Logo
>

IEA Sebut Pasar Minyak Masuk Fase Anomali, Permintaan Turun, Harga Tetap Naik

IEA menilai pasar minyak global masuk fase anomali saat permintaan turun namun harga tetap naik akibat gangguan pasokan dan konflik.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
IEA Sebut Pasar Minyak Masuk Fase Anomali, Permintaan Turun, Harga Tetap Naik
IEA sebut pasar minyak anomali, permintaan turun tapi harga tetap naik akibat gangguan pasokan global dan konflik Timur Tengah. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Perang di Timur Tengah bukan cuma soal militer. Dampaknya langsung terasa ke jantung ekonomi global, terutama energi. Laporan terbaru dari International Energy Agency atau IEA menunjukkan pasar minyak sedang mengalami tekanan yang tidak biasa. Permintaan turun, pasokan ambruk, tapi harga justru melonjak tajam.

Lembaga energi global itu memperkirakan permintaan minyak dunia bakal menyusut sekitar 80 ribu barel per hari sepanjang tahun ini. Angka ini berbalik tajam dari proyeksi sebelumnya yang justru memperkirakan kenaikan 730 ribu barel per hari. Penurunan bahkan diprediksi makin dalam pada kuartal kedua 2026.

“Penurunan permintaan ini akan menjadi yang paling tajam sejak pandemi Covid-19 memangkas konsumsi bahan bakar,” tulis IEA dalam laporannya yang dilihat Rabu, 15 April 2026.

Penurunan konsumsi awalnya paling terasa di kawasan Timur Tengah dan Asia Pasifik. Produk seperti nafta, LPG, dan bahan bakar pesawat menjadi yang paling terdampak. Namun seiring kelangkaan pasokan dan harga yang terus naik, tekanan diperkirakan akan menyebar ke berbagai sektor dan wilayah lain.

Di sisi pasokan, situasinya bahkan lebih drastis. Produksi minyak global pada Maret anjlok hingga 10,1 juta barel per hari menjadi hanya 97 juta barel per hari. Gangguan ini dipicu serangan terhadap infrastruktur energi serta pembatasan pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz.

“Gangguan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” tulis laporan tersebut.

Produksi negara-negara OPEC+ turun tajam 9,4 juta barel per hari menjadi 42,4 juta barel per hari. Sementara pasokan dari negara non-OPEC+ juga ikut menyusut meski lebih kecil.

Tekanan tidak berhenti di hulu. Kilang minyak di berbagai kawasan ikut terpukul akibat terganggunya pasokan bahan baku. Pada April, kapasitas pengolahan minyak global turun sekitar 6 juta barel per hari menjadi 77,2 juta barel per hari. Secara keseluruhan, aktivitas pengolahan diperkirakan akan turun rata-rata 1 juta barel per hari sepanjang 2026.

Di tengah gangguan ini, stok minyak global juga mengalami penyusutan signifikan. Pada Maret lalu, cadangan minyak dunia turun 85 juta barel. Negara-negara di luar kawasan Teluk bahkan mengalami penurunan lebih tajam karena jalur distribusi melalui Selat Hormuz tersendat.

Sementara itu, di kawasan Timur Tengah justru terjadi penumpukan stok karena distribusi terhambat. Penyimpanan minyak terapung meningkat hingga 100 juta barel, sementara stok darat naik 20 juta barel. China juga menambah cadangan sekitar 40 juta barel sebagai langkah antisipasi.

Situasi ini menciptakan anomali di pasar. Di satu sisi, permintaan turun. Di sisi lain, harga justru melonjak. Pada Maret, harga minyak mencatat kenaikan bulanan terbesar sepanjang sejarah.

Minyak acuan bahkan sempat diperdagangkan di kisaran USD130 per barel atau sekitar Rp2.197.000 per barel. Dalam kondisi ekstrem, harga fisik minyak sempat mendekati USD150 per barel atau sekitar Rp2.535.000 per barel. “Lonjakan ini terjadi karena kilang berebut menggantikan pasokan dari Timur Tengah yang terhenti,” tulis IEA.

IEA menilai kunci stabilitas pasar saat ini ada pada satu titik, yakni Selat Hormuz. Jalur ini menjadi nadi distribusi energi global yang menentukan keseimbangan pasokan dan harga.

Namun hingga kini, arus distribusi masih jauh dari normal. Pada awal April, volume pengiriman minyak melalui selat tersebut hanya sekitar 3,8 juta barel per hari. Angka ini turun drastis dibandingkan lebih dari 20 juta barel per hari sebelum konflik.

Sebagai alternatif, negara-negara produsen mulai mengalihkan ekspor melalui jalur lain. Volume pengiriman dari wilayah seperti Arab Saudi bagian barat dan Uni Emirat Arab meningkat menjadi 7,2 juta barel per hari. Meski begitu, total kehilangan pasokan global tetap mencapai lebih dari 13 juta barel per hari.

Di sisi lain, konsumen dan pelaku industri mulai mengandalkan cadangan untuk menutup kekurangan pasokan. Namun langkah ini tidak cukup. Di banyak negara, industri petrokimia mulai mengurangi produksi karena kekurangan bahan baku. Konsumsi LPG dan bahan bakar pesawat juga ikut tertekan. “Ketika stok tidak lagi mampu menutup kekurangan, permintaan akhirnya ikut tertekan,” tulis IEA.

Ke depan, ketidakpastian masih sangat tinggi. IEA memproyeksikan pasokan energi dari Timur Tengah bisa mulai pulih pada pertengahan tahun, meski belum kembali ke level normal. Namun skenario ini dinilai cukup optimistis.

Jika konflik berlanjut, pasar energi global berpotensi menghadapi gangguan yang lebih dalam dan berkepanjangan. Dalam kondisi ini, dunia tidak hanya menghadapi krisis pasokan, tetapi juga tekanan ekonomi yang meluas. Dengan kata lain, perang ini tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di pasar energi global yang dampaknya dirasakan hingga ke kantong konsumen di berbagai negara.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).