Logo
>

Harita Nickel (NCKL) Yakin Baterai Nikel belum Kalah dari LFP

Harita Nickel (NCKL) menilai baterai nikel dan LFP memiliki pasar berbeda. Permintaan bahan baku baterai berbasis nikel diyakini tetap prospektif.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Harita Nickel (NCKL) Yakin Baterai Nikel belum Kalah dari LFP
Kawasan operasional dan fasilitas pengolahan nikel milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. Perseroan terus memperkuat kapasitas hilirisasi untuk memasok bahan baku industri baterai kendaraan listrik. Harita Nickel menyebut baterai nikel dan LFP memiliki segmen pasar berbeda. NCKL optimistis permintaan MHP dan nikel sulfat tetap tumbuh. Foto: Instagram @harita.nickel

KABARBURSA.COM – Dominasi baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) di pasar kendaraan listrik China mulai memunculkan pertanyaan baru mengenai masa depan industri nikel. Ketika sekitar 80 persen instalasi baterai kendaraan listrik di negara tersebut kini menggunakan teknologi LFP, sebagian investor mempertanyakan apakah permintaan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat masih cukup kuat untuk menyerap tambahan kapasitas pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) yang terus dibangun di Indonesia.

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam Public Expose Tahunan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel pada akhir Juni 2026 lalu. Investor meminta penjelasan mengenai prospek permintaan bahan baku baterai berbasis nikel di tengah semakin besarnya pangsa pasar LFP.

Menanggapi hal tersebut, manajemen Harita Nickel (NCKL) menilai persaingan antara baterai berbasis nikel dan LFP tidak bisa dipandang sebagai hubungan saling menggantikan. Menurut perseroan, kedua teknologi tersebut justru melayani kebutuhan pasar yang berbeda.

“Terkait dengan persaingan antara baterai berbasis Lithium Ferro Phosphate (LFP) dan baterai berbasis nikel, Perseroan memandang bahwa kedua jenis baterai tersebut pada dasarnya melayani segmen pasar yang berbeda,” demikian seperti dilihat dalam  laporan hasil Public Expose Tahunan, Minggu, 4 Juli 2026.

Harita Nickel (NCKL) menjelaskan baterai berbasis nikel umumnya digunakan pada kendaraan listrik kelas menengah hingga premium yang membutuhkan kapasitas penyimpanan energi lebih besar. Karakteristik tersebut banyak ditemui di pasar Eropa dan Amerika Serikat yang memiliki kebutuhan perjalanan jarak jauh, sementara infrastruktur pengisian daya masih relatif terbatas. Pada segmen tersebut, sejumlah produsen otomotif seperti BMW, Mercedes-Benz, Hyundai, Kia, Volkswagen, dan Toyota masih banyak menggunakan baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC) untuk model kendaraan listrik mereka yang mengutamakan jarak tempuh lebih panjang.

Sebaliknya, baterai LFP lebih banyak berkembang di China karena didukung jaringan stasiun pengisian kendaraan listrik yang jauh lebih luas. Dengan kondisi tersebut, kendaraan berkapasitas baterai lebih kecil tetap dapat beroperasi secara optimal karena frekuensi pengisian daya dapat dilakukan lebih sering.

Selain segmentasi pasar, Harita Nickel (NCKL) juga menilai baterai berbasis NCM memiliki nilai tambah dari sisi keberlanjutan. Perseroan menyebut tingkat daur ulang baterai NCM lebih tinggi dibandingkan teknologi lainnya.

“Baterai NCM bekas dapat diolah kembali menjadi black mass atau black powder untuk diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat,” demikian penjelasan NCKL.

Menurut Harita Nickel (NCKL), kemampuan tersebut menjadi salah satu keunggulan baterai berbasis nikel karena dapat mendukung proses produksi yang lebih ramah lingkungan. Perseroan bahkan memperkirakan dalam 20 hingga 30 tahun mendatang sebagian kebutuhan nikel untuk industri baterai dapat dipenuhi melalui proses daur ulang baterai yang telah habis masa pakainya tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penambangan baru.

