Logo
>

Fondasi Bisnis Vale (INCO) Mulai Tertekan Meski Ditutupi Klaim Naiknya Laba

Produksi stagnan, harga nikel turun, laba operasional melemah, sementara belanja modal melonjak dan menekan arus kas.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Fondasi Bisnis Vale (INCO) Mulai Tertekan Meski Ditutupi Klaim Naiknya Laba
Area pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Aktivitas tambang dan pembukaan lahan terlihat di tengah kawasan hutan. Foto: Walhi Sulsel.

KABARBURSA.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menutup 2025 dengan kinerja yang secara kasat mata terlihat solid. Hal itu bisa dilihat antara lain dari produksi yang meningkat, pendapatan yang tumbuh, dan laba bersih melonjak signifikan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, sejumlah indikator justru mulai menunjukkan tekanan yang tidak bisa diabaikan.

Sepanjang 2025, INCO mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 72.027 ton, naik tipis dibandingkan 71.311 ton pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk menyebut kinerja operasional tetap terjaga.

Namun, gambaran tersebut mulai berubah jika melihat tren di akhir tahun. Pada kuartal keempat, produksi hanya mencapai 17.052 ton, turun sekitar 12 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 19.391 ton.  

Penurunan ini terjadi seiring dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 yang menurut perusahaan diperlukan untuk menjaga kapasitas produksi ke depan. Meski bersifat strategis, kondisi ini tetap mencerminkan bahwa stabilitas produksi tidak sepenuhnya terjaga sepanjang tahun.

Di sisi lain, tekanan juga datang dari harga. Sepanjang 2025, harga realisasi rata-rata nikel turun menjadi USD12.157 per ton dari USD13.086 per ton pada 2024. Penurunan sekitar 7 persen ini menunjukkan bahwa pasar nikel global masih berada dalam tekanan di tengah kondisi kelebihan pasokan.

Menariknya, di tengah penurunan harga tersebut, kinerja keuangan justru bergerak berlawanan arah. INCO mencatat laba bersih sebesar USD76,1 juta, meningkat 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini tidak sepenuhnya berasal dari ekspansi produksi, melainkan dari faktor lain seperti peningkatan payability nikel matte dan efisiensi biaya.

“Meskipun berada dalam lingkungan harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte… serta volume pengiriman yang lebih tinggi, mendorong kenaikan total pendapatan Perseroan,” tulis manajemen INCO dalam keterbukaan informasi yang dikutip Ahad, 26 April 2026.

Di titik ini, kualitas pertumbuhan mulai menjadi pertanyaan. Ketika produksi hanya naik tipis dan harga justru turun, kenaikan laba yang signifikan menunjukkan bahwa sumber pertumbuhan tidak sepenuhnya berasal dari kekuatan bisnis inti.

Hal ini semakin terlihat dari kinerja operasional. Laba usaha tercatat turun dari USD63,8 juta pada 2024 menjadi USD41,4 juta pada 2025. Penurunan ini mengindikasikan bahwa tekanan pada bisnis inti sebenarnya sudah mulai terjadi, meskipun tertutup oleh faktor non-operasional dalam laporan laba bersih.

Sementara itu, tekanan dari sisi keuangan juga mulai terlihat melalui arus kas. Sepanjang 2025, INCO membukukan arus kas operasi sebesar USD234,7 juta. Namun, kebutuhan investasi melonjak jauh lebih besar, dengan belanja modal mencapai USD485,9 juta.  

Akibatnya, arus kas bersih dari aktivitas investasi tercatat negatif USD495,2 juta, mencerminkan kebutuhan dana yang besar untuk ekspansi. Kondisi ini berdampak langsung pada posisi kas perusahaan yang turun dari USD674,6 juta menjadi USD376,3 juta di akhir tahun.

Di satu sisi, belanja besar ini mencerminkan agresivitas perusahaan dalam membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang. Namun di sisi lain, tekanan likuiditas menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Tahun 2025 juga diwarnai sejumlah gangguan operasional. Salah satunya adalah insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus yang diakui perusahaan sebagai salah satu ujian terberat.

“Tahun ini juga menghadirkan salah satu ujian terberat bagi Perseroan, yaitu insiden kebocoran pipa minyak,” tulis manajemen.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak hanya berasal dari pasar, tetapi juga dari sisi operasional. Secara keseluruhan, kinerja INCO pada 2025 memang menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Namun di balik itu, mulai terlihat perubahan struktur yang lebih dalam.

Produksi yang tidak tumbuh signifikan, harga yang melemah, laba operasional yang menurun, serta tekanan arus kas menjadi sinyal bahwa fase berikutnya tidak akan semudah sebelumnya. Dalam konteks ini, kinerja 2025 bisa dibaca sebagai titik transisi. Bukan lagi sekadar fase pertumbuhan stabil, melainkan awal dari periode yang lebih kompleks, di mana efisiensi, disiplin biaya, dan keberhasilan proyek ekspansi akan menjadi penentu utama arah ke depan.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).