KABARBURSA.COM – Koreksi tajam saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mulai membawa perhatian pasar kembali ke saham nikel ini. Setelah sempat bergerak agresif dalam beberapa pekan terakhir, INCO akhirnya terkoreksi signifikan 13,89 persen ke level 5.425, dan disertai tekanan jual yang cukup besar.
Namun di balik koreksi tersebut, struktur pemegang saham INCO justru menunjukkan hal berbeda. Kepemilikan asing kembali bertambah.
Data registrasi April 2026 menunjukkan porsi pemodal asing naik menjadi 5,905 miliar saham atau setara 56,03 persen dari total saham INCO. Posisi itu meningkat dibanding Maret 2026 yang masih sebesar 5,830 miliar saham atau 55,32 persen.
Artinya, dalam satu bulan terdapat tambahan kepemilikan asing sekitar 74,37 juta saham. Di saat harga saham mulai bergejolak, investor asing justru masih memperbesar eksposurnya di INCO.
Sebaliknya, kepemilikan domestik turun dari 4,708 miliar saham atau 44,68 persen menjadi 4,634 miliar saham atau 43,97 persen. Pergeseran ini membuat struktur kepemilikan INCO kembali semakin berat ke investor asing.
Daftar Pemegang Saham Besar
Dalam daftar pemegang saham di atas 5 persen, posisi terbesar masih ditempati PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID dengan kepemilikan 3,583 miliar saham atau 34 persen.
Posisi kedua ditempati Vale Canada Limited dengan 3,570 miliar saham atau 33,88 persen, sementara Sumitomo Metal Mining menggenggam 1,210 miliar saham atau 11,48 persen.
Jika digabungkan, tiga pemegang saham utama tersebut menguasai 79,36 persen saham INCO. Sisanya sekitar 20,64 persen berada di tangan publik atau pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5 persen.
Kondisi ini membuat struktur saham INCO tergolong cukup ketat. Free float publik memang masih memenuhi ketentuan bursa, namun dominasi pemegang saham strategis membuat ruang peredaran saham di pasar menjadi lebih terbatas dibanding saham dengan free float besar.
Strategi dan Rekomendasi
Dari sisi teknikal, koreksi 13,89 persen membuat INCO masuk fase penurunan cepat setelah sebelumnya bergerak dalam tren naik cukup panjang.
MNC Sekuritas memperkirakan posisi INCO saat ini sedang berada pada bagian wave v dari wave (i), yang berarti tekanan turun jangka pendek masih berpotensi berlanjut sebelum saham mencoba membentuk pantulan baru.
Area 5.125 hingga 5.350 kini menjadi zona buy on weakness yang mulai diperhatikan pelaku pasar. Area tersebut dinilai sebagai support penting setelah koreksi tajam dalam satu sesi perdagangan.
Jika mampu bertahan di atas area tersebut, INCO berpeluang menguji target rebound menuju 5.925 hingga 6.175. Dengan posisi terakhir di 5.425, target pertama memberi ruang kenaikan sekitar 9 persen, sementara target kedua sekitar 13,8 persen.
Namun volatilitas saham masih tinggi. Area 5.050 menjadi batas penting yang perlu dijaga. Jika level tersebut ditembus, tekanan jual berisiko kembali melebar dan membuka ruang koreksi lanjutan.
Untuk strategi perdagangan Senin, 11 Mei 2026, pendekatan paling aman cenderung bukan mengejar harga ketika rebound intraday muncul. Pola pergerakan INCO saat ini lebih cocok untuk skenario akumulasi bertahap di area support dibanding agresif membeli di harga atas.
Menariknya, kenaikan porsi asing di tengah koreksi tajam membuat sebagian pelaku pasar mulai melihat pelemahan INCO bukan sekadar distribusi biasa. Ada indikasi investor strategis masih mempertahankan posisi pada saham nikel ini, terutama setelah struktur kepemilikan asing kembali naik pada April 2026.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.