Pertumbuhan Fundamental Harita Nickel (NCKL)

Optimisme terhadap prospek baterai berbasis nikel tersebut sejalan dengan ekspansi bisnis yang dijalankan Harita Nickel (NCKL) sepanjang 2025. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp29,6 triliun atau meningkat 9,9 persen dibandingkan Rp27 triliun pada 2024. Laba bersih tumbuh lebih tinggi, yakni 42,2 persen menjadi Rp11 triliun dari Rp7,7 triliun pada tahun sebelumnya.

Di sisi neraca, total aset meningkat menjadi Rp61,8 triliun hingga akhir 2025 atau naik 18,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) turun menjadi 0,20 kali dari 0,30 kali pada 2024, yang menunjukkan tingkat leverage perusahaan semakin rendah.

Pertumbuhan tersebut juga tercermin dari aktivitas operasional. Sepanjang 2025, volume penjualan bijih nikel mencapai 30,6 juta wet metric ton (WMT), meningkat 28,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Perseroan mencatat penjualan bijih saprolit mencapai 12,09 juta WMT atau meningkat 32 persen. Sementara penjualan bijih limonit naik 26,8 persen menjadi 18,5 juta WMT.

Harita Nickel (NCKL) menjelaskan peningkatan penjualan saprolit didorong oleh selesainya pembangunan smelter PT Karunia Permai Sentosa (KPS) fase pertama dan kedua pada 2025. Adapun kenaikan penjualan limonit sejalan dengan kebutuhan pasokan bahan baku untuk pabrik HPAL kedua milik PT Obi Nickel Cobalt (ONC) yang telah beroperasi penuh selama satu tahun dengan tiga lini produksi.

Untuk mendukung kegiatan penambangan, Harita Nickel mengungkapkan memiliki estimasi total sumber daya dan cadangan bijih nikel sebesar 310,8 juta WMT berdasarkan data Mineral Resources and Ore Reserves (MROR) 2025. Jumlah tersebut terdiri atas 215,1 juta WMT bijih limonit dan 95,7 juta WMT bijih saprolit.

Pada sisi hilirisasi, perseroan kini mengoperasikan tiga fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), yakni PT Megah Surya Pertiwi (MSP), PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), dan PT Karunia Permai Sentosa (KPS).

Dengan beroperasinya delapan lini produksi KPS sepanjang 2025, total kapasitas terpasang ketiga smelter tersebut mencapai sekitar 240.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun.

Sementara itu, pengolahan bijih limonit dilakukan melalui dua fasilitas HPAL yang dioperasikan PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC). Kedua fasilitas tersebut memiliki kapasitas kolektif sekitar 120.000 ton logam nikel dan kobalt per tahun, termasuk sekitar 14.250 ton logam kobalt.

Sejalan dengan peningkatan kapasitas tersebut, penjualan produk MHP beserta produk turunannya berupa nikel sulfat mencapai 130.551 ton sepanjang 2025 atau meningkat 27,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain memperluas kapasitas produksi, Harita Nickel juga melanjutkan penguatan praktik keberlanjutan. Perseroan menyatakan terus menerapkan Responsible Minerals Initiative–Responsible Minerals Assurance Process (RMI RMAP), memperkuat sistem manajemen keselamatan dan lingkungan, serta menjalani proses audit Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).

Dalam Public Expose Tahunan, Harita Nickel (NCKL) juga menyampaikan proses audit IRMA telah berlangsung sejak 2024 dan saat ini memasuki tahap corrective action period sebelum dilakukan verifikasi ulang oleh auditor.

“Perseroan tengah dalam tahapan corrective action period, sesuai dengan rekomendasi yang disampaikan oleh auditor pada saat audit permulaan, guna melakukan penyempurnaan dan koreksi sebelum proses tersebut diverifikasi kembali oleh auditor. Perseroan berharap auditor dapat melaksanakan verifikasi ulang pada tahun ini,” tulis perseroan.

Ke depan, Harita Nickel (NCKL) menyatakan strategi perusahaan akan tetap difokuskan pada penguatan fundamental bisnis melalui keamanan pasokan sumber daya, integrasi rantai nilai dari pertambangan hingga hilirisasi, efisiensi struktur biaya, penguatan organisasi, serta integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan ke dalam setiap pengambilan keputusan bisnis.

Investor yang ingin membaca secara utuh hasil Public Expose Tahunan NCKL dapat mengakses dokumen resmi yang telah dipublikasikan melalui laman ini: Laporan Hasil Public Expose Tahunan NCKL. (*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).