KABARBURSA.COM – Investor yang mengincar dividen PT Timah Tbk (TINS) masih memiliki waktu yang tidak banyak. Dengan jadwal cum dividen di pasar reguler pada 23 Juni 2026, tersisa dua hari perdagangan bagi investor untuk masuk agar berhak memperoleh dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp88,19 per saham.
Namun daya tarik TINS saat ini tampaknya tidak hanya datang dari pembagian dividen. Di tengah tren kenaikan harga saham dalam sepekan terakhir, konsensus analis juga masih menunjukkan optimisme terhadap prospek emiten tambang timah pelat merah tersebut.
Kombinasi antara dividen tunai dan potensi kenaikan harga saham inilah yang membuat TINS menarik untuk dicermati menjelang berakhirnya periode cum dividen.
Pembagian dividen tersebut merupakan hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 12 Juni 2026. Dalam keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen TINS menyampaikan bahwa pemegang saham menyetujui penggunaan sebagian laba bersih tahun buku 2025 untuk dibagikan sebagai dividen tunai.
“Menyetujui penetapan penggunaan laba bersih Tahun Buku 2025 sebesar Rp656.815.139.890 sebagai dividen,” tulis perseroan dalam keterbukaan informasi tertanggal 15 Juni 2026.
Nilai tersebut setara dengan dividen Rp88,19 per saham yang akan diterima pemegang saham yang tercatat pada tanggal pencatatan atau recording date. Keputusan tersebut juga menunjukkan komitmen perseroan untuk tetap memberikan imbal hasil kepada investor meskipun industri pertambangan masih menghadapi dinamika harga komoditas global.
Berdasarkan jadwal resmi yang diumumkan perseroan, akhir periode perdagangan saham dengan hak dividen atau cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 23 Juni 2026. Sementara tanggal ex dividen ditetapkan pada 25 Juni 2026. Adapun recording date berlangsung pada 25 Juni 2026 dan pembayaran dividen dijadwalkan pada 10 Juli 2026.
Artinya, investor yang ingin memperoleh dividen tunai masih memiliki kesempatan membeli saham TINS hingga perdagangan 23 Juni 2026. Setelah melewati tanggal tersebut, investor baru yang masuk tidak lagi berhak atas pembagian dividen tahun buku 2025.
Berapa Besar Imbal Hasil Dividennya?
Dengan harga saham TINS yang berada di level Rp3.490 per saham pada penutupan perdagangan terakhir, dividen Rp88,19 per saham menghasilkan dividend yield sekitar 2,53 persen. Secara matematis, angka tersebut memang belum tergolong tinggi dibandingkan sejumlah emiten yang dikenal sebagai pembagi dividen jumbo. Namun daya tarik TINS tidak semata-mata berada pada besaran yield saat ini.
Yang lebih menarik justru muncul dari ekspektasi pasar terhadap prospek harga saham ke depan. Di tengah momentum pembagian dividen, sentimen positif juga datang dari konsensus analis. Berdasarkan data yang dihimpun dari 12 analis, seluruhnya masih memberikan rekomendasi buy terhadap saham TINS. Tidak ada satu pun analis yang memberikan rekomendasi hold maupun sell.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar institusi masih memandang prospek bisnis TINS cukup menarik dalam jangka menengah. Kesepakatan bulat dari para analis relatif jarang terjadi pada saham-saham sektor komoditas yang umumnya sensitif terhadap fluktuasi harga global.
Optimisme analis juga tercermin dari target harga yang dipasang. Konsensus menunjukkan target harga rata-rata TINS berada di level Rp4.597 per saham. Sementara target tertinggi mencapai Rp5.100 dan target terendah berada di Rp4.190.
Jika dibandingkan dengan harga pasar saat ini sebesar Rp3.490, target konsensus tersebut mengindikasikan potensi kenaikan atau upside sekitar 31,7 persen. Dengan kata lain, investor yang masuk saat ini secara teoritis tidak hanya berpeluang memperoleh dividen tunai Rp88,19 per saham, tetapi juga masih memiliki peluang mendapatkan capital gain apabila harga saham bergerak menuju target analis.
Inilah yang membuat TINS berpotensi menawarkan apa yang sering disebut investor sebagai “cuan ganda”, yakni kombinasi pendapatan dividen dan potensi apresiasi harga saham.
Optimisme terhadap TINS tidak bisa dilepaskan dari posisi perseroan sebagai salah satu produsen timah terbesar di Indonesia yang memiliki eksposur langsung terhadap pergerakan harga komoditas timah global. Selain itu, keputusan perusahaan membagikan sekitar Rp656,8 miliar dividen menunjukkan kondisi profitabilitas dan arus kas yang cukup sehat.
Payout ratio yang mendekati separuh laba bersih juga sering dipandang pasar sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap keberlanjutan bisnis ke depan. Bagi investor, sinyal semacam ini sering kali memiliki arti yang lebih penting dibanding sekadar nominal dividen yang dibagikan.
Risiko Tetap Ada
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko. Harga timah dunia masih sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global, aktivitas manufaktur, serta permintaan dari sektor elektronik dan teknologi. Perubahan sentimen terhadap komoditas dapat memengaruhi kinerja emiten tambang, termasuk TINS.
Selain itu, saham yang memasuki periode ex dividen juga kerap mengalami penyesuaian harga. Secara teori, harga saham dapat turun mendekati nilai dividen yang dibagikan karena hak dividen telah terlepas dari saham tersebut. Karena itu, strategi berburu dividen semata tanpa memperhatikan prospek fundamental dan valuasi saham berpotensi menimbulkan risiko tersendiri.
Menjelang berakhirnya periode cum dividen pada 23 Juni 2026, TINS menawarkan dua daya tarik sekaligus bagi investor. Di satu sisi, pemegang saham berhak memperoleh dividen tunai Rp88,19 per saham yang akan dibayarkan pada 10 Juli mendatang. Di sisi lain, konsensus analis masih mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga rata-rata Rp4.597 per saham atau sekitar 31,7 persen di atas harga pasar saat ini.
Dengan kata lain, bagi investor yang percaya pada prospek bisnis timah dan kinerja perseroan, cerita TINS saat ini bukan hanya soal dividen, melainkan juga soal peluang memperoleh capital gain setelah musim pembagian dividen berakhir.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.