Logo
>

Gangguan Selat Hormuz Picu Kekurangan Fuel Oil di Asia

Konflik Timur Tengah menekan ekspor fuel oil dan memicu kenaikan harga bunker fuel di Asia, berpotensi meningkatkan biaya logistik global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Gangguan Selat Hormuz Picu Kekurangan Fuel Oil di Asia
Kapal Sea Bass milik PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) beroperasi di perairan lepas pantai. Kapal yang dibangun pada 2008 ini memiliki tenaga mesin sekitar 5.450 HP dan kapasitas deadweight 3.250 ton, digunakan sebagai kapal pendukung aktivitas industri minyak dan gas di laut. Foto: Dok. WINS.

KABARBURSA.COM — Konflik yang meletus di Iran mulai memukul rantai pasokan energi global. Para pedagang bahan bakar kapal di Asia kini kesulitan mencari pasokan pengganti setelah perang menghambat pengiriman dari Timur Tengah yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Selama ini jalur laut sempit tersebut menjadi salah satu nadi distribusi energi dunia. Ketika konflik mengganggu arus kapal tanker, para trader terpaksa mencari kargo dari kawasan lain, termasuk Amerika dan wilayah Barat, untuk menggantikan pasokan yang terhenti.

Kondisi ini berpotensi memicu kekurangan bahan bakar kapal atau bunker fuel yang digunakan untuk menggerakkan armada pelayaran internasional. Pelabuhan bunker utama seperti Singapura diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga dalam beberapa pekan mendatang. Dampaknya tidak berhenti di sektor energi saja. Biaya pengisian bahan bakar kapal yang meningkat pada akhirnya bisa mendorong kenaikan biaya transportasi barang.

Ketegangan geopolitik langsung tercermin pada pasar bahan bakar minyak berat. Harga fuel oil melonjak tajam sepanjang pekan ini, terutama untuk jenis high sulphur fuel oil yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah.

Data Kpler menunjukkan ekspor fuel oil yang biasanya melintasi Selat Hormuz menuju Asia rata-rata mencapai sekitar 1,2 juta metrik ton per bulan atau sekitar 246.000 barel per hari. Sekitar 70 persen dari volume tersebut biasanya berakhir di Asia Tenggara.

Secara keseluruhan, ekspor fuel oil yang melalui jalur Selat Hormuz biasanya mencapai sekitar 3,7 juta ton setiap bulan. Namun sejak konflik pecah, aktivitas kapal tanker di jalur itu anjlok drastis.

Analisis Kpler memperlihatkan jumlah perjalanan tanker turun sekitar 90 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Analis utama pemodelan pasokan dan pengilangan Kpler, Sumit Ritolia, mengatakan ketergantungan besar terhadap satu jalur distribusi membuat pasar sangat rentan terhadap gangguan.

“Ketika porsi besar pasokan bahan bakar sulfur tinggi dunia bergantung pada satu jalur sempit, bahkan gangguan sebagian saja bisa langsung memperketat pasokan dan meningkatkan volatilitas bunker fuel,” kata Ritolia, dikutip dari Reuters, Jumat, 6 Maret 2026.

Harga Bunker Fuel Melonjak

Gangguan pasokan segera tercermin pada harga bahan bakar kapal. Harga bunker fuel dengan kandungan sulfur tinggi yang dikirim ke Singapura naik lebih dari 40 persen sejak perang dimulai. Sementara harga bahan bakar kapal dengan sulfur rendah meningkat lebih dari 30 persen.

Singapura merupakan pusat pengisian bahan bakar kapal terbesar di dunia sehingga setiap gangguan pasokan langsung memengaruhi harga global. Beberapa pasokan sulfur tinggi sebenarnya bisa datang dari kilang di Barat. Namun biaya pengangkutan tanker yang melonjak membuat perdagangan menjadi sulit dilakukan secara ekonomis.

Para pedagang di Singapura mencoba mencari sumber baru dari Amerika Serikat dan Meksiko. Namun volume dari kedua negara tersebut dinilai belum cukup untuk menggantikan kekurangan dari Timur Tengah. Venezuela juga menjadi salah satu alternatif pasokan, tetapi pengiriman dari negara itu sejauh ini tetap beredar di pasar Barat sepanjang tahun ini.

Sumber lain sebenarnya berasal dari Rusia. Namun sebagian pembeli masih berhati-hati karena minyak Rusia masih berada dalam bayang-bayang sanksi akibat perang di Ukraina.

