Logo
>

Harita Nickel (NCKL) Pastikan Konflik Timur Tengah belum Ganggu HPAL

Harita Nickel memastikan operasional HPAL tetap berjalan normal meski konflik Timur Tengah sempat mengganggu distribusi sulfur.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harita Nickel (NCKL) Pastikan Konflik Timur Tengah belum Ganggu HPAL
Fasilitas pengolahan nikel PT Halmahera Persada Lygend (HPL) milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. Perseroan menyebut pabrik nikel sulfat tersebut merupakan yang pertama di Indonesia sekaligus memiliki kapasitas produksi terbesar di dunia. Foto: Dok. Harita Nickel

KABARBURSA.COMPT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel memastikan eskalasi konflik di Timur Tengah belum mengganggu operasional fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) milik perseroan. Meski distribusi sulfur sempat terdampak akibat penutupan Selat Hormuz, perusahaan menyatakan telah mengantisipasi kondisi tersebut jauh sebelum gangguan pasokan terjadi.

Isu pasokan sulfur menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa waktu terakhir. Sulfur merupakan salah satu bahan baku penting dalam proses HPAL yang digunakan untuk mengolah bijih nikel kadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama pembuatan nikel sulfat untuk baterai kendaraan listrik.

Menanggapi pertanyaan investor dalam Public Expose Tahunan pada akhir bulan Juni lalu, manajemen Harita Nickel menjelaskan gangguan distribusi sulfur memang sempat terjadi setelah konflik di Timur Tengah memanas.

“Sehubungan dengan dampak pasokan sulfur, Perseroan menyampaikan bahwa sejak terjadinya konflik dan penutupan Selat Hormuz pada tahun 2026, distribusi sulfur memang mengalami sedikit hambatan,” demikian keterangan perseroan yang dilihat dalam keterbukaannya, Sabtu, 4 Juli 2026.

Meski demikian, perusahaan menyatakan telah menyiapkan langkah mitigasi sejak akhir 2025 dengan mengamankan pasokan sulfur untuk kebutuhan produksi beberapa bulan ke depan.

“Perseroan telah mengantisipasi tren kenaikan harga sulfur dengan memastikan ketersediaan pasokan dan stok sulfur di site mencukupi kebutuhan produksi untuk jangka waktu minimal 3 hingga 4 bulan,” tulis perseroan.

Strategi tersebut membuat operasional HPAL tetap berjalan normal meski harga sulfur mengalami kenaikan secara bertahap. Harita menegaskan hingga saat ini belum mengalami kendala dalam melakukan pengisian kembali atau restock sulfur karena memiliki sumber pasokan yang terdiversifikasi.

“Hingga saat ini, Perseroan tidak mengalami kendala dalam melakukan restock sulfur, mengingat Perseroan memiliki diversifikasi pemasok sulfur dan tidak bergantung pada satu negara atau kawasan Timur Tengah semata,” jelas Harita.

Selain menjelaskan kesiapan menghadapi risiko rantai pasok, Harita Nickel juga memberikan pandangannya terhadap prospek industri baterai berbasis nikel di tengah dominasi baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP), khususnya di pasar China.

Manajemen menilai baterai berbasis nikel dan baterai LFP pada dasarnya melayani segmen pasar yang berbeda. Baterai berbasis nikel umumnya digunakan pada kendaraan listrik kelas menengah hingga premium yang membutuhkan kapasitas penyimpanan energi lebih besar. Segmen tersebut masih banyak dijumpai di pasar Eropa dan Amerika Serikat yang memiliki karakteristik perjalanan jarak jauh dengan infrastruktur pengisian daya yang belum sepadat China.

Sebaliknya, baterai LFP lebih banyak digunakan di China karena didukung jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik yang lebih luas sehingga kendaraan dengan kapasitas baterai lebih kecil tetap dapat beroperasi secara optimal.

Harita Nickel juga menilai baterai Nickel Cobalt Manganese (NCM) memiliki keunggulan dari sisi keberlanjutan karena tingkat daur ulangnya lebih tinggi. Menurut perseroan, baterai NCM yang telah habis masa pakai dapat diolah kembali menjadi black mass atau black powder sebelum diproses menjadi nikel sulfat.

Perseroan menyebut dalam jangka panjang kebutuhan nikel untuk industri baterai berpotensi semakin banyak dipenuhi melalui proses daur ulang baterai berbasis nikel tanpa harus bergantung sepenuhnya pada aktivitas penambangan baru.

Dalam kesempatan yang sama, Harita Nickel juga menjelaskan kontribusi segmen penambangan nikel yang diproyeksikan meningkat sepanjang 2026. Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya kebutuhan bijih nikel untuk memasok fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) terbaru milik PT Karunia Permai Sentosa.

