Logo
>

Di Tengah Konflik yang Ditimbulkan AS, China Tawarkan Stabilitas ke Investor Global

Beijing tampil lebih percaya diri di forum bisnis global, dorong narasi stabilitas saat geopolitik memanas dan harga energi melonjak.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Di Tengah Konflik yang Ditimbulkan AS, China Tawarkan Stabilitas ke Investor Global
China tawarkan stabilitas ke investor global di tengah konflik AS dan ketidakpastian ekonomi dunia dalam forum bisnis Beijing 2026. Foto: Xinhua

KABARBURSA.COM — Di tengah situasi geopolitik yang terus bergejolak, China mencoba menempatkan diri sebagai jangkar stabilitas. Pesan itu disampaikan kepada para eksekutif perusahaan global yang menghadiri forum bisnis tahunan China Development Forum di Beijing pekan ini.

Para pemimpin perusahaan dari berbagai negara mendapat jaminan bahwa ekonomi terbesar kedua dunia itu tetap menjadi mitra yang dapat diprediksi, bahkan ketika ketidakpastian global meningkat. Forum yang berakhir pada Senin itu memperlihatkan perubahan nada yang cukup mencolok dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Analis menilai, pendekatan pemerintah China kali ini lebih percaya diri. Jika sebelumnya, terutama setelah pandemi, pejabat lebih banyak menekankan pemulihan dan dukungan kebijakan, kini fokusnya bergeser pada kekuatan internal dan peluang kerja sama.

“Dibandingkan forum sebelumnya, pesan China kali ini paling percaya diri,” kata Direktur China di perusahaan konsultan strategi asal Amerika Serikat, The Asia Group, Han Lin, dikutip dari Reuters, Selasa, 24 Maret 2026.

Ia menilai pidato pembukaan Perdana Menteri Li Qiang menyoroti langkah-langkah konkret China dalam mendorong inovasi dan perdagangan, meski tetap mengakui adanya tantangan global. Tanpa menyebut Amerika Serikat secara langsung, China tetap menyiratkan posisi strategisnya dalam sistem ekonomi dunia.

Momentum forum ini tak bisa dilepaskan dari konteks global yang tengah memanas. Hampir setahun setelah perang dagang yang kembali memanas dan di tengah rencana pertemuan yang tertunda antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hubungan Beijing dan Washington masih berada dalam tekanan.

Di sisi lain, China juga menghadapi hambatan perdagangan dari berbagai negara, seiring surplus perdagangan yang mencetak rekor hingga USD1,2 triliun atau setara Rp20.220 triliun.

Situasi makin kompleks setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga energi dunia. Dampaknya merambat ke berbagai sektor ekonomi global. Dalam konteks ini, China mencoba memanfaatkan momentum dengan menegaskan diri sebagai negara yang menghormati kedaulatan dan tatanan internasional berbasis aturan.

Komposisi peserta forum juga mencerminkan perubahan lanskap geopolitik. Tahun ini, lebih banyak eksekutif perusahaan Amerika Serikat yang hadir dibanding tahun sebelumnya.

Beberapa nama besar terlihat hadir, mulai dari pimpinan Apple, McDonald’s, Eli Lilly, Tapestry, hingga Mastercard. Kehadiran mereka memberi sinyal bahwa meskipun hubungan politik kedua negara tegang, jalur bisnis tetap dijaga.

Kondisi berbeda justru terlihat dari absennya eksekutif Jepang. Padahal pada forum tahun lalu, mereka sempat terlibat aktif, termasuk dalam pertemuan yang cukup disorot antara CEO global dan Presiden Xi Jinping. Ketidakhadiran tahun ini terjadi di tengah hubungan diplomatik yang memburuk antara Beijing dan Tokyo.

China Dorong Narasi Stabilitas

Isu stabilitas kembali menjadi tema utama dalam forum tahun ini. Namun, resonansinya terasa lebih kuat dibanding tahun lalu.

Menurut Albert Hu, profesor ekonomi di China Europe International Business School di Shanghai, situasi global saat ini membuat pesan tersebut lebih mudah diterima.

“Mengingat kebijakan Donald Trump yang tidak menentu dan ketidakpastian yang ditimbulkannya terhadap ekonomi dunia, pesan China sebagai kekuatan penstabil kemungkinan lebih diterima tahun ini dibanding tahun lalu,” ujarnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian peserta adalah kemungkinan pertemuan langsung antara Presiden Xi Jinping dengan para CEO global. Namun hingga forum berakhir, belum ada kepastian apakah pertemuan tersebut akan digelar.

Han Lin menilai, penundaan itu lebih terkait strategi waktu, bukan karena keengganan. “Saya pikir Xi berniat bertemu para CEO, tetapi setelah kunjungan Trump. Beijing ingin kesepakatan dagang ditentukan di level pemimpin terlebih dahulu, baru kemudian perusahaan multinasional mendapat sinyal arah selanjutnya,” katanya.

Dalam forum ini, pemerintah China juga menegaskan kembali tiga pilar utama strategi jangka menengahnya. Fokus diarahkan pada kemandirian teknologi, peningkatan kapasitas industri, serta pembangunan berkualitas tinggi.

Ketiga agenda tersebut menjadi bagian penting dari rencana lima tahun terbaru yang dirilis bulan ini, sekaligus menjadi tema besar forum tahun ini. Namun tidak semua peserta pulang dengan kesan positif. Sejumlah pelaku usaha menilai forum tersebut semakin kaku dan birokratis.

“Pertemuan ini semakin birokratis. Saya memutuskan memperpendek kunjungan dan pulang lebih cepat,” kata seorang eksekutif senior dari jaringan hotel internasional.

Ia bahkan menyebut daya tarik forum mulai memudar. “CDF mulai kehilangan pesonanya. Saya berharap bisa mengikuti sesi yang menarik, tetapi ternyata sangat birokratis dan buang-buang waktu,” ujarnya.

Di tengah tarik ulur geopolitik global, China tampaknya berupaya memainkan peran ganda. Di satu sisi ingin tampil sebagai penyeimbang sistem internasional, di sisi lain tetap menjaga kepentingan strategisnya dalam persaingan global yang kian tajam.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).