Logo
>

Harga Emas Pede Bergerak Menuju USD5.000

Pembukaan Selat Hormuz tekan harga minyak dan dorong ekspektasi penurunan suku bunga, emas global menguat namun permintaan India justru tertahan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Harga Emas Pede Bergerak Menuju USD5.000
Harga emas mulai melesat naik, menuju USD5.000. Namun pasar Asia bergerak sedikit melambat. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga emas dunia kembali menemukan momentumnya di akhir pekan. Emas bergerak naik Ketika dolar Amerika Serikat melemah dan harga minyak turun tajam. Kombinasi ini memang selalu membentuk perubahan arah sentimen yang cukup cepat.

Kepastian jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka di tengah gencatan senjata, disambut pasar sebagai sinyal meredanya tekanan inflasi global, yang selama beberapa pekan sebelumnya menjadi faktor penahan pergerakan emas.

Di pasar spot, emas tercatat menguat 1,5 persen ke level USD4.861,32 per ons pada Jumat waktu setempat, 17 April 2026. Penguatan ini sekaligus memperpanjang kenaikan mingguan menjadi lebih dari 2 persen. 

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutup di USD4.879,60 per ons, juga naik 1,5 persen. Pergerakan ini menempatkan emas kembali mendekati area psikologis US5.000 per ons, level yang dalam beberapa sesi terakhir sempat menjadi batas resistensi jangka pendek.

Emas Asia Bergerak Moderat

Meski harga global bergerak naik, dinamika permintaan fisik di Asia justru menunjukkan pola yang berbeda. Di India, sebagai salah satu konsumen emas terbesar dunia, aktivitas pembelian justru terpantau moderat. 

Harga domestik yang tinggi menjadi faktor utama penahan permintaan, terutama menjelang festival Akshaya Tritiya yang biasanya menjadi momentum pembelian emas terbesar kedua setelah Dhanteras.

Harga emas di pasar domestik India tercatat berada di kisaran 153.200 rupee per 10 gram pada Jumat, setelah sempat menyentuh 155.065 rupee pada awal pekan. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam satu bulan terakhir. 

Kenaikan harga ini tidak diikuti oleh lonjakan permintaan ritel. Kondisi ini berbeda dengan pola historis, di mana pembelian biasanya meningkat menjelang festival. Pelaku pasar lokal mencatat bahwa pembeli cenderung menahan transaksi karena harga yang dinilai terlalu tinggi.

Struktur pasar fisik di India juga dipengaruhi oleh faktor kebijakan. Sejumlah bank menghentikan pemesanan impor emas dan perak karena belum adanya keputusan resmi pemerintah terkait izin impor. 

Kondisi ini menyebabkan logam mulia tertahan di bea cukai dan menciptakan hambatan distribusi di pasar domestik. Namun demikian, premi harga tidak melonjak signifikan karena permintaan yang masih lemah serta adanya tekanan jual dari produk exchange-traded fund.

Pasar Emas China Stabil

Di sisi lain, pasar China menunjukkan stabilitas yang relatif lebih terjaga. Premi emas fisik berada di kisaran USD3 hingga USD6 per ons di atas harga acuan global, tidak jauh berubah dari pekan sebelumnya. 

Permintaan yang tidak terlalu kuat diimbangi oleh pembelian bank sentral, meskipun laju akumulasi cadangan biasanya melambat pada kuartal kedua. Kondisi ini menjaga harga tetap stabil tanpa mendorong lonjakan signifikan dari sisi permintaan ritel.

Pasar regional lainnya bergerak dalam rentang yang sempit. Di Hong Kong, emas diperdagangkan dari harga setara hingga premi USD2 per ons. Sementara di Jepang, berada di kisaran harga spot. 

Singapura mencatat premi tipis antara USD1 hingga USD3 per ons. Premi ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik cenderung stabil tanpa tekanan permintaan yang besar.

Logam Mulia Lain Naik Signifikan

Selain emas, logam mulia lainnya menunjukkan penguatan yang lebih agresif. Perak melonjak 4,2 persen ke USD81,71 per ons dan mencatat kenaikan mingguan lebih dari 7 persen. Platinum dan palladium masing-masing naik 1,6 persen, melanjutkan tren penguatan seiring perbaikan sentimen industri dan ekspektasi permintaan.

Secara keseluruhan, pergerakan emas saat ini terbentuk dari interaksi tiga faktor utama: pelemahan dolar, koreksi harga energi, dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Namun, di sisi fisik, khususnya di Asia, kenaikan harga belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan permintaan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79