KABARBURSA.COM – Indonesia tampaknya tak ingin terus-menerus menjadi penonton dalam perebutan pasar mineral strategis dunia. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai pemasok bahan mentah, kini ambisi yang dipasang jauh lebih besar, yakni mengolah Logam Tanah Jarang (LTJ) hingga bernilai tinggi dan siap masuk pasar komersial.
Targetnya tidak main-main. Hilirisasi LTJ nasional diharapkan sudah mampu mencapai skala komersial pada 2028 melalui pengembangan teknologi pengolahan monasit yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Agenda tersebut mengemuka dalam kunjungan teknis dan pertemuan kolaborasi strategis antara Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di fasilitas Pilot Plant Plutho, Kawasan Sains dan Teknologi GA Siwabessy, Pasar Jumat, Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.
Bagi BRIN, fasilitas Pilot Plant Plutho bukan sekadar laboratorium biasa. Tempat ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan hasil riset laboratorium dengan kebutuhan industri dalam skala yang lebih besar.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Kurnia Setiawan Widana, menjelaskan fasilitas yang beroperasi sejak 2017 tersebut difokuskan untuk mengolah monasit asal Bangka yang dikenal memiliki kandungan logam tanah jarang cukup tinggi.
“Target utama kami adalah memisahkan kandungan uranium dan torium agar diperoleh produk Mixed Rare Earth yang bebas radioaktif,” ujar Kurnia, dikutip dari laman BRIN, 24 Juni 2026.
Menurut dia, BRIN saat ini sedang melakukan revitalisasi sekaligus modifikasi proses pengolahan guna meningkatkan kinerja fasilitas agar siap memasuki tahap demonstrasi industri. “Kolaborasi dengan institusi akademis seperti UTP sangat krusial, terutama untuk memperkuat basis riset melalui keterlibatan akademisi dan mahasiswa,” jelasnya.
Dalam pemaparan teknis, Peneliti Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Riesna Prassanti, mengungkapkan Pilot Plant Plutho memiliki kapasitas pengolahan hingga 50 kilogram monasit dalam setiap batch produksi.
Proses pengolahan dilakukan menggunakan metode basa dengan natrium hidroksida atau NaOH untuk memisahkan kandungan fosfat dari mineral monasit. “Kandungan monasit terdiri dari sekitar 25 persen fosfat, 60 persen logam tanah jarang, serta unsur torium dan uranium,” kata Riesna.
Setelah melewati tahapan dekomposisi, filtrasi, hingga pengendapan menggunakan amonium hidroksida, fasilitas tersebut mampu menghasilkan hidroksida logam tanah jarang yang telah bebas dari unsur radioaktif.
Produk tersebut kemudian dikirim ke fasilitas BRIN di Yogyakarta untuk menjalani proses pemurnian lanjutan hingga menjadi unsur individual seperti lantanum, serium, dan neodimium dengan tingkat kemurnian mencapai 99 persen.
Di tengah persaingan global untuk menguasai rantai pasok mineral strategis, capaian tersebut menarik perhatian Universiti Teknologi Petronas Malaysia. Kampus tersebut membuka peluang kerja sama dengan BRIN untuk mengintegrasikan teknologi hijau dalam proses pemisahan mineral.
Pihak UTP menilai penggunaan bahan kimia dalam proses pengolahan perlu terus ditekan melalui pengembangan teknologi pemisahan berbasis fisik maupun membran yang saat ini tengah mereka kembangkan.
Kolaborasi antara keunggulan hidrometalurgi milik BRIN dan inovasi teknologi ramah lingkungan dari UTP diharapkan mampu mempercepat pengembangan industri mineral strategis di kawasan regional.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan rantai pasok mineral dunia yang semakin ketat. Apalagi kebutuhan logam tanah jarang terus meningkat seiring berkembangnya industri kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga teknologi pertahanan.
