KABARBURSA.COM – Pemerintah menyiapkan pengembangan industri liquefied petroleum gas (LPG) baru di Kalimantan Timur menyusul penemuan cadangan gas besar di blok Geliga bagian dari blok ganal.
Langkah ini diarahkan untuk menekan impor energi, memperkuat hilirisasi gas domestik, serta mendukung kebutuhan bahan baku industri nasional jangka panjang.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah ingin memastikan gas dari temuan baru tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri.
Menurutnya, pemanfaatan gas domestik harus diarahkan untuk memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.
“Ini adalah strategi bagaimana gas kita tidak melakukan impor dari negara manapun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri kita, dan gas ini kita akan mendorong untuk hilirisasi industri,” ujar Bahlil saat konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, pada Senin, 20 April 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah juga membuka peluang membangun industri LPG langsung di Kalimantan Timur apabila komposisi gas dari lapangan tersebut memenuhi persyaratan teknis tertentu, khususnya kandungan C3 dan C4 yang cukup untuk diolah menjadi LPG.
“Kalau gasnya C3-C4-nya cukup untuk kemudian kita bangun industri LPG, maka kita akan bangun langsung industri LPG di Kalimantan Timur,” kata Bahlil.
Rencana tersebut dinilai penting karena LPG tidak hanya diperlukan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga menjadi bahan baku strategis bagi industri petrokimia nasional.
Salah satu kawasan yang disebut pasokan LPG dalam jumlah besar adalah Cilegon yang selama ini menjadi basis sejumlah industri kimia dan petrokimia.
Dengan adanya industri LPG baru di Kalimantan Timur, pemerintah berharap rantai pasok energi domestik dapat semakin kuat sekaligus memberi nilai tambah yang lebih besar dari pemanfaatan gas nasional.
Selain LPG, pengembangan gas di Kalimantan Timur upaya ini juga diproyeksikan memberi dampak terhadap penurunan impor bahan bakar minyak. Bahlil menyebut tambahan produksi kondensat dari proyek tersebut berpotensi menekan kebutuhan impor energi secara signifikan.
“Ini akan mengurangi impor bahan bakar kita dengan penambahan kondensat kurang lebih sekitar 90 sampai 150 ribu barel nanti pada tahun 2030,” ujarnya.
Terkait distribusi gas, pemerintah memastikan keseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan komitmen ekspor akan tetap terjaga. Saat ini, sekitar 28 persen hingga 30 persen dari total produksi gas nasional masih dialokasikan untuk pasar luar negeri.
Meski sebagian produksi masih diekspor, Bahlil menyatakan pasokan gas nasional untuk tahun 2026 berada dalam kondisi aman. Bahlil memastikan hingga saat ini tidak ada indikasi defisit dalam memenuhi kebutuhan gas domestik.
“Nggak ada defisit,” tegasnya.
Dengan penemuan cadangan gas besar di Kalimantan Timur, pemerintah kini tidak hanya melihat peluang tambahan produksi, tetapi juga ruang untuk membangun ekosistem hilirisasi baru.
Jika industri LPG berhasil dikembangkan, proyek ini berpotensi menjadi salah satu langkah penting dalam menekan impor energi, memperkuat industri domestik, dan menjaga ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.(*)