KABARBURSA.COM – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memperluas risiko gangguan terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi nadi perdagangan energi dunia.
Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga pada sistem pasokan global, asuransi pelayaran, hingga cadangan energi strategis negara-negara besar.
Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal ke pangkalan Amerika Serikat di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran atas keamanan lalu lintas tanker di kawasan Teluk Persia.
Pimpinan firma konsultan energi Kloza Advisors, Tom Kloza, menilai eskalasi militer tersebut mengubah perhitungan risiko di sektor energi.
“Serangan Iran terhadap negara-negara tetangga di Teluk Persia mengubah kalkulasi dan skala serangan tersebut memberi tekanan kepada perusahaan asuransi untuk menaikkan tarif kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz atau bahkan menolak memberikan perlindungan asuransi,” ujar Kloza.
Jika premi asuransi melonjak atau perlindungan dihentikan, arus pengiriman minyak dapat terhambat meski tidak terjadi penutupan fisik selat.
Selain minyak mentah, sekitar 20 persen ekspor gas alam cair dunia juga melewati Selat Hormuz, terutama dari Qatar. Gangguan pada jalur ini berpotensi memperluas tekanan ke pasar gas global, terutama di Asia dan Eropa yang masih bergantung pada pasokan LNG.
Mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menyebut kapasitas cadangan produksi minyak dunia sebagian besar berada di negara-negara Teluk.
Jika selat ditutup atau terganggu serius, kapasitas tersebut tidak dapat menjangkau pasar global.
Dalam kondisi tersebut, perhatian akan tertuju pada cadangan minyak strategis Amerika Serikat atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Direktur pelaksana riset ClearView Energy Partners, Kevin Book, menyatakan pemerintah AS memiliki opsi untuk memanfaatkan cadangan tersebut jika harga melonjak tajam.
Cadangan Minyak Strategis AS saat ini menyimpan sekitar 415 juta barel, berdasarkan data Departemen Energi.
Namun, menurut Book, efektivitasnya bergantung pada durasi dan skala gangguan.
“Dalam krisis pasokan, durasi sangat menentukan. Skala juga penting,” tulisnya dalam catatan kepada klien.
“Krisis penuh di Hormuz dapat melampaui kapasitas penyeimbang yang disediakan oleh stok strategis di Amerika Serikat maupun negara anggota Badan Energi Internasional,” tambahnya.
Selain itu, hanya sebagian kecil aliran minyak yang dapat dialihkan melalui jalur alternatif. Arab Saudi memiliki jaringan pipa dari wilayah timur ke Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab memiliki pipa yang berakhir di Teluk Oman. Namun kapasitas tersebut terbatas dibanding volume yang biasa melewati Hormuz.
Jika gangguan berlangsung lama, negara-negara pengimpor besar berpotensi melakukan penimbunan untuk mengamankan pasokan domestik. Kondisi ini dapat memperburuk ketidakseimbangan pasar energi global.
Dalam skenario ekstrem, sistem energi internasional tidak hanya menghadapi lonjakan harga, tetapi juga tekanan distribusi yang dapat memicu perlambatan ekonomi lebih luas.
Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur utama lebih dari sepertiga ekspor minyak laut dunia, setiap eskalasi keamanan di kawasan tersebut menjadi variabel kunci bagi stabilitas energi global dalam jangka pendek maupun menengah. (*)