Logo
>

Dolar AS Tertekan Data Nonfarm Payrolls, Peluang Rupiah Perkasa Hari ini?

Dolar AS melemah setelah data tenaga kerja Amerika Serikat jauh di bawah ekspektasi. Rupiah berpeluang mendapat angin segar, meski tekanan dari faktor domestik masih membayangi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dolar AS Tertekan Data Nonfarm Payrolls, Peluang Rupiah Perkasa Hari ini?
Indeks Dolar AS turun 0,56 persen ke level 100,83. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah tajam pada perdagangan Kamis waktu setempat, 2 Juli 2026 setelah laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan perlambatan penciptaan lapangan kerja yang jauh lebih lemah dibandingkan perkiraan pasar. 

Data tersebut mendorong pelaku pasar menurunkan ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Penurunan ekspektasi ini memicu pelemahan greenback terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Laporan Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan jumlah lapangan kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) hanya bertambah 57.000 sepanjang Juni. Angka tersebut jauh di bawah proyeksi ekonom yang memperkirakan penambahan sekitar 110.000 pekerjaan.

Di sisi lain, tingkat pengangguran turun menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen pada bulan sebelumnya. Meski tingkat pengangguran masih relatif stabil, perlambatan pertumbuhan lapangan kerja dinilai cukup untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.

Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka Fed funds, peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan September turun menjadi sekitar 54 persen dari sekitar 67 persen sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis.

Perubahan ekspektasi tersebut langsung tercermin pada pergerakan mata uang. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, turun 0,56 persen ke level 100,83. 

Selama sesi perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh level 100,55. Level tersebut merupakan posisi terendah sejak 18 Juni sekaligus mengarah pada penurunan harian terbesar sejak akhir April.

Bagaimana Dolar AS Terhadap Mata Uang Lain?

Pelemahan dolar tentunya mendorong penguatan sejumlah mata uang utama. Euro naik 0,52 persen ke level USD1,1435 setelah sempat menyentuh USD1,1472. Kenaikan ini tertinggi sejak 22 Juni.

Sementara itu, yen Jepang menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS. Mata uang Negeri Sakura melonjak 0,95 persen menjadi USD161,04 setelah sempat menguat hingga level 160,62.

Penguatan yen tidak hanya dipicu oleh pelemahan dolar, tetapi juga meningkatnya spekulasi bahwa otoritas Jepang siap melakukan intervensi di pasar valuta asing. Sejumlah sumber menyebut Kementerian Keuangan Jepang kini menerapkan pendekatan yang lebih sulit diprediksi dengan tidak lagi memberikan sinyal terbuka mengenai waktu maupun level nilai tukar yang akan memicu intervensi.

Strategi tersebut dinilai bertujuan meningkatkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar sekaligus menekan aksi spekulatif terhadap pelemahan yen. Hingga kini, pemerintah Jepang belum memberikan konfirmasi apakah intervensi benar-benar telah dilakukan, meski sebagian analis menilai waktu penguatan yen mengindikasikan adanya langkah dari otoritas.

Apa Penyebab Lain Pelemahan Dolar AS?

Di sisi lain, pelemahan dolar terjadi setelah selama beberapa bulan terakhir mata uang tersebut memperoleh dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve untuk mengendalikan inflasi. 

Arus investasi yang besar ke sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan dolar.

Chairman Federal Reserve Kevin Warsh, sebelumnya menegaskan bahwa bank sentral tetap berkomitmen mengembalikan inflasi menuju target 2 persen, meski risiko inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Strategi Valuta Asing CIBC Capital Markets Sarah Ying, mengatakan laporan ketenagakerjaan memang lebih lemah dibandingkan ekspektasi. Namun menurutnya, sebagian besar penambahan lapangan kerja berasal dari sektor rekreasi dan perhotelan yang dipengaruhi oleh faktor musiman sehingga belum mencerminkan pelemahan ekonomi yang lebih luas.

Ying juga menilai, selama data ketenagakerjaan Amerika tidak terus menunjukkan perlambatan yang signifikan, arus investasi ke sektor AI masih berpotensi menjadi faktor yang menopang aset-aset Amerika Serikat.

Peluang Rupiah Kembali Perkasa?

Melemahnya dolar AS secara teoritis dapat memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat karena tekanan dari sisi eksternal berkurang. Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve juga berpotensi mengurangi daya tarik aset-aset berbasis dolar sehingga aliran modal ke negara berkembang dapat kembali meningkat.

Namun, prospek penguatan rupiah masih dibatasi berbagai sentimen domestik yang membebani kepercayaan investor.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026. Kemarin, rupiah ditutup melemah ke level Rp17.995 per dolar AS.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah masih berasal dari sejumlah faktor domestik. Sebut saja meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan Mei mencatat defisit, kasus korupsi yang menjadi perhatian investor, hingga penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh MSCI.

Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia juga masih menunjukkan pelemahan. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menandai kontraksi terdalam dalam satu tahun seiring melemahnya permintaan dan penurunan pesanan baru.

Tekanan juga datang dari proyeksi Fitch Ratings yang memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Posisi tersebut sedikit berada di bawah median negara dengan peringkat BBB yang mencapai lima bulan.

Fitch menilai, penurunan cadangan devisa dipengaruhi memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.

Dengan demikian, pelemahan dolar AS akibat data nonfarm payrolls yang lebih lemah memang membuka peluang bagi rupiah untuk memperoleh dukungan dari faktor eksternal. Namun, hingga saat ini, berbagai tantangan domestik masih menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan mata uang Garuda sehingga arah pergerakan rupiah tetap akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan kondisi fundamental ekonomi nasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79