Meski mengakui margin persentase segmen penambangan lebih tinggi dibandingkan segmen pengolahan karena biaya produksinya lebih rendah, perusahaan menegaskan kontribusi nominal bisnis pengolahan tetap lebih besar. Hal itu disebabkan harga jual produk hasil pengolahan jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual bijih nikel meski volume penjualannya lebih kecil.

Harita Nickel turut menanggapi dampak penguatan dolar Amerika Serikat terhadap kinerja perusahaan. Menurut manajemen, apresiasi nilai tukar dolar tidak memberikan dampak negatif karena seluruh pendapatan dari segmen pengolahan nikel berasal dari kegiatan ekspor yang menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

Sementara itu, untuk segmen penambangan, meskipun pembayaran diterima dalam rupiah, harga jual bijih nikel tetap mengacu pada harga referensi London Metal Exchange (LME) yang berbasis dolar Amerika Serikat sebelum dikonversi ke rupiah. Dengan struktur tersebut, perusahaan menilai penguatan dolar tidak menjadi risiko material bagi operasional maupun pendapatannya.

Fundamental Harita Nickel Tetap Bertumbuh

Di tengah kekhawatiran terhadap rantai pasok global, Harita Nickel justru membukukan pertumbuhan operasional sepanjang 2025. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan produksi, ekspansi fasilitas pengolahan, serta integrasi bisnis dari hulu hingga hilir.

Berdasarkan laporan kinerja 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp29,6 triliun atau naik 9,9 persen dibandingkan Rp27 triliun pada 2024. Laba bersih meningkat lebih tinggi, yakni 42,2 persen menjadi Rp11 triliun dari Rp7,7 triliun pada tahun sebelumnya. Marjin laba bersih perusahaan juga mencapai 37,02 persen.

Di sisi neraca, total aset Harita Nickel meningkat menjadi Rp61,8 triliun hingga akhir 2025 atau tumbuh 18,2 persen dibandingkan Rp52,3 triliun pada 2024. Sementara itu, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) turun menjadi 0,20 kali dari 0,30 kali pada tahun sebelumnya, mencerminkan tingkat leverage yang semakin rendah.

Dari sisi operasional pertambangan, Harita Nickel mengoperasikan tambang terbuka atau open cast mining yang menghasilkan dua jenis bijih nikel, yakni saprolit berkadar tinggi dan limonit berkadar lebih rendah. Berdasarkan data Mineral Resources and Ore Reserves (MROR) 2025, perseroan memiliki estimasi total sumber daya dan cadangan bijih nikel sebesar 310,8 juta wet metric ton (WMT), yang terdiri atas 215,1 juta WMT bijih limonit dan 95,7 juta WMT bijih saprolit.

Volume penjualan bijih nikel sepanjang 2025 mencapai 30,59 juta WMT atau meningkat 28,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan saprolit tercatat sebesar 12,09 juta WMT atau naik 32 persen, sedangkan limonit mencapai 18,5 juta WMT atau meningkat 26,8 persen.

Perseroan menjelaskan kenaikan penjualan saprolit didorong oleh rampungnya pembangunan smelter PT Karunia Permai Sentosa (KPS) fase pertama dan kedua sepanjang 2025. Adapun peningkatan penjualan limonit mengikuti kebutuhan pasokan bahan baku untuk pabrik HPAL kedua milik PT Obi Nickel Cobalt (ONC) yang telah beroperasi penuh selama satu tahun dengan tiga lini produksi.

Di sektor hilirisasi, Harita Nickel kini mengoperasikan tiga fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), yakni PT Megah Surya Pertiwi (MSP), PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), dan PT Karunia Permai Sentosa (KPS). Dengan beroperasinya delapan lini produksi KPS sepanjang 2025, kapasitas terpasang ketiga smelter tersebut mencapai sekitar 240.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun.

Sementara itu, pada bisnis pengolahan limonit, perseroan mengoperasikan dua fasilitas HPAL melalui PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC). Kedua fasilitas tersebut memiliki kapasitas kolektif mencapai 120.000 ton logam nikel dan kobalt per tahun, termasuk sekitar 14.250 ton logam kobalt.

Sejalan dengan peningkatan kapasitas produksi tersebut, penjualan MHP beserta produk turunannya berupa nikel sulfat mencapai 130.551 ton sepanjang 2025 atau meningkat 27,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain memperkuat kapasitas produksi, Harita Nickel juga melanjutkan penguatan praktik keberlanjutan. Perseroan tengah menjalani audit Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), memperluas penerapan Responsible Minerals Initiative–Responsible Minerals Assurance Process (RMI RMAP), serta memperkuat sistem keselamatan dan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari upaya memenuhi standar pertambangan internasional.

Ke depan, Harita Nickel menyatakan strategi perusahaan akan tetap berfokus pada penguatan fundamental bisnis melalui keamanan pasokan bahan baku, integrasi rantai nilai dari tambang hingga hilirisasi, efisiensi struktur biaya, penguatan organisasi, serta integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) ke dalam setiap pengambilan keputusan bisnis.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).