KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah 20 poin di level Rp16.925 pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026. Koreksi ini masih berkaitan dengan sentimen konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan konflik di Timur Tengah hingga kini belum ada tanda-tanda mereda. Menurutnya, hal ini membuat pasar keuangan global tetap waspada.
"Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan balasan menyebar di seluruh wilayah dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global," ujar dia dalam keterangannya.
Ibrahim menyebut harga minyak melanjutkan kenaikan kuatnya karena konflik mengancam infrastruktur energi utama dan jalur pelayaran di Teluk. Ia bilang, lonjakan harga minyak mentah telah memicu kekhawatiran tentang gelombang inflasi global yang baru.
"Hal ini telah mempersulit prospek bagi bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS. Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat," ungkapnya.
Lebih jauh Ibrahim membeberkan, investor kini mengalihkan perhatian mereka ke laporan data pekerjaan non-pertanian AS bulan Februari yang akan dirilis. Ia mengatakan laporan ini dapat memberikan sinyal baru tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter.
"Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk menunda pemotongan suku bunga," katanya.
Adapun untuk perdagangan pekan depan, Senin, 9 Maret 2026, Ibrahim menyebut mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.920- Rp16.960.
"Pergerakan rupiah dalam minggu depan range Rp16.850-Rp17.100," pungkasnya. (*)