KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia mengakhiri perdagangan Jumat pagi WIB, 3 Juli 2026 dengan penguatan terbatas. Kenaikan tersebut terjadi di tengah aksi beli pelaku pasar menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat serta penurunan persediaan minyak mentah di Negeri Paman Sam.
Kenaikan harga ini masih tertahan oleh meningkatnya optimisme terhadap pasokan minyak global setelah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan perkembangan positif.
Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional ditutup naik 23 sen atau 0,32 persen ke level USD71,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 11 sen atau 0,16 persen menjadi USD68,69 per barel.
Sepanjang perdagangan, kedua kontrak sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada akhir Februari. Secara mingguan, Brent masih mencatat pelemahan sekitar 0,60 persen, sedangkan WTI turun 0,78 persen.
Pergerakan harga minyak pada sesi terakhir pekan ini dipengaruhi sejumlah sentimen yang saling berlawanan.
Salah satu faktor yang menopang harga adalah aksi short covering, yakni pembelian kembali kontrak oleh pelaku pasar yang sebelumnya memasang posisi jual. Langkah tersebut dilakukan setelah harga minyak sempat mengalami tekanan dalam beberapa sesi sebelumnya.
Mitra Again Capital John Kilduff, mengatakan perhatian pasar mulai bergeser dari kekhawatiran mengenai gangguan pasokan menuju besarnya volume minyak yang diperkirakan akan tersedia di pasar global. Pergeseran tersebut memicu aksi penyesuaian posisi oleh investor, sehingga memberikan dorongan bagi harga minyak.
Persediaan Minyak Mentah AS Turun dan Pasokan di Timteng
Dari sisi fundamental, data pemerintah Amerika Serikat juga memberikan sentimen positif.
Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun ke level terendah sejak 2018 pada pekan lalu. Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya aktivitas pengolahan di kilang domestik.
Persediaan bensin juga dilaporkan mengalami penurunan, mencerminkan masih kuatnya aktivitas konsumsi bahan bakar menjelang musim perjalanan di Amerika Serikat.
Di sisi lain, ruang kenaikan harga minyak tetap terbatas karena pasar mulai melihat risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah semakin mereda.
Qatar sebagai mediator menyatakan Amerika Serikat dan Iran mencatat kemajuan dalam pembicaraan menuju kesepakatan damai permanen untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat bulan.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut pembahasan mengenai memorandum penghentian perang menunjukkan perkembangan positif. Putaran negosiasi berikutnya dijadwalkan berlangsung setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 9 Juli.
Meski belum menghasilkan kesepakatan akhir, perkembangan diplomatik tersebut meningkatkan optimisme bahwa risiko gangguan terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dapat terus berkurang.
Kepala Analis Komoditas SEB Bjarne Schieldrop, mengatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berjalan normal. Selain itu, pelepasan minyak dari cadangan strategis masih berlangsung, sementara permintaan minyak dari China belum sepenuhnya pulih.
Data pelayaran juga menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker berukuran sangat besar mengangkut sekitar 10 juta barel minyak Saudi melewati Selat Hormuz setelah memuat kargo di terminal Ras Tanura.
Saudi Aramco juga dilaporkan mulai menawarkan lebih banyak penjualan minyak menggunakan mekanisme harga spot untuk mempercepat distribusi ke pasar Asia.
Analis Price Futures Group Phil Flynn menyebut pasokan minyak mentah bagi kilang saat ini berada dalam kondisi yang memadai. Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri saat ini lebih banyak berada pada kemampuan kilang meningkatkan produksi bahan bakar dibandingkan memperoleh pasokan minyak mentah.
Proyeksi Harga Minyak dari Sejumlah Analis
Selain perkembangan pasokan, sejumlah lembaga keuangan juga memperbarui proyeksi harga minyak.
UBS memangkas proyeksi harga Brent setelah menilai aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pulih lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Bank tersebut menurunkan proyeksi harga Brent kuartal III sebesar USD25 menjadi USD80 per barel. Proyeksi kuartal IV juga dipangkas sebesar USD10 menjadi USD80 per barel, sedangkan estimasi harga untuk 2027 diturunkan menjadi USD75 per barel.
Sementara itu, HSBC memperkirakan pasar masih mampu menyerap tambahan pasokan minyak dari Timur Tengah melalui proses pengisian kembali persediaan secara bertahap, seiring berakhirnya pelepasan cadangan strategis oleh International Energy Agency (IEA) pada Juli.
Menurut HSBC, setelah kondisi kelebihan pasokan jangka pendek mulai mereda, harga Brent berpotensi kembali bergerak menuju kisaran US$80 per barel atau bahkan lebih tinggi.
Nigeria Resmi Jadi Anggota OPEC
Di perkembangan lain, Nigeria resmi menjadi negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pertama yang bergabung sebagai anggota asosiasi IEA. Langkah tersebut mempererat hubungan antara lembaga pengawas energi global dengan salah satu produsen minyak terbesar di Afrika.
Sementara itu, konflik geopolitik juga masih menjadi perhatian pasar setelah militer Ukraina menyatakan telah melancarkan serangan terhadap kilang minyak Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia.
Dengan demikian, kenaikan harga minyak pada perdagangan kali ini terutama ditopang aksi short covering, penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat, serta pembelian menjelang libur panjang.
Namun, penguatan tersebut masih dibatasi oleh membaiknya prospek pasokan global, normalnya arus distribusi melalui Selat Hormuz, dan meningkatnya optimisme terhadap proses diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.(*)