KABARBURSA.COM — Kenaikan kuota impor indukan ayam di tingkat hulu memberi ruang ekspansi bagi pelaku industri perunggasan. PT Janu Putra Sejahtera Tbk atau AYAM meningkatkan pasokan Grand Parent Stock (GPS) pada 2026, termasuk dari Amerika Serikat, seiring proyeksi lonjakan kebutuhan daging ayam dalam negeri dalam beberapa tahun ke depan.
Langkah itu mengikuti keputusan pemerintah yang menaikkan kuota impor GPS nasional dari 578.000 ekor menjadi 800.000 ekor pada tahun ini. Tambahan pasokan tersebut disiapkan untuk menopang kebutuhan protein hewani, salah satunya dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG yang mulai membentuk permintaan dasar baru di pasar domestik.
Di tengah ketergantungan terhadap impor indukan level hulu, perseroan memperbesar realisasi pasokan dari Amerika Serikat dan Selandia Baru dibandingkan tahun sebelumnya. AYAM menjadi salah satu perusahaan yang memperoleh alokasi impor 580.000 ekor dari Amerika Serikat. Kebijakan ini berkaitan dengan implementasi Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari 2026.
Direktur Utama AYAM Sri Mulyani menyebut peningkatan impor dilakukan berdasarkan kalkulasi kebutuhan industri dan proyeksi permintaan jangka menengah.
“Sentimen industri sedang sangat positif. Stabilisasi harga livebird melalui penetapan HPP, pengendalian oversupply lewat kebijakan culling DOC, serta dukungan stabilisasi pakan seperti SPHP Jagung membuat fondasi industri jauh lebih sehat. Dengan tambahan demand dasar dari MBG, kami melihat peluang pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis 26 Februari 2026.
Dalam rantai produksi perunggasan, setiap satu indukan GPS dapat menghasilkan sekitar 50 hingga 60 Parent Stock. Dari level itu, masing-masing Parent Stock akan menghasilkan sekitar 150 hingga 160 ayam pedaging. Tambahan impor pada tahun ini baru akan terasa dampaknya terhadap pasokan nasional dalam rentang dua hingga tiga tahun mendatang.
AYAM saat ini memiliki kapasitas kandang GP sebesar 60.000 ekor, namun pengisian operasional dibatasi maksimal 30.000 ekor setiap periode. Pembatasan tersebut dilakukan untuk menjaga standar biosekuriti, rotasi siklus produksi sekitar satu setengah tahun, pergantian indukan, serta masa istirahat kandang.
Perusahaan menekankan penambahan impor dilakukan secara bertahap agar sejalan dengan proyeksi permintaan dan tidak memicu kelebihan pasokan. Kebutuhan daging ayam untuk program MBG diperkirakan meningkat hingga 2028 sehingga penyesuaian di level hulu mulai disiapkan sejak sekarang.
Di luar faktor permintaan, perbaikan struktur industri turut ditopang oleh kebijakan harga pokok produksi livebird, pengendalian populasi DOC untuk menahan oversupply, serta stabilisasi harga pakan. Kombinasi faktor tersebut membentuk fondasi baru bagi industri perunggasan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan dalam beberapa tahun mendatang.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.