KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat anjlok setelah Presiden Donald Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz menyusul gagalnya negosiasi dengan Iran.
Ketegangan ini memicu lonjakan harga minyak dan kembali menekan sentimen pasar global di tengah kekhawatiran konflik yang berkepanjangan.
Melansir laman CNBC, futures Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 462 poin atau 1 persen. Futures S&P 500 melemah 1 persen, sementara Nasdaq 100 turun 1,1 persen.
“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump di Truth Social.
“Blokade akan segera dimulai. Negara lain juga akan terlibat dalam blokade ini. Iran tidak akan diizinkan mengambil keuntungan dari tindakan pemerasan ilegal ini,” tambah tulisannya.
Kegagalan negosiasi selama akhir pekan di Islamabad kembali memicu kekhawatiran bahwa konflik antara AS dan Iran akan berlangsung lebih lama dari perkiraan, yang berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi dan terus menekan ekonomi global.
Harga minyak mentah WTI melonjak 8,5 persen menjadi USD104,76 per barel saat perdagangan dibuka pada Minggu.
Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan akan mulai memblokir seluruh lalu lintas maritim keluar masuk pelabuhan Iran mulai pukul 10 pagi waktu ET pada Senin. Namun, AS menyatakan tidak akan menghalangi kapal yang melintasi selat menuju pelabuhan non-Iran.
Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan dengan pihak Iran, dengan alasan Iran tidak bersedia menghentikan upaya pengembangan senjata nuklir. Namun, kedua pihak tampak memiliki perbedaan lebih luas, dengan Iran menuntut kendali atas Selat Hormuz, kompensasi perang, serta pencairan aset yang dibekukan.
Pejabat Pakistan menyatakan akan mencoba memulai kembali pembicaraan dalam beberapa hari ke depan.
Trump, yang mengumumkan blokade angkatan laut setelah pembicaraan gagal, tengah mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan militer, menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip pejabat yang mengetahui situasi tersebut.
“Pernyataan blokade terbaru ini menjadi sinyal langsung ke pasar ekuitas bahwa konflik Iran masih penuh ketidakpastian, namun pelaku pasar melihatnya sebagai taktik negosiasi dibanding implementasi kebijakan nyata atau solusi jangka panjang untuk Selat Hormuz,” ujar CEO KKM Financial, Jeff Kilburg.
Kilburg menambahkan bahwa ada kemungkinan pembeli kembali masuk ke pasar sebelum pembukaan perdagangan pada Senin.
Harapan akan berakhirnya konflik secara cepat sempat mendorong ketiga indeks utama mencatat kinerja mingguan terbaik sejak November, setelah diumumkannya gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran. S&P 500 naik 3,6 persen pekan lalu, Nasdaq melonjak sekitar 4,7 persen, dan Dow menguat 3 persen.
Musim laporan keuangan kuartal pertama juga akan dimulai pekan ini. Bank-bank terbesar di AS akan membuka musim tersebut, dengan Goldman Sachs dijadwalkan merilis kinerja pada Senin, 13 April 2026 waktu setempat.
Citigroup, Wells Fargo, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Bank of America akan menyusul dalam beberapa hari berikutnya.(*)