Logo
>

Krakatau Osaka Steel Tutup, Dihantam Baja Impor Murah

Banjir baja impor murah dan lemahnya permintaan domestik menekan industri baja nasional hingga memicu penutupan pabrik.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Krakatau Osaka Steel Tutup, Dihantam Baja Impor Murah
Ilustrasi industri baja nasional. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Banjir produk baja impor berharga murah di tengah kelebihan pasokan global mulai menekan industri baja nasional.  Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi kinerja perusahaan, tetapi juga berpotensi mengganggu ekosistem industri yang lebih luas.

Kementerian Perindustrian menyampaikan keprihatinan atas kondisi yang dialami PT Krakatau Osaka Steel (KOS), yang menghentikan kegiatan produksi pada akhir April 2026 dan akan menutup seluruh kegiatan usahanya pada Juni 2026.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang dihadapi para pekerja PT Krakatau Osaka Steel.

Pemerintah memahami bahwa keputusan ini memberikan dampak sosial dan ekonomi yang tidak ringan. Oleh sebab itu, kami mengimbau kepada perusahaan untuk memenuhi hak-hak pekerja yang terdampak sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujar Febri dalam keterangan resminya, Selasa, 5 Mei 2026.

Berdasarkan informasi perusahaan, keputusan penghentian produksi tersebut telah ditetapkan melalui rapat Dewan Direksi pada 23 Januari 2026. Perusahaan juga mencatat kerugian sejak tahun 2022 seiring penurunan kinerja bisnis yang terus berlanjut.

Kementerian Perindustrian menjelaskan bahwa penurunan permintaan baja konstruksi di pasar domestik serta meningkatnya persaingan dengan produk baja impor berharga lebih murah menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.

Produsen baja global, khususnya dari Tiongkok, memiliki keunggulan dari sisi skala produksi dan efisiensi biaya sehingga mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif di pasar internasional, termasuk Indonesia.

“Kondisi ini menempatkan industri baja nasional pada posisi yang sulit. Di satu sisi, produsen dalam negeri berkomitmen menjaga kualitas produk, namun di sisi lain harus menghadapi tekanan harga dari produk impor yang lebih rendah. Situasi ini semakin diperberat oleh melemahnya permintaan domestik, khususnya dari sektor konstruksi,” jelasnya.

Febri menambahkan bahwa kondisi yang dihadapi PT Krakatau Osaka Steel merupakan hasil kombinasi berbagai faktor, termasuk kelebihan pasokan di tingkat global.

“Selain keterbatasan diversifikasi produk, penurunan permintaan dan tekanan impor baja murah, kondisi kelebihan pasokan di tingkat global juga turut memengaruhi daya saing perusahaan,” ungkapnya.

Secara global, industri baja tengah menghadapi kelebihan pasokan serta praktik perdagangan dengan harga rendah. Kondisi ini mendorong berbagai negara menerapkan kebijakan proteksi industri, seperti tarif bea masuk dan instrumen trade remedies, guna menjaga keberlangsungan industri domestik.

Di Indonesia, tekanan tersebut tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga berpotensi memengaruhi tenaga kerja dan aktivitas industri pendukung. Penutupan pabrik menjadi salah satu indikator dampak sosial yang muncul di tengah persaingan yang semakin ketat.

Kementerian Perindustrian menyatakan telah mengambil sejumlah langkah, antara lain pengendalian impor melalui lartas, pemberlakuan SNI wajib untuk baja batangan, penyediaan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), serta pemberian tarif bea masuk nol persen untuk bahan baku billet.

Namun demikian, pemerintah menilai masih diperlukan penguatan kebijakan untuk menjaga keberlanjutan industri baja nasional. “Kami akan melakukan kajian secara komprehensif guna merumuskan strategi yang lebih efektif dalam menjaga keberlanjutan industri baja dalam negeri,” tegas Febri.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.