KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia kembali menguat, memulihkan diri dari tekanan awal perdagangan setelah Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump "tidak senang" atas serangan terbaru Rusia terhadap Ukraina yang menggunakan rudal dan drone.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober 2025 ditutup naik 57 sen atau sekitar 0,8 persen, menetap di level USD68,62 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk periode yang sama menambahkan 45 sen atau 0,7 persen, ke posisi USD64,60 per barel.
Aksi militer Rusia kembali memicu ketegangan global. Serangan udara pada Kamis pagi menghantam ibu kota Ukraina, Kyiv, menewaskan sedikitnya 21 warga sipil, menurut pejabat setempat. Sebagai balasan, militer Ukraina melancarkan serangan drone terhadap dua kilang minyak di wilayah Rusia pada malam hari sebelumnya.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa Trump akan menyampaikan pernyataan resmi terkait insiden ini pada Kamis malam. Sentimen pasar pun berbalik arah. Harga minyak yang sempat merosot hampir 1% di awal sesi, berbalik menguat setelah pernyataan itu beredar.
Faktor geopolitik bukan satu-satunya perhatian. India kini berada dalam tekanan diplomatik dari Amerika Serikat agar menghentikan impor minyak dari Rusia, menyusul langkah Trump yang menggandakan tarif impor barang dari India hingga 50 persen sehari sebelumnya.
Namun pasar tampaknya tak gentar. Eksportir memperkirakan pengiriman minyak Rusia ke India akan melonjak pada bulan September, mengisyaratkan penolakan terhadap tekanan Barat.
Meski begitu, tekanan harga masih terasa. Pada awal perdagangan, pasar sempat lesu akibat proyeksi turunnya permintaan bahan bakar pasca libur panjang Hari Buruh di AS. Di sisi lain, pasokan global juga bersiap bertambah.
Aliansi produsen minyak OPEC+ mengonfirmasi rencana untuk menambah pasokan sebesar 547.000 barel per hari mulai bulan depan. Kombinasi antara melemahnya permintaan dan lonjakan produksi diperkirakan akan mendorong kenaikan cadangan minyak global.
Menurut catatan Ritterbusch and Associates, kondisi ini dapat menekan harga kontrak minyak di berbagai tenor, terlebih memasuki musim gugur. Permintaan bensin yang melemah serta transisi kilang menuju produksi bahan bakar musim dingin yang cenderung lebih murah, menjadi faktor penekan tambahan.
Di sisi lain, pasokan dari Rusia juga menunjukkan tanda pemulihan. Jalur pipa Druzhba, yang sempat terganggu akibat serangan Ukraina pekan lalu, kini kembali mengalir normal ke Hongaria dan Slovakia. Informasi ini dikonfirmasi oleh perusahaan energi Hongaria, MOL, serta Kementerian Ekonomi Slovakia pada Kamis.(*)