KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia menutup pekan dengan penurunan sekitar 8 persen. Walau begitu, secara harian, harga Brent justru ditutup menguat tipis sebesar 0,53 persen menjadi USD80,38 per barel. Begitu pula dengan West Texas Intermediate (WTI) yang naik 1,23 persen menjadi USD77,54 per barel.
Kenaikan tersebut dipicu oleh sinyal Iran yang kembali memberikan ketegangan. Pemerintah, melalui televisi nasional, menyatakan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz wajib berkoordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi.
Bahkan, dalam surat edaran yang beredar di industri pelayaran, Iran menegaskan tidak ada kapal yang boleh melewati selat tersebut tanpa izin resmi dari Persian Gulf Strait Authority.
Pesan itu diartikan pasar sebagai ketegangan yang belum selesai. Padahal, sebelumnya, kesepakatan yang telah dihasilkan oleh Amerika Serikat dan Iran, telah membawa angin segar dan sempat menekan harga minyak.
Pendiri Commodity Context Rory Johnston, menilai pasar sebelumnya sudah terlalu cepat mengasumsikan bahwa seluruh proses perdamaian akan berjalan mulus. Implementasi di lapangan masih penuh dinamika, dan hasilnya investor kembali memasukkan faktor risiko ke dalam harga minyak.
Ekspektasi Bertambahnya Pasokan
Meski demikian, jika melihat pergerakan selama sepekan penuh, arah pasar tetap menunjukkan tren yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh ekspektasi bertambahnya pasokan.
Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran membuka akses terhadap lebih dari 85 juta barel minyak yang selama ini tertahan di kawasan Teluk. Tidak hanya itu, pencabutan sanksi Amerika terhadap ekspor minyak Iran juga berpotensi mengembalikan jutaan barel pasokan ke pasar global dalam beberapa bulan ke depan.
Phil Flynn dari Price Futures Group melihat situasi tersebut sebagai alasan utama mengapa harga minyak sulit mempertahankan reli yang terjadi akibat perang. Menurutnya, antrean kapal tanker yang sempat tertahan dapat bergerak jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan apabila koordinasi antara Iran dan Amerika Serikat berjalan baik.
Artinya, pasokan yang selama ini tertunda dapat masuk ke pasar dalam waktu relatif singkat dan menambah tekanan terhadap harga minyak.
Proyeksi Harga Minyak Dunia
Pandangan tersebut semakin diperkuat oleh proyeksi sejumlah lembaga keuangan internasional. Citi memperkirakan dengan probabilitas 60 persen bahwa normalisasi distribusi minyak akan berlangsung secara berkelanjutan.
Jika skenario itu terealisasi, pasar minyak global akan berubah menjadi surplus, sehingga harga Brent diproyeksikan turun menuju kisaran USD60 hingga USD65 per barel pada kuartal pertama 2027.
Prediksi ini jauh lebih rendah dibanding harga saat ini yang masih berada di sekitar USD80 per barel.
Commerzbank juga mengambil sikap yang lebih konservatif. Bank asal Jerman tersebut memangkas proyeksi harga Brent pada akhir tahun menjadi USD80 per barel dari sebelumnya USD85. Meski demikian, mereka masih melihat harga akan bertahan di atas level sebelum perang, karena proses pemulihan produksi tidak akan berlangsung secara instan.
Dari Irak sendiri, sinyal pemulihan juga mulai terlihat. Menteri Perminyakan Basim Mohammed memastikan ladang-ladang minyak negara tersebut siap kembali beroperasi dan produksi akan meningkat secara bertahap hingga kembali ke kapasitas normal.
Jika Irak, Iran, dan negara-negara Teluk secara bersamaan meningkatkan produksi, maka pasar akan menerima tambahan pasokan yang sangat signifikan.
Permintaan Masih Kuat
Di satu sisi, prospek permintaan jangka panjang masih terlihat kuat.
Dalam World Oil Outlook 2026, OPEC memperkirakan konsumsi minyak dunia akan meningkat dari 105,1 juta barel per hari pada 2025 menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan energi global masih terus tumbuh seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, industrialisasi negara berkembang, serta tingginya konsumsi sektor transportasi dan petrokimia.
Namun, pertumbuhan permintaan itu diperkirakan tidak cukup cepat untuk menyerap lonjakan pasokan yang akan datang dalam waktu dekat.
Saat ini, fokus pasar terletak pada seberapa cepat minyak dapat kembali membanjiri pasar. Selama Selat Hormuz tetap terbuka dan koordinasi antara Iran, Amerika Serikat, serta negara-negara produsen berjalan lancar, tekanan penurunan harga masih akan mendominasi.
Setiap pernyataan yang menunjukkan kelancaran distribusi, berpotensi menekan harga lebih jauh.
Sebaliknya, apabila Iran kembali memperketat aturan pelayaran atau muncul gangguan baru di jalur strategis tersebut, premi risiko akan kembali masuk ke dalam harga minyak dan memicu kenaikan sementara.(*)