KABARBURSA.COM - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui jika masih terdapat banyak tantangan yang menyelimuti transformasi digital sektor manufaktur Indonesia.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan transformasi industri saat ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pembangunan ekosistem manufaktur yang terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan.
Agus menilai tantangan transformasi digital sektor manufaktur di Indonesia saat ini terletak pada kesiapan teknologi digital dan kualitas tenaga kerja.
"Oleh karena itu, penguatan SDM industri menjadi fondasi yang sangat penting,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis, 28 Mei 2026.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi memandang dunia industri saat ini membutuhkan tenaga kerja yang mampu memanfaatkan teknologi digital, memahami otomatisasi dan Internet of Things (IoT), mengelola data industri, meningkatkan efisiensi energi, hingga mendukung agenda dekarbonisasi dan industri hijau.
“Indonesia memiliki peluang besar karena didukung populasi usia produktif yang sangat besar. Namun, peluang tersebut harus diiringi dengan pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan,” ujar dia.
Doddy menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, institusi pendidikan, dan mitra internasional menjadi faktor penting dalam menciptakan SDM industri yang inovatif dan kompetitif secara global.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BPSDMI turut berpartisipasi aktif dalam ASEAN-Japan Forum yang berlangsung di Jakarta pada Selasa 19 Mei 2026.
Forum tersebut menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, pelaku industri, dan akademisi dalam pengembangan SDM industri di kawasan ASEAN.
Dalam forum tersebut, Presiden Direktur Japan External Trade Organization (JETRO) Jakarta Shinji Hirai menyampaikan bahwa tantangan utama yang dihadapi berbagai negara saat ini adalah memenuhi kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan pemecahan masalah, adaptif terhadap perubahan, dan mampu berkontribusi secara efektif di dunia kerja.
“Hal ini sangat relevan di Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi sedang kuat dan angkatan kerjanya muda serta dinamis, sementara industri membutuhkan talenta yang lebih terampil dan siap kerja,” ungkap Shinji.
Adapun Kemenperin bersama mitra internasional juga terus memperkuat program pengembangan SDM industri. Sejak 2022, Kemenperin bersama Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang dan AOTS telah menjalankan proyek pengembangan SDM yang berfokus pada penguatan tenaga pengajar di unit pendidikan tinggi industri, termasuk pengembangan metodologi 5S dan Kaizen guna mendukung produktivitas dan peningkatan kualitas kerja. Pada 2025, program tersebut juga diperluas dengan fokus pada Green Transformation (GX) dan Digital Transformation (DX). (*)