Logo
>

Bahlil Sebut RI Bisa Tekan Impor Minyak Lewat B50

Lifting minyak nasional masih di bawah target. Pemerintah kini mengandalkan program B40 hingga B50 berbasis CPO untuk menekan impor energi.

Ditulis oleh Gusti Ridani
Bahlil Sebut RI Bisa Tekan Impor Minyak Lewat B50
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Foto: KabarBursa.com/Gusti Ridani)

KABARBURSA.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, blak-blakan menyebut bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah masih sangat tinggi akibat realisasi produksi siap jual (lifting) migas domestik yang belum mencapai target.

Bahlil membeberkan, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri saat ini mencapai kisaran 1,6 juta barel per hari (barrel per day). Sementara itu, kemampuan lifting minyak nasional pada tahun 2025 hanya berada di angka 605.000 bpd, dan target APBN 2026 dipatok sebesar 610.000 bpd.

"Target APBN 2026 itu 610.000 barel per day, dan sekarang masih rata-rata di bawah 600.000 barel per day. Artinya secara kalkulasi, kita bisa menghitung kita membutuhkan impor 1 juta barel per day," ujar Bahlil saat pembukaan dan peresmian IPA Convention and Exhibition 2026, dikutip Kamis, 21 Mei 2026.

Melihat situasi pelik ini, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Atas arahan langsung dari Presiden, Kementerian ESDM bergerak cepat mencari alternatif energi non-fosil guna menambal defisit kuota impor yang mencapai 1 juta bpd tersebut.

Langkah konkretnya adalah dengan menggeber program pencampuran bahan bakar nabati berbasis minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Sukses dengan B40, pemerintah bersiap tancap gas mengimplementasikan kebijakan B50 pada pertengahan tahun ini.

"Dari 1 juta barel per day yang kita harus impor, terkonversi atau tersubstitusi dengan kita memakai B40, dan sekarang kita akan dorong 1 Juli (ke) B50. Dan itu kita mampu mengonversi ke CPO-nya kurang lebih sekitar 200 sampai 300.000 barel per day," jelas Bahlil optimis.

Berkat strategi substitusi sawit ini, Bahlil mengklaim ketergantungan impor minyak mentah Indonesia berhasil dipangkas menjadi sekitar 600.000 hingga 700.000 bpd.

Bahkan, Bahlil menyebut bahwa Indonesia kini sudah mandiri untuk urusan bahan bakar solar bersubsidi maupun komersil standar.

"Alhamdulillah di tahun 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar, terkecuali solar yang mempunyai kualitas tinggi seperti C51, C48. (Selain itu) sudah bisa kita melakukan semuanya," imbuhnya.

Lebih lanjut, Bahlil mengingatkan bahwa konflik bersenjata yang masih terjadi antara Israel-Palestina-Libanon, hingga ketegangan Rusia-Ukraina, telah memicu ketidakpastian geoekonomi global. Banyak negara kini mulai menerapkan kebijakan proteksionisme demi mengamankan isi perut negaranya masing-masing.

Meski dikepung sentimen negatif global, Bahlil mengapresiasi daya tahan ekonomi Indonesia yang justru menunjukkan performa kinclong. Pada kuartal pertama, ekonomi RI mampu tumbuh 5,61 persen dengan angka inflasi yang sangat terjaga di level 2,41 persen.

"Dan ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara G20," kata Bahlil.

Menurutnya, torehan positif ini tidak lepas dari kontribusi para pelaku usaha, khususnya di sektor hulu migas dan energi. Sektor ini juga terbukti menjadi motor penggerak ekonomi lewat realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang moncer.

"Di kuartal pertama 2026, PNBP kita di sektor energi sudah mencapai kurang lebih sekitar 40 persen dari target APBN. Sekalipun memang harga komoditas lagi naik, tapi saya melihat ini adalah sebuah kontribusi yang cukup signifikan. Mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mampu menciptakan multiplier effect," pungkasnya. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang