KABARBURSA.COM - Potensi perputaran uang selama periode libur Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 diproyeksikan tetap besar meski jumlah pemudik diperkirakan menurun. Kadin Indonesia menilai berbagai stimulus pemerintah menjadi faktor utama yang menjaga daya belanja masyarakat.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyebut total perputaran uang selama momen Lebaran tahun ini berpotensi mencapai ratusan triliun rupiah.
“Potensi perputaran uang selama libur Idul Fitri 1447 H tahun 2026 tembus Rp148 triliun,” ujar Sarman dalam keterangan tertulis dikutip Senin, 23 Maret 2026.
Menurut dia, angka tersebut tetap tinggi meskipun jumlah pemudik diperkirakan turun 1,75 persen dibanding tahun lalu. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, jumlah pergerakan masyarakat saat mudik diproyeksikan mencapai 143,9 juta orang atau sekitar 50,6 persen dari total populasi Indonesia.
Jika diasumsikan satu keluarga terdiri dari empat orang, maka jumlah pemudik setara dengan 35.975.000 kepala keluarga. Dengan rata-rata pengeluaran Rp4.125.000 per keluarga, total perputaran uang mencapai Rp148,39 triliun atau meningkat sekitar 8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Bahkan, angka tersebut dinilai masih konservatif. Jika rata-rata pengeluaran keluarga naik menjadi Rp4.500.000, maka potensi perputaran uang bisa mencapai Rp161,88 triliun.
Perputaran uang ini diperkirakan terkonsentrasi di wilayah tujuan mudik seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, serta menyebar ke berbagai daerah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali.
Sarman menjelaskan, tingginya perputaran uang tidak lepas dari berbagai kebijakan stimulus pemerintah yang mendorong mobilitas masyarakat.
Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp911,16 miliar untuk diskon transportasi, termasuk potongan harga hingga 30 persen untuk kereta api dan angkutan laut, serta diskon tiket pesawat ekonomi sebesar 17-18 persen.
Selain itu, diskon tarif tol sebesar 30 persen juga diberlakukan di sejumlah ruas strategis, termasuk koridor Jabodetabek, Trans Jawa, dan Trans Sumatera.
Di sisi lain, faktor penting lainnya adalah pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Pemerintah menganggarkan sekitar Rp65 triliun untuk ASN, TNI-Polri, dan pensiunan. Sementara itu, THR sektor swasta diperkirakan mencapai Rp124 triliun untuk 26,5 juta pekerja.
Tambahan perputaran uang juga berasal dari kebijakan Bonus Hari Raya (BHR) bagi mitra ojek online dan kurir yang diperkirakan mencapai Rp220 miliar untuk sekitar 850 ribu penerima.
Kebijakan Work From Anywhere (WFA) selama periode libur juga dinilai turut mendukung kelancaran arus mudik sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi.
Menurut Sarman, besarnya belanja masyarakat selama Lebaran akan menyasar hampir seluruh sektor usaha, mulai dari transportasi, bahan bakar, hingga konsumsi rumah tangga.
Pengeluaran tersebut mencakup kebutuhan perjalanan seperti tiket dan bahan bakar, perawatan kendaraan, pembelian oleh-oleh, pakaian baru, hingga kebutuhan makanan dan minuman khas Lebaran.
Selain itu, pengeluaran juga mencakup pemberian THR kepada keluarga, zakat, sedekah, hingga belanja kebutuhan pokok seperti daging, ayam, dan buah.
Selama berada di kampung halaman, aktivitas ekonomi juga meningkat di sektor pariwisata dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pedagang makanan, minuman, suvenir, hingga produk khas daerah diperkirakan akan mengalami lonjakan omzet.
Untuk mendukung kebutuhan transaksi masyarakat, Bank Indonesia telah menyiapkan uang tunai sebesar Rp185,6 triliun selama periode Lebaran.
Sarman menilai momentum ini menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya pada kuartal I 2026 yang ditargetkan berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas pasokan energi agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga dalam berbelanja.
“Yang paling penting pemerintah dapat menjaga psikologi masyarakat dengan memastikan ketersediaan BBM dan gas selama Lebaran,” ujar dia.
Ia juga menyoroti faktor eksternal seperti dinamika geopolitik global, termasuk konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang berpotensi memengaruhi pasokan energi domestik.
Melalui berbagai faktor tersebut, perputaran uang selama Lebaran 2026 dinilai tetap menjadi motor penggerak ekonomi, meskipun jumlah pemudik mengalami sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya.(*)