KABARBURSA.COM – PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Jumat, 19 Juni 2026. Di tengah agenda rutin perusahaan, perhatian investor tertuju pada satu hal yang selalu menarik setiap musim RUPS, yakni penggunaan laba bersih dan potensi pembagian dividen.
Berdasarkan dokumen panggilan RUPS yang dilihat Jumat, 19 Juni 2026, salah satu mata acara yang akan dibahas adalah penetapan penggunaan laba bersih perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Agenda tersebut menjadi perhatian pasar mengingat TBLA memiliki rekam jejak yang relatif konsisten dalam membagikan dividen kepada pemegang saham.
“Penetapan penggunaan laba bersih Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025,” tulis TBLA dalam keterbukaannya.
Meski belum ada keputusan resmi terkait pembagian dividen, agenda tersebut menjadi sinyal bahwa pemegang saham akan menentukan arah penggunaan keuntungan yang berhasil dibukukan perusahaan sepanjang tahun lalu.
Jika menilik sejarahnya, TBLA termasuk emiten yang tidak asing membagikan dividen. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan tercatat beberapa kali menyalurkan laba kepada pemegang saham meski besarannya berfluktuasi mengikuti dinamika bisnis dan kondisi industri komoditas.
Data perdagangan menunjukkan TBLA membagikan dividen sebesar Rp25 per saham dari laba tahun buku 2020. Angka itu kemudian meningkat menjadi Rp50 per saham pada tahun berikutnya. Pada periode selanjutnya, perusahaan kembali membagikan dividen dengan nominal Rp40 per saham dan Rp20 per saham. Sementara itu, pembagian dividen terbaru tercatat sebesar Rp12 per saham dengan tanggal ex-dividend pada Juni 2025.
Rekam jejak tersebut membuat sebagian investor kembali menaruh harapan terhadap potensi pembagian dividen dari laba tahun buku 2025. Terlebih, kondisi fundamental perseroan menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan materi paparan publik perseroan, pendapatan TBLA sepanjang 2025 mencapai Rp22,88 triliun, meningkat dibandingkan Rp17,41 triliun pada 2024. Kenaikan tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 31 persen secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti oleh peningkatan profitabilitas. Laba bersih perseroan mencapai Rp900,9 miliar pada 2025, naik 28,5 persen dibandingkan Rp701 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara EBITDA meningkat menjadi Rp3,70 triliun dari Rp3,15 triliun pada 2024.

Menariknya, sumber pertumbuhan TBLA kini mengalami perubahan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Jika dahulu bisnis gula menjadi salah satu penopang utama pendapatan perusahaan, kini kontribusi terbesar justru berasal dari bisnis sawit dan turunannya.
Pada 2025, bisnis sawit dan turunannya menyumbang sekitar 80 persen pendapatan perusahaan. Sebaliknya, kontribusi bisnis gula dan turunannya menyusut menjadi sekitar 20 persen. Padahal setahun sebelumnya komposisi tersebut masih berada pada kisaran 60 persen untuk sawit dan 40 persen untuk gula.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan TBLA semakin bertumpu pada sektor kelapa sawit dan produk turunannya, termasuk biodiesel.
Dari sisi produk, biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) menjadi penyumbang terbesar pendapatan perseroan sepanjang 2025 dengan kontribusi sekitar 48 persen. Angka itu melonjak dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada kisaran 26 persen.
Sementara itu, kontribusi gula terhadap total penjualan turun menjadi sekitar 19 persen dari sebelumnya 39 persen. Produk minyak goreng sawit dan olein berkontribusi sekitar 17 persen terhadap total pendapatan perusahaan.
Dominasi biodiesel dalam struktur pendapatan menunjukkan TBLA menjadi salah satu emiten yang menikmati dampak program mandatori biodiesel nasional yang terus diperluas pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi valuasi, saham TBLA juga masih diperdagangkan pada level yang relatif rendah dibandingkan pertumbuhan kinerjanya. Pada perdagangan 19 Juni 2026, saham TBLA berada di level Rp660 per saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp3,98 triliun.
Dengan laba bersih yang mencapai Rp900,9 miliar, rasio price to earnings (P/E) perseroan berada di kisaran 4,4 kali. Sementara price to book value (PBV) tercatat sekitar 0,42 kali.
Valuasi tersebut mengindikasikan bahwa pasar masih menghargai TBLA di bawah nilai buku perusahaan. Kondisi ini kerap menjadi perhatian investor yang mencari emiten berfundamental kuat namun diperdagangkan pada valuasi relatif murah.
Karena itu, selain menunggu keputusan terkait penggunaan laba bersih, investor juga akan mencermati arah bisnis perseroan ke depan. Apalagi TBLA saat ini memasuki fase di mana pertumbuhan laba semakin ditopang oleh bisnis sawit dan biodiesel, dua sektor yang sangat dipengaruhi dinamika harga komoditas global serta kebijakan energi nasional.
Dengan laba bersih yang tumbuh mendekati Rp1 triliun, valuasi yang masih rendah, serta rekam jejak pembagian dividen yang relatif konsisten, hasil RUPS TBLA tahun ini menjadi salah satu agenda yang patut dicermati investor untuk melihat bagaimana perusahaan akan menyeimbangkan kebutuhan ekspansi dengan pengembalian nilai kepada pemegang saham.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.