Logo
>

Kabar dari Iran Angkat Harga Emas, Naik 0,1 Persen

Kabar negosiasi Iran mengangkat harga emas dari tekanan, tetapi bayang-bayang suku bunga tinggi dan arah dolar masih menahan laju kenaikan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Kabar dari Iran Angkat Harga Emas, Naik 0,1 Persen
Harga emas berhasil terangkat tipis, 0,1 persen usai sempat jatuh hingga lebih dari 1 persen pada perdagangan hari ini. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Pergerakan harga emas masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik di Timur Tengah. Pada penutupan perdagangan waktu setempat, 1 Mei 2026, harga emas naik tipis. Kabar negosiasi Iran mengangkat harga dari tekanan yang cukup dalam.

Logam mulia ini menguat 0,1 persen pada pukul 13.50 waktu New York. Sebelumnya, harga sempat jatuh hingga USD4.559.48 per ons, atau terkoreksi lebih dari 1 persen, hingga akhirnya berhasil bangkit ke level USD4.627.63 per ons.

Pemicu utama pembalikan arah ini adalah kabar baru dari konflik Iran. Teheran dilaporkan mengajukan proposal baru untuk membuka kembali jalur negosiasi dengan Amerika Serikat. Berita ini memunculkan ekspektasi meredanya tensi geopolitik.

Presiden World Markets EverBank Chris Gaffney, menyebut kabar tersebut cukup untuk mengangkat harga emas dari tekanan di awal perdagangan. 

“Berita positif terkait negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Iran membantu emas pulih dari pelemahan pagi hari,” ujarnya.

Pelonggaran Suku Bunga

Namun arah pergerakan emas tidak sepenuhnya lepas dari tarik-menarik kepentingan antara sentimen geopolitik dan kebijakan moneter. Harapan berakhirnya konflik justru membuka ruang bagi skenario berbeda, yakni kemungkinan Federal Reserve kembali melonggarkan kebijakan suku bunga jika tekanan inflasi mereda.

Dalam konteks ini, pelemahan dolar AS menjadi katalis tambahan. Indeks dolar (DXY) tercatat melemah terhadap mata uang utama lain. Dengan begitu, harga emas yang dihargakan dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi investor global. Kondisi ini secara teknis meningkatkan daya tarik emas dalam jangka pendek.

Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni juga mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 0,4 persen ke level USD4.649,60 per ons. 

Meski demikian, gambaran mingguan masih menunjukkan tekanan yang belum hilang. Harga emas tercatat masih berada di jalur penurunan sekitar 1,7 persen sepanjang pekan ini. Ini artinya, pemulihan yang terjadi belum cukup kuat untuk membalikkan tren jangka pendek.

Harga Minyak Mulai Mencair

Dinamika lain datang dari pasar energi. Harga minyak justru turun setelah munculnya kabar negosiasi Iran, meski secara mingguan masih mencatat kenaikan. Pergerakan ini menciptakan lapisan sentimen tambahan karena fluktuasi harga energi berkontribusi langsung terhadap ekspektasi inflasi global.

Kenaikan harga energi dalam beberapa waktu terakhir sempat memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dan lonjakan inflasi. Dalam kondisi seperti ini, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang secara historis menjadi tekanan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Hal ini diperkuat oleh sikap Federal Reserve yang pada pekan ini, yang memutuskan untuk menahan suku bunga. Sikap tersebut membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, yang sebelumnya sempat menjadi penopang utama reli emas.

Menariknya, sejak konflik Iran memanas pada akhir Februari, harga emas justru mencatat tren penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran emas sebagai aset lindung nilai tidak selalu bergerak linear terhadap risiko geopolitik, terutama ketika faktor suku bunga dan likuiditas global mengambil peran dominan.

Perak Melesat Tiga Persen

Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan pola yang berbeda. Harga perak melonjak 3 persen ke USD75,91 per ons, didukung oleh kombinasi permintaan industri dan keterbatasan pasokan.

Head of Commodity Strategy Saxo Bank Ole Hansen, mencatat bahwa prospek jangka panjang perak masih ditopang oleh defisit pasar yang telah berlangsung selama enam tahun berturut-turut. Selain itu, penurunan cadangan di atas permukaan dan permintaan kuat dari sektor energi surya serta investor turut memperkuat fondasi harga.

Adapun platinum tercatat naik tipis 0,3 persen ke USD1.992,05 per ons, sementara palladium menguat 0,6 persen ke USD1.532,79. Kenaikan ini menunjukkan bahwa minat terhadap logam mulia secara umum masih bertahan, meski arah emas sebagai acuan utama masih bergerak terbatas.

Pergerakan emas saat ini memperlihatkan fase yang lebih kompleks dibandingkan siklus sebelumnya. Harga tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor dominan, melainkan hasil interaksi antara geopolitik, arah suku bunga, kekuatan dolar, serta dinamika inflasi global yang terus berubah.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79