KABARBURSA.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberi peringatan keras kepada para pelaku usaha hulu migas (Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau K3S) dan internal SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi).
Bahlil meminta seluruh pihak bergerak cepat mengeksekusi wilayah kerja yang sudah mengantongi izin dan rencana pengembangan (Plan of Development/POD) demi menggenjot produksi siap jual (lifting) nasional.
Pasalnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan lifting minyak bumi Indonesia bisa kembali menyentuh angka 900.000 hingga 1 juta barel per hari (barrel per day) pada periode 2029–2030. Target ambisius ini dianggap sulit tercapai jika dari sisi birokrasi dan eksekusi di lapangan masih berjalan di tempat.
“Kami pemerintah meminta tolong agar semua teman-teman yang telah mendapatkan izin konsesi yang sudah lama dipegang dan sudah selesai POD, tolong segera dieksekusi. Ada masalah apa tolong dikabari,” kata Bahlil dalam forum pembukaan dan peresmian IPA Convention and Exhibition 2026, dikutip Kamis, 21 Mei 2026.
Bahlil menginstruksikan Kepala SKK Migas membereskan jajarannya yang kedapatan memperlambat proses perizinan atau birokrasi bagi pengusaha.
“Saya sudah minta kepada kepala SKK Migas, kalau ada yang masih lambat di bawah, ganti orangnya. Jangan bikin pusing. Ini kata Pak Presiden Prabowo itu deep state. Tetapi kalau pengusahanya yang agak nakal, tertibkan mereka. Karena kita butuh yang baik semuanya,” pungkasnya.
Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia masih mengalami defisit energi. Untuk bensin (gasoline), kebutuhan nasional mencapai 39 hingga 40 juta kiloliter (KL), sementara produksi domestik hanya berkisar 19 sampai 20 juta KL. Artinya, separuh kebutuhan bensin nasional masih dipasok dari impor.
Sebagai solusi jangka pendek dan menengah, pemerintah bakal menerapkan kebijakan mandatori pencampuran bahan bakar nabati untuk sektor bensin, mirip dengan program biodiesel pada solar. “Kita akan memberikan mandatori terhadap E10 sampai dengan E20. Karena kita masih impor 20 juta KL dan ini kita akan sebagian kita akan konversi ke etanol,” jelasnya.
Tak hanya bensin, ketergantungan pada impor juga terjadi pada komoditas LPG yang tahun ini menembus angka 8,6 juta metrik ton, serta pasokan bahan baku industri seperti nafta yang masih harus didatangkan dari Amerika Serikat untuk memenuhi kebutuhan industri petrokimia domestik seperti Chandra Asri.
“Bahan baku industri ini yang kita butuh, dan itu ada terletak di tangan Bapak Ibu yang melakukan usaha di sektor hulu migas,” tambahnya.(*)