KABARBURSA.COM – Gejolak geopolitik di Timur Tengah mendorong investor global kembali mencari aset yang dianggap aman di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar. Pergerakan sejumlah instrumen keuangan menunjukkan dinamika yang berbeda, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat hingga fluktuasi harga emas dan perubahan minat terhadap obligasi pemerintah.
Data pasar menunjukkan bahwa dolar Amerika Serikat menjadi salah satu aset yang mencatat penguatan paling signifikan selama periode gejolak terbaru. Indeks Dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik sekitar 1,5 persen dalam sepekan.
Penguatan tersebut juga terlihat terhadap mata uang yang secara historis dikenal sebagai aset safe-haven seperti franc Swiss dan yen Jepang. Pergerakan ini berbeda dengan dinamika yang terjadi pada krisis tarif global pada April tahun lalu, ketika dolar justru melemah saat pasar saham turun.
Arus modal menunjukkan peningkatan permintaan terhadap dolar dalam bentuk kas jangka pendek. Pergerakan tersebut terjadi bersamaan dengan lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Morgan Stanley mencatat kenaikan harga minyak Brent yang menembus level USD80 per barel turut mendukung penguatan dolar. Amerika Serikat saat ini tercatat sebagai eksportir energi bersih, sehingga kenaikan harga minyak meningkatkan arus transaksi energi berbasis dolar.
Emas Pertahankan Posisi Safe Haven
Selain dolar, emas masih mempertahankan posisinya sebagai salah satu instrumen lindung nilai yang paling banyak dipantau investor. Harga emas dalam satu dekade terakhir tercatat meningkat sekitar 240 persen.
Pergerakan emas tetap menunjukkan volatilitas dalam jangka pendek. Pada awal pekan, harga emas sempat mengalami koreksi setelah sebagian investor menjual aset yang mencatat kinerja terbaik untuk menutup kerugian di portofolio lain.
Meski demikian, data dari State Street menunjukkan alokasi emas dalam portofolio global masih relatif rendah. Porsi emas dalam portofolio investasi global tercatat berada di bawah 1 persen, jauh di bawah kisaran alokasi strategis yang sering direkomendasikan antara 5 hingga 10 persen.
Obligasi Sesuai Ekspektasi Inflasi
Pergerakan pasar juga menunjukkan dinamika berbeda pada instrumen obligasi pemerintah. Pada kondisi pasar yang biasanya ditandai oleh arus flight to quality, obligasi pemerintah sering menjadi tujuan utama investor. Namun pada periode gejolak geopolitik terbaru, aliran dana ke instrumen tersebut tidak terlihat dominan.
Investor cenderung memperdagangkan obligasi berdasarkan ekspektasi inflasi dan kebijakan fiskal dibandingkan faktor defensif. Di Eropa, perubahan kebijakan fiskal turut memengaruhi pergerakan pasar obligasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun atau Bund meningkat sekitar 14 basis poin dalam sepekan. Kenaikan imbal hasil tersebut terjadi di tengah rencana peningkatan pinjaman pemerintah serta pelonggaran aturan fiskal di Jerman.
Mata Uang Safe Haven Diburu
Pergerakan mata uang safe-haven tradisional juga menunjukkan perubahan. Franc Swiss dan yen Jepang yang selama ini sering menguat pada saat pasar mengalami tekanan justru melemah dalam periode terbaru.
Franc Swiss tercatat turun sekitar 1,2 persen dalam sepekan, sementara yen Jepang melemah sekitar 0,8 persen. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan faktor domestik yang memengaruhi kedua mata uang tersebut.
Di Jepang, ketidakpastian kebijakan moneter meningkat setelah muncul pernyataan mengenai kemungkinan perubahan arah suku bunga. Sementara di Swiss, potensi intervensi bank sentral untuk menahan penguatan franc turut memengaruhi pergerakan mata uang tersebut.
Di pasar saham, sektor-sektor yang biasanya dianggap defensif juga tidak menunjukkan perlindungan signifikan selama periode volatilitas pasar terbaru. Di Amerika Serikat, sektor utilitas dalam indeks S&P 500 turun sekitar 1 persen, sementara sektor barang konsumsi pokok melemah sekitar 2,8 persen.
Pergerakan yang sama terlihat di pasar Eropa. Sektor utilitas dalam indeks STOXX 600 turun sekitar 3 persen, sedangkan sektor consumer staples melemah sekitar 4,5 persen pada periode yang sama.
Data tersebut muncul setelah sektor-sektor defensif sebelumnya mencatat kinerja yang relatif kuat. Dalam beberapa waktu terakhir, sebagian investor global mengalihkan fokus investasi ke aset berwujud seperti infrastruktur dan industri.
Pergerakan pasar yang terjadi selama gejolak geopolitik terbaru menunjukkan perbedaan dinamika antar instrumen safe-haven. Penguatan dolar, fluktuasi emas, perubahan minat terhadap obligasi, serta pergerakan mata uang tradisional safe-haven mencerminkan kondisi pasar global yang sedang menyesuaikan diri dengan ketidakpastian geopolitik dan perubahan arus modal internasional.(*)