Warsh. “Pernyataan itu adalah hadiah bagi ketua baru The Fed,” kata Swonk.
Menurut dia, berbagai prioritas Warsh, terutama fokus kuat pada inflasi, berhasil dimasukkan ke dalam dokumen yang disetujui secara bulat oleh seluruh anggota Komite Pasar Terbuka Federal untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.
Meski begitu, masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah pendekatan baru ini bisa bertahan lama. Banyak pimpinan bank sentral sebelumnya yang datang dengan prinsip-prinsip tegas, tetapi akhirnya harus beradaptasi ketika menghadapi krisis.
Warsh juga mengumumkan pembentukan lima gugus tugas yang bertujuan mereformasi The Fed. Namun para pengamat masih mempertanyakan apakah tim-tim tersebut benar-benar akan membawa perubahan besar atau hanya mengulang perdebatan lama.
Kepala Ekonom JPMorgan, Michael Feroli, menilai pertanyaan itu masih terbuka. “Apakah mereka akan menjadi agen perubahan rezim atau hanya komisi tambahan untuk mengulang perdebatan lama,” tulis Feroli.
Warsh memang bukan sosok baru dalam kritik terhadap The Fed. Selama lebih dari satu dekade terakhir, ia cukup vokal mengkritik berbagai kebijakan bank sentral tersebut.
Sebagai mantan gubernur The Fed pada era Ben Bernanke, Warsh bahkan meninggalkan jabatannya pada 2011 karena tidak sepakat dengan kebijakan pembelian obligasi besar-besaran yang dilakukan setelah krisis keuangan global 2007 hingga 2009.
Kini, tiga dari lima gugus tugas yang dibentuknya berfokus pada isu komunikasi, neraca keuangan The Fed, dan kerangka pengendalian inflasi. Ketiganya merupakan bidang yang mengalami perubahan besar setelah krisis keuangan, perlambatan ekonomi berkepanjangan, serta kebuntuan politik di Washington yang membuat The Fed menjadi pemain utama kebijakan ekonomi.
Peran itu semakin membesar saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika itu The Fed menggelontorkan program bernilai triliunan dolar untuk menopang perekonomian. Jerome Powell pun sering tampil di media nasional untuk menenangkan rumah tangga dan pasar keuangan yang dilanda kepanikan.
Kini Warsh tampaknya ingin mengurangi sebagian peran tersebut. Namun bukan berarti ia menolak seluruh perubahan. Dua gugus tugas lainnya justru berfokus pada peningkatan produktivitas dan pemanfaatan data alternatif real time dalam perumusan kebijakan.
Direktur Riset Federal Reserve Atlanta, Paula Tkac, mengatakan perkembangan teknologi memungkinkan bank sentral belajar dari sumber data yang jauh lebih beragam. “Ada begitu banyak data yang beredar di dunia dengan kemampuan pengolahan yang sangat besar sehingga pasti ada hal-hal yang bisa kita pelajari darinya,” ujar Tkac.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan utama tetap sama, yakni memahami bagaimana data baru tersebut bisa dipadukan dengan indikator ekonomi yang selama ini sudah digunakan selama bertahun-tahun. “Kita harus memahami bagaimana data itu cocok dengan berbagai ukuran lain yang sudah kita gunakan dalam periode yang lebih panjang,” katanya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.