KABARBURSA.COM — Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Menteri Perdagangan era Presiden Joko Widodo (Jokowi), Thomas Lembong atau Tom Lembong, memberikan peringatan keras perihal kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini. Ia menilai Indonesia tengah menghadapi situasi yang paling berisiko dalam dua dekade terakhir, yang diperparah oleh beban utang dari proyek-proyek infrastruktur era Jokowi yang dianggap tidak produktif.
Dalam wawancara di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Tom Lembong menyatakan kombinasi krisis energi global dan beban domestik membuat posisi Indonesia sangat rapuh.
"Ini mungkin situasi yang paling parah ya, yang paling rawan dalam 20 tahun. Kita belum pernah mengalami situasi serawan ini hemat saya dalam 20 tahun terakhir," ujar Tom, seperti dilihat di Channel YouTube tersebut, Jumat, 8 Mei 2026.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan pandemi 2020. Menurutnya, saat pandemi semua negara berada di posisi yang sama, namun kali ini Indonesia harus menanggung "warisan" yang mempersempit ruang gerak fiskal.
"Negara lain tidak menanggung warisan utang dari pemerintahan sebelumnya seperti kita. Negara lain, negara tetangga, tidak menanggung struktur dan orientasi kebijakan yang begitu membebani APBN," katanya.
Tom Lembong secara spesifik menyoroti pembangunan infrastruktur masif di era Presiden Jokowi yang menurutnya gagal memberikan imbal hasil ekonomi yang optimal bagi negara. Ia mengistilahkan proyek tersebut sebagai proyek yang memiliki "wow factor" secara visual namun keropos secara finansial.
"Begitu banyak jalan tol, ya memang keren sekali kelihatannya, apalagi pakai drone... tapi ternyata sekarang omset yang dihasilkan oleh jalan tol-jalan tol ini jauh di bawah proyeksi keuangan saat itu," jelasnya.
Hal senada juga ia sampaikan mengenai proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Ia menyebut proyek mega tersebut kini mengancam posisi keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) karena besarnya kerugian operasional tahunan. "Aset-aset yang dibangun dengan utang tersebut ternyata tidak menghasilkan penghasilan, pendapatan, dan dari situ juga harusnya kan menghasilkan pajak bagi pemerintah," tegas Tom.
Ketinggalan Kereta dari Negara Tetangga
Lebih lanjut, Tom mengkritik arah kebijakan ekonomi Indonesia yang terlalu fokus pada komoditas mineral dan sumber daya alam, sementara negara tetangga sudah masuk ke sektor teknologi masa depan seperti semikonduktor dan AI.
Ia mencontohkan Malaysia yang kini menjadi eksportir semikonduktor nomor 5 atau 6 terbesar di dunia dengan populasi penduduk hanya 30 juta. Lalu Thailand yang menguasai 80 persen manufaktur hard disk dunia.
"Fakta-fakta seperti ini banyak publik tidak tahu, bahwa kita ketinggalan kereta. Kita kehilangan peluang karena kita ngincer hal-hal sektor-sektor yang ternyata tidak relevan atau tidak sebagus yang kita pikir. Sementara negara-negara tetangga menempatkan kebijakannya pada sektor-sektor yang (ternyata) memang benar, (baik itu) chip, elektronik buat data center dan sebagainya," katanya.
Tom Lembong pun mendesak pemerintah, khususnya Menteri Keuangan, untuk lebih berani menghadapi realitas ketimbang terus menebar narasi optimisme yang tidak sesuai dengan data di pasar, seperti melemahnya nilai tukar rupiah.
"Kepercayaan itu kan datangnya dari kejujuran. Dan kalau terjadi inkonsistensi, terjadi kontradiksi antara pernyataan pejabat dengan realita yang di depan mata, itu semacam bentuk ketidakjujuran," ujarnya.
Ia bahkan secara gamblang menyatakan keraguannya terhadap daya tahan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun jika tren saat ini terus berlanjut. "Patut diragukan dengan tren yang ada sekarang, apakah kita bisa bertahan sampai akhir tahun? Dari segi peluang fiskal, dari segi neraca pembayaran nasional dan struktur, dan arus modal, termasuk utang negara," katanya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.