Logo
>

El Nino di Depan Mata, Permintaan Batu Bara Asia Diperkirakan Naik Tajam

Gelombang panas akibat El Nino diperkirakan mendorong lonjakan konsumsi listrik di Asia dan meningkatkan permintaan batu bara.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
El Nino di Depan Mata, Permintaan Batu Bara Asia Diperkirakan Naik Tajam
Ilustrasi: Aktivitas armada angkut batu bara di salah satu area tambang milik PT Atlas Resources Tbk (ARII). Sumber: Foto: Situs resmi ARII

KABARBURSA.COM — Ancaman El Nino yang diperkirakan mulai menguat dalam waktu dekat tidak hanya berdampak pada cuaca global, tetapi juga berpotensi mengguncang keseimbangan energi dunia. Di tengah gangguan pasokan akibat konflik geopolitik, fenomena iklim ini dinilai bisa memperparah tekanan pada sektor listrik dan bahan bakar.

Pengamat transisi energi global, Gavine Maguire, melihat pola El Nino tahun ini muncul dalam situasi yang tidak biasa. Arus energi global sudah terganggu akibat penutupan Selat Hormuz dan kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah. Dalam kondisi tersebut, kenaikan suhu global berpotensi mendorong lonjakan konsumsi listrik di berbagai kawasan.

Menurut dia, tanda-tanda El Nino sudah mulai terlihat dari kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Data menunjukkan suhu permukaan laut telah melampaui 21 derajat celsius, salah satu level tertinggi sejak 1980-an.

“Model iklim saat ini menunjukkan keselarasan yang kuat, dan ada tingkat keyakinan tinggi bahwa El Nino akan mulai terjadi dan terus menguat dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Maguire, dikutip dari Reuters, Sabtu, 2 Mei 2026.

Kenaikan suhu laut tersebut dinilai menjadi sinyal awal bahwa pola El Nino akan berkembang lebih intens dibandingkan rata-rata tahunan. Dalam kondisi normal, suhu laut cenderung berubah secara bertahap, namun lonjakan cepat yang terjadi sejak awal tahun menunjukkan tekanan iklim yang semakin besar.

Dampaknya akan paling terasa di kawasan Asia. Secara historis, El Nino mendorong suhu lebih tinggi dari normal dan melemahkan curah hujan monsun, terutama di Asia Selatan. Kondisi ini biasanya memicu gelombang panas berkepanjangan.

Akibatnya, kebutuhan listrik untuk pendingin udara diperkirakan melonjak. Asia sendiri menyumbang sekitar 53 persen dari konsumsi listrik global, sehingga lonjakan permintaan di kawasan ini akan berdampak besar terhadap pasar energi dunia.

Dalam konteks ini, batu bara diperkirakan kembali menjadi tulang punggung pasokan listrik. Ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga batu bara masih tinggi, dengan kontribusi sekitar 70 persen di India dan 55 persen di China.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi negara eksportir batu bara seperti Indonesia. Meski sepanjang 2026 ekspor batu bara Indonesia sempat turun sekitar 7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, peningkatan kebutuhan listrik akibat El Nino berpotensi membalik tren tersebut.

Di sisi lain, pasar gas alam cair atau LNG juga menghadapi dinamika berbeda. Harga LNG global saat ini melonjak dari sekitar USD550 per ton menjadi USD868 per ton atau setara sekitar Rp14.669.200 per ton, jauh lebih mahal dibanding harga batu bara yang berada di kisaran USD104 per ton atau sekitar Rp1.757.600.

Perbedaan harga ini membuat LNG berpotensi kalah bersaing dengan batu bara, terutama di negara-negara Asia yang sensitif terhadap harga energi. Akibatnya, pembangkit listrik kemungkinan akan lebih memilih batu bara dibanding LNG untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik.

Sementara itu di Eropa, kondisi berbeda bisa terjadi. Gelombang panas yang sering muncul saat El Nino berpotensi mendorong lonjakan permintaan listrik, terutama untuk pendingin udara. Negara seperti Italia yang masih bergantung pada gas untuk hampir setengah produksi listriknya diperkirakan akan meningkatkan impor LNG.

Di kawasan Amerika Utara, El Nino justru cenderung menurunkan suhu selama musim panas. Kondisi ini berpotensi menekan konsumsi listrik dan penggunaan gas, sehingga membuka ruang peningkatan ekspor LNG ke pasar global.

Di Amerika Latin dan Afrika, perubahan pola curah hujan dapat menekan produksi listrik dari pembangkit tenaga air. Untuk menutup kekurangan tersebut, negara-negara di kawasan ini kemungkinan akan meningkatkan penggunaan energi lain seperti gas dan energi terbarukan.

Sementara di Timur Tengah, suhu tinggi selama El Nino berpotensi meningkatkan konsumsi listrik berbasis gas. Hal ini dapat mengurangi kapasitas ekspor energi kawasan tersebut, terutama jika pemulihan pasokan pascakonflik berjalan lambat.

Secara keseluruhan, dampak El Nino tahun ini diperkirakan tidak merata, namun hampir seluruh pasar energi global akan terdampak. Dalam situasi sistem kelistrikan global yang sudah tertekan akibat konflik geopolitik, lonjakan suhu dan konsumsi energi berpotensi memicu ketatnya pasokan serta volatilitas harga yang lebih tinggi. Dengan kata lain, ketika cuaca memanas, tekanan di pasar energi juga ikut meningkat.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).