Logo
>

Deloitte Soroti Physical AI Mulai Masuk Industri, Emiten Jangan Sampai Ketinggalan

Deloitte ungkap Physical AI mulai masuk industri global, emiten Indonesia perlu siapkan fondasi agar tidak tertinggal transformasi teknologi.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Deloitte Soroti Physical AI Mulai Masuk Industri, Emiten Jangan Sampai Ketinggalan
Deloitte soroti Physical AI yang mulai masuk industri, emiten RI diminta siap agar tak tertinggal dalam transformasi manufaktur dan teknologi. Foto: Dok. Ahha.ai

KABARBURSA.COM — Teknologi kecerdasan buatan (AI) tak lagi berhenti di layar. Laporan terbaru Deloitte menunjukkan Physical AI mulai bergerak dari tahap uji coba menuju implementasi nyata di sektor industri, khususnya manufaktur dan logistik.

Dalam laporan berjudul Physical AI The Moment of Acceleration, Deloitte menggambarkan teknologi ini sebagai perpaduan antara sistem fisik dan kecerdasan buatan yang kini mulai diterapkan secara luas. Robot industri menjadi arena awal pembuktian, sekaligus fondasi untuk membangun sistem produksi yang lebih cerdas.

Meski begitu, adopsinya masih tergolong awal. Dari lebih dari 3.000 eksekutif global yang disurvei, baru sekitar 5 persen yang menyatakan teknologi ini sudah mentransformasi organisasinya. Namun, 41 persen meyakini dampaknya akan terasa dalam tiga tahun ke depan.

Hal serupa terlihat dari tingkat integrasi. Saat ini baru 3 persen perusahaan yang benar-benar mengadopsi Physical AI secara menyeluruh. Dalam dua tahun, angka itu diperkirakan melonjak menjadi 18 persen.

Di lapangan, penggunaan robot industri terus meningkat. Pada 2024, jumlahnya sudah melampaui 500.000 unit dan diperkirakan naik menjadi 700.000 unit pada 2028. Robot kolaboratif juga tumbuh cepat dengan pemasangan sekitar 65.000 unit.

Proyeksi yang lebih jauh bahkan menunjukkan lonjakan yang jauh lebih besar. Jumlah robot global diperkirakan mencapai 1,3 miliar unit pada 2035, dengan semakin banyak di antaranya dilengkapi kecerdasan buatan fisik.

Deloitte melihat momen ini sebagai titik balik dalam transformasi industri. “Physical AI menandai momen di mana kecerdasan tidak lagi hanya ada di layar tapi hadir secara nyata, mengubah pabrik menjadi sistem yang bisa merasakan, berpikir, dan terus belajar. Organisasi-organisasi yang sudah bergerak sekaranglah yang akan menentukan standar, keterampilan, dan cara kerja industri selama sepuluh tahun ke depan,” ujar Chris Lewin dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com, Senin, 13 April 2026.

Namun, laporan ini juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya teknologi, melainkan kesiapan organisasi. Banyak perusahaan dinilai belum memiliki fondasi operasional yang cukup untuk mengadopsi sistem ini secara optimal.

“Ada faktor-faktor kesiapan internal yang menentukan seberapa efektif sebuah bisnis dalam menerapkan dan mengembangkan solusi Physical AI. Keberhasilan implementasi bukan hanya soal mengadopsi teknologi, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi,” katanya.

Artinya, tanpa kesiapan sumber daya manusia, alur kerja, dan sistem organisasi, teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan dampak maksimal. Deloitte menilai keterlambatan dalam mengadopsi Physical AI bisa membuat perusahaan kehilangan peluang efisiensi sekaligus tertinggal dalam pembelajaran teknologi. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi melemahkan daya saing.

Untuk itu, perusahaan diminta mulai mengevaluasi kesiapan internal, mulai dari kematangan teknologi, fondasi operasional, hingga kesiapan tenaga kerja.

Di sisi lain, Deloitte juga mulai mempercepat pengembangan ekosistem teknologi ini. Salah satunya dengan membangun Physical AI Center of Excellence di Shanghai yang ditujukan untuk membantu perusahaan beralih dari tahap uji coba menuju implementasi skala penuh.

CEO Deloitte Asia Pacific, David Hill, mengatakan langkah ini bertujuan mempercepat adopsi teknologi sekaligus meminimalkan risiko operasional. “Para pionir dan pelaku Physical AI yang saat ini bekerja keras di fasilitas produksinya masing-masing pada dasarnya akan menentukan standar dan membentuk aturan main persaingan industri untuk dekade ke depan,” ujarnya.

Emiten RI Mulai Sentuh Physical AI

Perkembangan Physical AI yang mulai masuk ke tahap implementasi global juga membuka pertanyaan lanjutan bagi Indonesia. Sejauh mana industri dalam negeri siap menyambut pergeseran ini, dan siapa saja pemain yang berpotensi mengambil peran.

Di pasar modal, belum ada emiten yang secara spesifik menjadi pemain Physical AI secara utuh. Namun, sejumlah perusahaan mulai membangun fondasi yang mengarah ke sana, baik dari sisi kecerdasan buatan, otomasi industri, maupun infrastruktur digital.

Di lapisan teknologi, PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) mulai menunjukkan posisi sebagai penyedia “otak” dalam ekosistem ini. Perusahaan ini telah mengembangkan berbagai solusi berbasis kecerdasan buatan di sektor bisnis, mulai dari cloud hingga keamanan siber. Dalam konteks Physical AI, peran seperti ini menjadi krusial karena sistem fisik tetap membutuhkan integrasi kecerdasan sebagai pengendali utama.

Sementara itu, di sektor manufaktur, implementasi sudah lebih nyata. PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) menjadi salah satu contoh perusahaan yang mulai mengadopsi otomasi produksi dan sistem pabrik cerdas. Integrasi antara mesin, data, dan sistem produksi menunjukkan arah menuju model operasi yang lebih adaptif dan efisien.

Hal serupa juga terlihat di industri berat. PT Krakatau Steel Tbk atau KRAS, misalnya, telah melakukan modernisasi melalui otomasi dan digitalisasi proses produksi. Dalam industri seperti baja, peningkatan presisi dan efisiensi menjadi faktor utama, dan teknologi berbasis Physical AI berpotensi mempercepat transformasi tersebut.

Di sisi lain, fondasi digital tetap menjadi elemen yang tidak terpisahkan. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memainkan peran sebagai penyedia infrastruktur, mulai dari konektivitas hingga pengolahan data. Dalam skema Physical AI, kebutuhan terhadap jaringan, cloud, dan analitik data menjadi tulang punggung yang menentukan keberhasilan implementasi.

Di antara lapisan tersebut, terdapat pula pemain yang berperan sebagai penghubung. PT Galva Technologies Tbk (GLVA), misalnya, bergerak di bidang solusi teknologi dan integrasi sistem yang menjembatani perangkat keras dan perangkat lunak. Peran ini menjadi penting dalam memastikan teknologi dapat berjalan secara terintegrasi di lingkungan industri.

Jika ditarik lebih luas, pola ini menunjukkan bahwa ekosistem Physical AI di Indonesia masih terfragmentasi. Setiap emiten bergerak di bagian tertentu, belum terkonsolidasi dalam satu rantai nilai yang utuh.

Namun justru di situlah peluangnya. Ketika tren global mulai bergerak menuju integrasi antara kecerdasan buatan dan sistem fisik, perusahaan yang lebih dulu menghubungkan potongan-potongan ini berpotensi menjadi pemain kunci dalam transformasi industri ke depan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).