KABARBURSA.COM — Di tengah panasnya konflik Timur Tengah yang mengganggu jalur pasokan energi global, India mulai mengambil langkah tak biasa. Negara pengimpor minyak terbesar ketiga dunia itu kembali membeli minyak dari Iran setelah sempat berhenti sejak 2019.
Keputusan ini muncul bukan tanpa alasan. Gangguan distribusi akibat konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran membuat pasokan melalui Selat Hormuz tersendat. Kondisi ini memukul negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk India.
Kementerian Perminyakan India memastikan langkah tersebut sebagai bagian dari strategi menjaga pasokan tetap aman. Mereka menegaskan kebutuhan minyak dalam negeri tetap terkendali meski situasi global tidak menentu.
“Di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah, kilang India telah mengamankan kebutuhan minyak mentah, termasuk dari Iran, dan tidak ada kendala pembayaran untuk impor minyak Iran,” tulis kementerian tersebut, dikutip dari Reuters, Ahad, 5 April 2026.
Pernyataan ini menjadi sinyal penting. Artinya, di tengah tekanan geopolitik, India tetap mampu menjaga stabilitas energi tanpa hambatan finansial. Langkah ini juga tidak lepas dari perubahan sikap Amerika Serikat. Bulan lalu, Washington sementara mencabut sanksi terhadap minyak dan produk olahan Iran guna meredam krisis pasokan global.
Dengan pelonggaran itu, ruang manuver negara pengimpor seperti India menjadi lebih leluasa. Pemerintah India bahkan memastikan kebutuhan minyak untuk beberapa bulan ke depan sudah diamankan.
“India mengimpor minyak mentah dari lebih dari 40 negara, dengan perusahaan memiliki fleksibilitas penuh untuk mencari sumber minyak dari berbagai wilayah berdasarkan pertimbangan komersial,” tulis kementerian tersebut.
Fleksibilitas ini menjadi kunci. Ketika satu jalur terganggu, negara masih punya alternatif pasokan lain.
Tak hanya minyak mentah, India juga mulai mengamankan pasokan energi lain. Tercatat, sekitar 44.000 metrik ton LPG dari Iran telah dibeli dan dikirim melalui kapal yang sebelumnya terkena sanksi.
Kapal tersebut sudah bersandar di pelabuhan Mangalore dan mulai membongkar muatan bahan bakar.
Langkah India ini memperlihatkan satu pola yang mulai terlihat di tengah krisis energi global. Negara-negara besar tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu sumber atau satu kebijakan politik. Di sisi lain, keputusan ini juga bisa dibaca sebagai bentuk adaptasi cepat pemerintah dalam menjaga ketahanan energi domestik.
Sanksi Mulai Lentur Saat Pasokan Terjepit
Keputusan India kembali membeli minyak Iran di tengah konflik Timur Tengah bukan muncul tiba-tiba. Langkah ini punya jejak panjang yang berakar sejak tekanan geopolitik Amerika Serikat terhadap Teheran hampir satu dekade terakhir.
India sebelumnya merupakan salah satu pembeli utama minyak Iran. Namun aliran itu terhenti pada Mei 2019, ketika Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mencabut pengecualian sanksi bagi sejumlah negara, termasuk India. Tanpa perlindungan tersebut, setiap transaksi minyak dengan Iran berisiko menyeret perusahaan dan sistem keuangan India ke dalam sanksi sekunder AS.
Sejak saat itu, India praktis menutup keran impor dari Teheran. Negara ini beralih ke pemasok lain seperti Arab Saudi, Irak, hingga Amerika Serikat demi menjaga stabilitas pasokan sekaligus menghindari tekanan politik Washington.
Namun peta itu mulai berubah ketika konflik di Timur Tengah memanas. Gangguan distribusi energi, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia, membuat pasokan global terguncang. Harga melonjak, sementara ketidakpastian logistik meningkat.
Di titik inilah, kebijakan lama mulai diuji realitas baru. India, sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, tidak punya banyak ruang untuk menunggu. Kebutuhan energi domestik yang besar membuat stabilitas pasokan menjadi prioritas mutlak. Ketika jalur pasokan utama terganggu, fleksibilitas menjadi kunci.
Langkah kembali membeli minyak Iran pun bisa dibaca sebagai respons pragmatis, bukan manuver politik terbuka melawan Barat. Terlebih, pelonggaran sementara sanksi oleh Amerika Serikat memberi celah bagi negara-negara importir untuk mengamankan pasokan.
Situasi ini sekaligus mengungkap paradoks dalam geopolitik energi global. Negara yang sebelumnya ditekan melalui sanksi justru kembali dilirik ketika pasar menghadapi kekurangan pasokan.
Iran, dalam konteks ini, memperoleh keuntungan situasional. Dengan posisinya sebagai salah satu produsen besar yang selama ini dibatasi aksesnya ke pasar global, setiap gangguan pasokan langsung meningkatkan relevansinya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.