Fuel oil dari Iran sendiri selama bertahun-tahun berada di bawah sanksi internasional. Meski demikian, China tetap menjadi pembeli utama. Namun pengiriman dari Iran kini juga berhenti karena konflik yang sedang berlangsung.

Dampak Berantai di Pasar Asia

Penurunan pasokan dari Iran berpotensi memicu perubahan aliran perdagangan energi. Produsen aspal independen di China diperkirakan akan meningkatkan pembelian fuel oil langsung dari Rusia untuk menutup kekurangan bahan baku. Langkah tersebut dapat mempersempit pasokan di kawasan Selat Singapura yang selama ini menjadi pusat distribusi bahan bakar kapal.

Sebagian pedagang juga mulai melirik kilang di Asia sebagai sumber alternatif. Namun pasokan dari kawasan ini juga diperkirakan menurun karena beberapa kilang memangkas produksi akibat kekurangan minyak mentah yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Di pasar bahan bakar sulfur rendah, kenaikan harga memang tidak setajam pasar sulfur tinggi. Pasokan masih datang dari Brasil dan Nigeria. Meski demikian, pengiriman dari kilang besar Kuwait di Al Zour juga ikut terhenti akibat situasi di kawasan Teluk.

Para pedagang memperkirakan biaya pengisian kembali persediaan akan terus meningkat karena pasar semakin ketat.

Saat ini pasar masih tertolong oleh stok besar yang tersimpan di tangki darat Singapura serta bahan bakar yang disimpan di kapal. Namun para pelaku industri memperkirakan cadangan tersebut akan mulai terkuras tajam dalam beberapa pekan mendatang jika gangguan pasokan terus berlangsung.

Lonjakan Bunker Fuel Potensi Tekan Emiten Pelayaran

Kenaikan harga bunker fuel akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberi tekanan baru bagi industri pelayaran. Dalam bisnis transportasi laut, bahan bakar kapal merupakan komponen biaya paling dominan dalam operasional armada.

Sejumlah studi industri menunjukkan biaya bahan bakar dapat menyumbang sekitar 30 persen hingga 60 persen dari total ongkos operasional kapal, tergantung jenis kapal dan rute pelayaran yang ditempuh. Bagi kapal kontainer berukuran besar, konsumsi energi bahkan bisa mencapai 150 hingga 250 ton bahan bakar setiap hari ketika kapal beroperasi penuh.

Besarnya porsi biaya tersebut membuat fluktuasi harga bunker fuel langsung terasa pada kinerja perusahaan pelayaran. Ketika harga bahan bakar naik, biaya operasional perjalanan kapal ikut melonjak.

Perhitungan di sektor pelayaran menunjukkan kenaikan harga bunker sekitar 10 persen saja dapat menggerus margin pelayaran sekitar 5 persen hingga 7 persen untuk satu perjalanan kapal. Dalam kondisi pasar yang kompetitif, tekanan itu tidak selalu mudah dialihkan kepada pelanggan.

Sebagian operator memang menerapkan mekanisme penyesuaian biaya bahan bakar yang dikenal sebagai bunker adjustment factor. Namun dalam praktiknya, tidak semua kenaikan biaya dapat langsung dibebankan kepada pengguna jasa logistik. Persaingan tarif pengiriman membuat perusahaan sering menanggung sebagian kenaikan biaya tersebut. Akibatnya laba operator pelayaran kerap ikut tertekan ketika harga bunker fuel melonjak.

Di Bursa Efek Indonesia terdapat sejumlah perusahaan pelayaran yang kegiatan operasionalnya sangat bergantung pada konsumsi bahan bakar kapal.

PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) merupakan salah satunya. Perusahaan ini menyediakan kapal pendukung bagi industri minyak dan gas lepas pantai. Aktivitas armada yang intensif di laut membuat biaya bahan bakar menjadi komponen penting dalam struktur biaya perusahaan.

Perusahaan lain adalah PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) yang bergerak di bisnis pelayaran kontainer, logistik, dan pelabuhan. Operasional kapal kontainer yang berlayar jarak jauh membuat perusahaan sangat sensitif terhadap perubahan harga bunker fuel.

Hal yang sama berlaku bagi PT Temas Tbk atau TMAS yang fokus pada pengiriman kontainer domestik. Dalam bisnis pelayaran domestik, bahan bakar menjadi salah satu faktor utama yang menentukan biaya freight atau tarif pengiriman.

