KABARBURSA.COM - Harga emas mengalami penurunan pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026 imbas kekhawatiran akan inflasi karena konflik Timur Tengah.
Dalam laporannya, Reuters menyebut kondisi itu berpotensi membuat suku bunga The Fed akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,5 persen menjadi USD4.994,89 per ons setelah mencapai level terendah sejak 19 Februari di awal sesi. Sementara itu Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April turun 0,6 persen menjadi USD5.031,50.
Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures mengatakan dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi pun akan meningkat. Menurutnya, hal ini bisa membuat bank central Amerika Serikat (AS), The fed tidak akan memangkas suku bunga acuan yang akhirnya berimbas negatif terhadap harga emas.
"Jika inflasi meningkat, bank sentral tidak akan termotivasi seperti enam bulan lalu untuk memangkas suku bunga, yang berdampak negatif bagi harga emas," kata dia.
"Namun saya masih sangat optimis terhadap emas, mengingat apa yang terjadi di seluruh dunia. Banyak uang masih menunggu untuk memasuki pasar ini, dan saya masih memperkirakan harga emas akan mencapai USD6.000/ons." tambahnya.
Emas, yang biasanya digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, cenderung berkinerja buruk dalam lingkungan suku bunga tinggi karena biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil meningkat.
Selain itu, yang juga menjadi perhatian pasar minggu ini adalah data Indeks Harga Produsen (PPI) AS, keputusan kebijakan Federal Reserve, pidato Ketua The Fed Jerome Powell, dan angka klaim pengangguran mingguan AS.
The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan hari Selasa dan Rabu.
Di sisi lain, harga perak spot naik 0,4 persen menjadi USD80,79. Harga platinum spot menguat 3,9 persen ke level USD2.103,31 dan paladium naik 2,9 persen di harga USD1.596,25. (*)