Dengan dukungan industri nasional dan badan usaha milik negara yang bergerak di sektor mineral strategis, teknologi yang sedang dimatangkan di Pilot Plant Plutho diharapkan menjadi fondasi penting bagi kemandirian industri logam tanah jarang Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Mengubah Monasit Menjadi Emas Teknologi
Jika fasilitas riset Pilot Plant Plutho milik BRIN berfungsi sebagai "dapur teknologi" untuk memecahkan kode pemisahan unsur tanah jarang dari mineral monasit, maka PT Timah Tbk (TINS) adalah aktor utama yang memegang mandat untuk mentransformasikan riset tersebut menjadi instrumen bisnis komersial berskala industri.
Bagi sebagian besar pelaku pasar modal, PT Timah Tbk selama ini hanya dipandang sebagai produsen timah konvensional hulu. Namun, tesis investasi terbaru menunjukkan bahwa perseroan tengah melakukan transformasi kasta bisnis secara radikal dengan mengintegrasikan komoditas mineral ikutan ke dalam arus pendapatan utama.
Langkah ini bukanlah sebuah ambisi korporasi yang berdiri sendiri, melainkan perwujudan dari arah kebijakan strategis nasional yang dititahkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam arahan tertulis dan lisan yang disampaikan kepada jajaran manajemen perusahaan, Presiden Prabowo menginstruksikan agar setiap potensi mineral kritis yang terkandung dalam rantai pasok pertambangan nasional tidak lagi hanya menjadi komoditas mentah yang diekspor tanpa nilai tambah.
Monasit, yang selama puluhan tahun terabaikan sebagai limbah pasir timah, kini ditetapkan sebagai critical mineral yang harus dikelola secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan industri teknologi tinggi di dalam negeri.
TINS secara resmi telah merespons titah pemerintah dengan menyusun peta jalan eksekusi yang agresif. Direktur Utama PT Timah Tbk, Restu Widiyantoro menegaskan bahwa persiapan pembangunan fasilitas pemrosesan monasit sudah mencapai tahap finalisasi teknis.
"Groundbreaking-nya akan dilakukan tanggal 20 Mei dan Pak Presiden sudah memerintahkan harus monetisasi selama paling cepat atau paling lambat dua tahun harus ada produk monetisasinya. Artinya sudah bisa menghasilkan uang untuk negara,” kata Restu.
Pernyataan ini menjadi konfirmasi bagi investor bahwa TINS bukan sekadar berwacana. Dengan target waktu dua tahun pasca-pembangunan, perseroan memproyeksikan pabrik pemurnian tanah jarang tersebut mulai menghasilkan kontribusi arus kas secara komersial penuh pada tahun buku 2028. Percepatan ini menempatkan TINS sebagai satu-satunya emiten pertambangan pelat merah yang memiliki kendali penuh atas infrastruktur pemisahan mineral tanah jarang dari hulu ke hilir.
Untuk memastikan kesuksesan operasionalnya, TINS tidak hanya mengandalkan riset mandiri. Perseroan telah menjajaki aliansi strategis dengan entitas BUMN energi, Perminas, untuk menciptakan rantai pasok yang terintegrasi. Sinergi ini dirancang untuk membidik pembeli strategis di pasar ekspor Asia dan Eropa yang saat ini sedang mengalami krisis pasokan mineral kritis akibat restriksi ekspor dari produsen global utama.
Dengan memposisikan monasit sebagai critical mineral yang diolah secara bersih menggunakan teknologi hijau hasil kolaborasi riset BRIN dan UTP Malaysia, TINS tidak hanya sedang mengejar margin keuntungan perusahaan. Lebih dari itu, TINS sedang membangun posisi tawar Indonesia sebagai penyeimbang dominasi rantai pasok global.
Bagi investor, transisi TINS ini merupakan katalis positif di tengah industri pertambangan timah tradisional, di mana perusahaan kini memiliki dua mesin penggerak sekaligus, yakni stabilitas arus kas dari timah konvensional, dan potensi upside valuasi masif dari pemurnian logam tanah jarang yang siap menjadi komoditas masa depan. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.