KABARBURSA.COM - Presiden Donald Trump menandatangani sebuah proklamasi yang memerintahkan pemerintah Amerika Serikat menarik diri dari 66 organisasi internasional yang dianggap tidak lagi selaras dengan kepentingan nasional.
Menurut pernyataan resmi Gedung Putih. Keputusan ini mencakup penarikan dari 31 entitas di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta 35 organisasi internasional non-PBB yang, menurut lembar fakta Gedung Putih yang dirilis Rabu, "beroperasi bertentangan dengan kepentingan nasional, keamanan, kemakmuran ekonomi, atau kedaulatan AS."
Dalam memo presiden, Trump menginstruksikan seluruh lembaga pemerintah untuk menghentikan partisipasi dan pendanaan terhadap organisasi-organisasi tersebut. Sejak lama, Trump dan para sekutunya dikenal skeptis terhadap PBB, berbagai organisasi internasional, serta perjanjian multilateral. Langkah terbaru ini memperluas penarikan AS dari diplomasi iklim global, termasuk mundur dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) 1992.
Perjanjian tersebut awalnya menetapkan tujuan menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan mewajibkan negara anggota melaporkan inventaris emisi tahunan. Kerangka ini juga menjadi dasar Perjanjian Paris, kesepakatan pengurangan emisi karbon yang sebelumnya telah diarahkan Trump untuk ditinggalkan AS dan dijadwalkan berlaku efektif akhir bulan ini.
Langkah ini sejalan dengan pergeseran kebijakan domestik pemerintahan Trump, di mana lembaga regulator mulai menulis ulang aturan yang sebelumnya membatasi polusi dari produksi dan konsumsi bahan bakar fosil.
Kelompok lingkungan memperingatkan bahwa penarikan AS akan menyingkirkan negara tersebut dari pengambilan keputusan penting terkait pemanasan global. "Bukan hanya kontraproduktif membiarkan negara lain menetapkan aturan global menuju transisi energi bersih, tetapi juga berarti melewatkan peluang investasi triliunan dolar, penciptaan lapangan kerja, biaya energi lebih rendah, serta pasar baru bagi teknologi bersih Amerika," ujar Manish Bapna, Presiden Natural Resources Defense Council.
Juru bicara PBB menyatakan organisasi tersebut belum akan memberikan komentar sebelum memperoleh rincian lebih lanjut mengenai keputusan AS.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut kelompok-kelompok tersebut berupaya melemahkan kedaulatan AS. "Tidak dapat diterima lagi mengirimkan darah, keringat, dan harta rakyat Amerika ke lembaga-lembaga ini dengan hasil yang nyaris tidak ada," ujarnya dalam siaran pers Rabu. "Era miliaran dolar uang pembayar pajak mengalir ke kepentingan asing dengan mengorbankan rakyat kita telah berakhir."
Gedung Putih tidak merinci nilai dana yang terlibat dalam penarikan ini. Namun, keputusan tersebut muncul sekitar sepekan setelah PBB menyetujui pemangkasan anggaran sebesar 7 persen di tengah krisis keuangan, sebagian besar dipicu oleh penolakan AS membayar iuran yang menjadi kewajibannya. Pemangkasan ini, termasuk pengurangan sekitar 2.900 posisi, dilakukan saat PBB berupaya menekan biaya di berbagai lini. Tahun lalu, organisasi itu bahkan mengumumkan tidak lagi menyediakan tisu kertas di kamar mandi markas besarnya di New York.(*)