KABARBURSA.COM - Bank Indonesia mencatat laju pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami perlambatan. Di saat bersamaan, rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) turut menyusut menjadi 29,5 persen, menandai perbaikan struktur pembiayaan eksternal nasional.
Nilai ULN Indonesia pada periode tersebut mencapai 433,4 miliar dolar AS. Secara tahunan atau year on year (yoy), pertumbuhannya tercatat sebesar 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan capaian triwulan IV 2025 yang tumbuh 1,9 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa dinamika tersebut dipengaruhi oleh perkembangan ULN sektor publik maupun sektor swasta.
Dari sisi pemerintah, posisi ULN pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 214,7 miliar dolar AS. Angka itu tumbuh 3,8 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan 5,5 persen pada triwulan IV 2025.
Pergerakan ULN pemerintah terutama dipicu derasnya aliran modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Fenomena tersebut merefleksikan masih terjaganya keyakinan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah lanskap ekonomi dunia yang berfluktuasi.
Sebagai instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, pengelolaan ULN pemerintah disebut dilakukan secara prudent, terukur, dan akuntabel. Pemanfaatannya terus diarahkan guna menopang belanja prioritas nasional sekaligus menjaga akselerasi pertumbuhan ekonomi domestik.
Berdasarkan klasifikasi sektoral, ULN pemerintah paling banyak dialokasikan untuk sektor jasa kesehatan dan aktivitas sosial dengan porsi 22,1 persen dari total ULN pemerintah. Selanjutnya, administrasi pemerintahan, pertahanan, serta jaminan sosial wajib menyerap 20,2 persen. Sektor pendidikan memperoleh 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, sementara transportasi dan pergudangan menerima alokasi sebesar 8,5 persen.
Komposisi ULN pemerintah masih sangat didominasi utang berjangka panjang dengan pangsa nyaris absolut, yakni mencapai 99,99 persen dari keseluruhan total ULN pemerintah.
Di sisi lain, ULN swasta pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 191,4 miliar dolar AS. Nilai tersebut menurun dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 194,2 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi sebesar 1,8 persen.
Koreksi tersebut terjadi baik pada kelompok lembaga keuangan (financial corporations) maupun perusahaan nonkeuangan (nonfinancial corporations). Masing-masing mengalami kontraksi tahunan sebesar 3,6 persen dan 1,3 persen.
Ditinjau dari sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 80,4 persen dari total ULN swasta.
Struktur ULN swasta juga masih didominasi utang berjangka panjang dengan proporsi mencapai 76,6 persen terhadap keseluruhan ULN swasta.
Bank Indonesia menilai struktur ULN nasional tetap berada dalam kategori sehat. Stabilitas tersebut ditopang penerapan prinsip kehati-hatian dalam tata kelola utang eksternal.
Rasio ULN terhadap PDB tercatat turun dari 30,0 persen pada triwulan IV 2025 menjadi 29,5 persen pada triwulan I 2026. Selain itu, struktur ULN Indonesia masih didominasi kewajiban jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,4 persen dari total keseluruhan utang luar negeri.
Untuk menjaga soliditas struktur ULN, Bank Indonesia bersama pemerintah terus mempererat koordinasi dalam memantau dinamika utang eksternal nasional.
“Peran ULN juga terus dioptimalkan guna menopang pembiayaan pembangunan serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Langkah tersebut ditempuh dengan tetap meminimalkan berbagai risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian,” ujar Ramdan Denny Prakoso.(*)