KABARBURSA.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan jika pemerintah tengah berusaha melakukan negosiasi guna membebaskan dua kapal tanker PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di Selat Hormuz.
Bahlil mengakaui terdapat dua kapal milik PIS yang berada di Selat Hormuz. Ia pun menegaskah kapal tersebut sedang mencari tempat yang aman.
"Sekarang kapal itu sedang bersandar untuk mencari tempat aman, kami melakukan negosiasi," ujar dia di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Meski terjebak di Selat Hormuz, Bahlil menyatakan kondisi ini tidak menganggu aktivitas energi Indonesia. Ia bilang, pemerintah selalu berusaha mencari cara terbaik.
"Kesiapan pemerinrah dalam mendesain dan mempersiapkan alternatif untuk crude, BBM, dan LPG, Insya Allah aman," kata dia.
Adapun pada Senin, 2 Maret 2026, PIS dalam keterangannya menyatakan terdapat empat kapal yang tengah berada di beberapa negara Timur Tengah seperti kapal Gamsunoro (Irak), kapal Pertamina Pride (Arab Saudi), PIS Rinjani (Uni Emirat Arab), dan PIS Paragon (Oman).
Seperti diberitakan sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menyatakan, seluruh pekerja, armada, dan operasional perusahaan di Timur Tengah berada dalam pengawasan ketat.
“Seluruh pekerja, operasional dan armada yang berada di wilayah Timur Tengah termonitor secara intensif. Pertamina juga telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi risiko serta memperkuat komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, KBRI, KJRI dan otoritas setempat guna menjaga kelancaran operasional dan keamanan kru,” ujarnya lewat keterangan resmi, Senin, 2 Maret 2026.
Baron melanjutkan, Pertamina juga terus memantau perkembangan dinamika energi global dan melakukan mitigasi. Tujuannya demi memastikan rantai pasok tetap lancar serta menjaga ketahanan energi nasional.
Diversifikasi sumber pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG, baik dari produksi dalam negeri maupun dari berbagai negara mitra, merupakan kunci Pertamina dalam menjaga pasokan di tengah tekanan geopolitik seperti konflik Iran dan Israel-AS.
Selain itu, Pertamina juga melakukan optimalisasi operasional kilang domestik untuk menjaga keseimbangan produksi dan distribusi. Integrasi dari hulu hingga hilir memungkinkan perusahaan memastikan ketersediaan BBM dan LPG bagi masyarakat tetap aman dan memadai.
“Pertamina memperketat pengawasan dan mengupayakan ketahanan pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG tetap aman untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia,” pungkas Baron.
Energi Dunia Tercekik usai Selat Hormuz Lumpuh 5 Hari
Sebelumnya diberitakan, perang antara Amerika Serikat dan Iran kini tak lagi sekadar konflik militer. Dampaknya merembet cepat ke jalur energi global. Serangan kapal selam Amerika terhadap kapal perang Iran di perairan dekat Sri Lanka pada Rabu memperlebar medan konflik sekaligus memperdalam krisis pelayaran di Selat Hormuz yang sudah lumpuh selama lima hari.
Jalur laut paling vital bagi energi dunia itu kini nyaris membeku. Ratusan kapal tertahan, perdagangan minyak dan gas terganggu, sementara harga energi global mulai bergerak liar.
Serangan kapal selam Amerika terhadap kapal Iran terjadi di tengah langkah Presiden AS Donald Trump yang mencoba meredam lonjakan harga energi. Washington bahkan berjanji akan memberikan perlindungan militer bagi kapal-kapal yang mengangkut minyak dan gas dari Timur Tengah.
“Tidak peduli apa yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan aliran energi dunia tetap berjalan,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Kamis, 5 Maret 2026.
Data pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan setidaknya 200 kapal tertahan di perairan terbuka dekat negara-negara produsen energi utama Teluk. Kapal-kapal tersebut termasuk tanker minyak, kapal pengangkut LNG, hingga kapal kargo. Mereka berlabuh di perairan dekat Irak, Arab Saudi, dan Qatar tanpa kepastian kapan bisa melanjutkan pelayaran.
Ratusan kapal lainnya bahkan belum berhasil memasuki Selat Hormuz. Jalur ini merupakan arteri energi global yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan pada jalur ini berarti guncangan bagi seluruh pasar energi internasional.
Sejak konflik pecah pada Sabtu, setidaknya delapan kapal telah terkena dampak serangan di sekitar kawasan tersebut.
Pada Rabu, kapal kontainer berbendera Malta Safeen Prestige dilaporkan rusak akibat proyektil ketika berlayar menuju bagian utara Selat Hormuz. Badan operasi maritim Angkatan Laut Inggris UKMTO mengatakan awak kapal akhirnya meninggalkan kapal setelah serangan tersebut. Beberapa kapal lain juga terkena dampak.
Tanker minyak Libra Trader yang berbendera Kepulauan Marshall mengalami ledakan keras ketika berlayar sekitar 7 sampai 10 mil laut dari pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab. Pecahan proyektil yang tidak diketahui asalnya menghantam kapal itu.
Kapal kargo Gold Oak yang berbendera Panama juga terkena proyektil di lokasi yang sama. Meski begitu, kedua kapal tersebut tidak mengalami kerusakan besar dan tidak ada korban dari awak kapal. (*)