KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas dunia dan logam mulia diprediksi masih dibayangi volatilitas tinggi pada pekan depan seiring memanasnya tensi geopolitik global, mulai dari konflik Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pada perdagangan Sabtu, 9 Mei 2026, harga emas dunia ditutup di level USD4.616 per troy ounce, sementara harga logam mulia domestik berada di kisaran Rp2.796.000 per gram.
Menurut dia, apabila terjadi koreksi pada perdagangan pekan drown, maka level support pertama emas dunia diperkirakan berada di harga USD4.520 per troy ounce
"Sedangkan logam mulia berpotensi turun ke Rp2.786.000 per gram," ujar Ibrahim dalam keterangannya kepada media, Minggu, 10 Mei 2026.
Jika pelemahan berlanjut, support kedua emas dunia ada di harga USD4.389 per troy ounce, sementara logam mulia diperkirakan turun ke level Rp2.750.000 per gram.
Ia menilai level Rp2.750.000 per gram berpotensi menjadi batas bawah pergerakan logam mulia dalam jangka pendek apabila tekanan pasar meningkat.
Namun di sisi lain, peluang penguatan harga emas masih terbuka lebar apabila tensi geopolitik terus meningkat. Untuk resistance pertama, Ibrahim memproyeksikan emas dunia bergerak menuju USD4.702 per troy ounce dengan logam mulia di kisaran Rp2.866.000 per gram.
"Sementara resistance kedua diperkirakan berada di level USD4.851 per troy ounce. Jika skenario tersebut terjadi, harga logam mulia disebut berpotensi menembus Rp2.900.000 per gram," jelas Ibrahim.
Ia mengatakan fluktuasi harga emas saat ini tidak hanya dipengaruhi pergerakan dolar Amerika Serikat dan harga minyak dunia, tetapi juga eskalasi konflik geopolitik internasional.
Menurut dia, ketegangan di Eropa Timur masih menjadi perhatian utama pasar setelah Rusia disebut mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO.
Menurut dia, ketegangan di Eropa Timur masih menjadi perhatian utama pasar setelah Rusia disebut mengancam akan meningkatkan serangan terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO yang memberikan dukungan militer.
"Artinya apa? kemungkinan besar, ini akan membuat harga emas kembali mengalami kenaikan, " pungkasnya. (*)