Selain itu ada PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk atau HITS dan PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) yang mengoperasikan kapal pengangkut energi seperti LNG dan minyak, serta PT Transcoal Pacific Tbk yang mengangkut batubara menggunakan kapal tongkang dan tugboat. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki karakteristik bisnis yang berbeda, namun semuanya menghadapi risiko serupa ketika harga bahan bakar meningkat.

Lonjakan harga bunker fuel tidak hanya berdampak pada perusahaan pelayaran. Kenaikan biaya bahan bakar dapat menimbulkan efek berantai di sektor logistik global. Pertama, biaya operasional kapal meningkat karena bahan bakar dapat mencapai sekitar 50 persen hingga 60 persen dari total biaya perjalanan. Kedua, margin perusahaan pelayaran menyusut jika kenaikan biaya tidak diikuti penyesuaian tarif.

Ketiga, operator kapal biasanya akan menaikkan tarif freight untuk menjaga profitabilitas. Kenaikan tarif pengiriman laut ini pada akhirnya dapat mendorong naiknya biaya distribusi barang di berbagai sektor perdagangan. Dengan kata lain, perubahan harga bunker fuel bukan hanya persoalan industri pelayaran. Fluktuasinya dapat menjalar hingga ke rantai logistik global dan memengaruhi biaya transportasi barang secara luas.

Emiten Energi Hulu Dapat Angin Segar

Di Indonesia, beberapa emiten energi tercatat memiliki bisnis yang cukup sensitif terhadap pergerakan harga minyak global. Ketika harga minyak naik, nilai produksi yang dijual perusahaan ikut meningkat. Dampaknya bisa terlihat pada pendapatan maupun arus kas perusahaan.

PT Medco Energi Internasional Tbk atau MEDC menjadi salah satu emiten yang sering dikaitkan dengan fluktuasi harga energi. Perusahaan ini menjalankan bisnis eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi di sejumlah wilayah, baik di dalam negeri maupun di luar Indonesia. Sebagian besar pemasukan perusahaan berasal dari produksi minyak dan gas. Dalam laporan keuangan perusahaan, segmen migas tercatat memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan.

Model bisnis seperti ini membuat kinerja Medco sangat bergantung pada dinamika harga energi global. Ketika harga minyak melemah, pendapatan perusahaan biasanya ikut tertekan. Sebaliknya, saat harga minyak meningkat, nilai produksi yang dijual ikut terdorong.

Perusahaan juga terus melakukan ekspansi produksi. Medco menargetkan produksi sekitar 170.000 barel setara minyak per hari pada 2026 melalui portofolio aset migas di berbagai negara. Target ini menunjukkan upaya perusahaan memperkuat posisi di tengah permintaan energi yang masih tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Selain Medco, emiten lain yang bergerak di sektor hulu migas adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Perusahaan ini fokus pada eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak serta gas bumi. Energi Mega Persada mengelola sejumlah blok migas di Indonesia, termasuk Bentu, Kangean, Korinci, hingga Tonga. Kegiatan operasionalnya meliputi produksi minyak mentah dan gas bumi serta perdagangan energi.

Karakter bisnis yang bertumpu pada produksi membuat kinerja perusahaan juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas energi. Ketika harga minyak global naik akibat gangguan pasokan atau konflik geopolitik, nilai produksi yang dihasilkan perusahaan ikut meningkat. Dengan kata lain, perusahaan hulu seperti Energi Mega Persada sering berada dalam posisi yang diuntungkan ketika siklus harga energi bergerak naik.

Lonjakan harga minyak biasanya terjadi ketika pasar memperkirakan adanya gangguan pasokan. Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam rantai distribusi energi dunia. Jalur laut sempit ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap hari. Jika jalur tersebut terganggu, pasar segera bereaksi. Harga minyak cenderung naik karena kekhawatiran terhadap pasokan yang lebih ketat.

Kenaikan harga ini pada akhirnya memberikan dampak langsung bagi perusahaan yang memproduksi minyak. Pendapatan meningkat karena harga jual lebih tinggi, sementara biaya produksi relatif tidak berubah dalam jangka pendek. Selain itu, nilai cadangan minyak yang dimiliki perusahaan juga menjadi lebih berharga ketika harga energi global naik.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).