Logo
>

Kiwoom: Outlook Negatif Fitch Bikin Pasar Sensitif terhadap Kebijakan Fiskal

Kiwoom Sekuritas menilai perubahan outlook Fitch meningkatkan kehati-hatian investor terhadap stabilitas fiskal dan risiko volatilitas rupiah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Kiwoom: Outlook Negatif Fitch Bikin Pasar Sensitif terhadap Kebijakan Fiskal
Kiwoom Sekuritas menilai outlook negatif Fitch membuat pasar makin sensitif terhadap kebijakan fiskal, rupiah, dan stabilitas ekonomi Indonesia. Foto: Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Arah kebijakan ekonomi Indonesia kembali menjadi sorotan investor global. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat utang negara pada level BBB yang masih berada dalam kategori investment grade.

Perubahan outlook ini tidak serta-merta menurunkan peringkat kredit Indonesia. Namun bagi pelaku pasar, sinyal tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian lembaga pemeringkat terhadap konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah, terutama di tengah target pertumbuhan yang ambisius.

Tim riset Kiwoom Sekuritas melihat langkah Fitch sebagai peringatan dini bagi investor. Dalam laporan mereka disebutkan bahwa perubahan outlook membuat pasar semakin sensitif terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas eksternal Indonesia.

Outlook Negative meningkatkan sensitivitas pasar terhadap kredibilitas kebijakan fiskal dan stabilitas eksternal Indonesia,” tulis tim riset Kiwoom Sekuritas, Rabu, 4 Maret 2026.

Bagi investor, perubahan ini berarti risiko volatilitas pasar bisa meningkat, khususnya pada pasar obligasi dan nilai tukar rupiah jika sentimen global kembali memburuk.

Fitch menilai ketidakpastian kebijakan ekonomi menjadi salah satu faktor utama di balik perubahan outlook tersebut. Lembaga pemeringkat itu menyoroti meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan ekonomi serta wacana peninjauan kembali Undang-Undang Keuangan Negara.

Jika kerangka disiplin fiskal dilonggarkan, termasuk batas defisit anggaran 3 persen terhadap produk domestik bruto, kredibilitas kebijakan fiskal dikhawatirkan dapat melemah. Dalam skenario seperti itu, risiko terhadap stabilitas makroekonomi dapat meningkat.

Pada saat yang sama, tekanan terhadap anggaran negara diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Fitch memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 bisa mencapai sekitar 2,9 persen terhadap PDB, sedikit di atas target pemerintah yang berada di kisaran 2,7 persen.

Tekanan tersebut terutama berasal dari meningkatnya belanja sosial pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis atau MBG yang diproyeksikan mencapai sekitar 1,3 persen dari PDB sepanjang periode 2025 hingga 2029. Selain itu, percepatan belanja pemerintah pada paruh pertama 2026 juga diperkirakan akan memperlebar tekanan terhadap anggaran negara.

Struktur Pajak Masih Lemah

Fitch juga menyoroti struktur penerimaan negara yang dinilai masih menjadi kelemahan utama Indonesia. Rasio penerimaan terhadap PDB diperkirakan hanya sekitar 13,3 persen pada periode 2026 hingga 2027.

Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan median negara dengan rating BBB yang berada di kisaran 25,5 persen. Dengan basis penerimaan yang relatif kecil, ruang fiskal pemerintah menjadi lebih terbatas ketika menghadapi tekanan belanja. Di tengah kondisi tersebut, pembentukan sovereign wealth fund Danantara ikut menjadi faktor baru dalam dinamika fiskal Indonesia.

Dana investasi negara itu disebut berencana menanamkan dana sekitar USD26 miliar atau setara sekitar Rp438,1 triliun pada 2026. Angka tersebut setara sekitar 1,7 persen dari PDB. Investasi tersebut akan diarahkan pada proyek hilirisasi mineral, energi, pangan, serta sektor pertanian.

Namun Fitch juga mencatat adanya ketidakpastian terkait kemungkinan perluasan mandat Danantara ke aktivitas yang bersifat quasi-fiscal. Jika hal itu terjadi, potensi kewajiban kontinjensi pemerintah bisa meningkat.

Dari sisi eksternal, tekanan juga diperkirakan akan muncul dari melemahnya kinerja ekspor bersih. Fitch memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia dapat melebar menjadi sekitar 0,8 persen terhadap PDB pada 2026.

Meski demikian, cadangan devisa Indonesia dinilai masih cukup kuat. Cadangan tersebut diperkirakan mampu menutup sekitar lima bulan pembayaran transaksi berjalan, sebuah level yang relatif sejalan dengan negara-negara dengan peringkat kredit serupa. Namun sentimen investor tetap berpotensi sensitif, terutama setelah volatilitas pasar domestik dalam beberapa waktu terakhir serta isu tata kelola pasar modal.

Pertumbuhan Ekonomi Masih Jadi Penopang

Di tengah berbagai risiko tersebut, Fitch tetap melihat pertumbuhan ekonomi sebagai kekuatan utama Indonesia. Lembaga pemeringkat itu memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5 persen pada periode 2026 hingga 2027. Angka tersebut hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding median negara dengan rating BBB yang hanya sekitar 2,5 persen.

Pertumbuhan tersebut diperkirakan tetap ditopang oleh permintaan domestik, belanja pemerintah, investasi hilirisasi, serta pelonggaran kebijakan moneter. Bank Indonesia sendiri diperkirakan masih akan menjaga stabilitas rupiah sebagai prioritas utama kebijakan. Dalam proyeksi Kiwoom, bank sentral berpotensi memangkas suku bunga dua kali hingga sekitar 4,25 persen pada akhir 2026.

Meski demikian, kemungkinan perluasan mandat Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi juga dapat menambah kompleksitas dalam menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar.

Pada akhirnya, perubahan outlook dari Fitch bukan sekadar persoalan peringkat kredit. Bagi pasar, ini adalah pengingat bahwa kredibilitas kebijakan ekonomi akan semakin menentukan kepercayaan investor terhadap Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).