KABARBURSA.COM - Pergerakan saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sejak awal Juni menunjukkan dinamika yang cukup tajam. Setelah ditutup di level 1.530 pada 2 Juni 2026, saham emiten batu bara metalurgi milik Grup Adaro ini mengalami tekanan beruntun selama dua hari perdagangan.
Pada 2 Juni, ADMR turun 5,23 persen ke level 1.450. Tekanan berlanjut pada 3 Juni ketika saham ini kembali terkoreksi hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). ADMR anjlok 10 persen ke level 1.305.
Di tengah penurunan harga tersebut, aktivitas investor asing justru menunjukkan pola yang berbeda. Pada 2 Juni, asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp11,71 miliar. Namun sehari kemudian, ketika harga ADMR jatuh 10 persen, investor asing justru melakukan akumulasi cukup agresif dengan net buy mencapai Rp21,91 miliar.
Sebagian pelaku pasar, terutama investor institusi asing, mulai memanfaatkan tekanan harga untuk melakukan pembelian.
Skenario itu semakin terlihat pada perdagangan 4 Juni. Setelah dua hari terkoreksi tajam, ADMR berbalik arah dan melonjak 5,75 persen ke level 1.380. Kenaikan ini didukung nilai transaksi yang tetap besar, mencapai Rp65,92 miliar serta volume perdagangan hampir 490 juta saham.
Yang paling menarik, investor asing kembali mencatatkan net buy sebesar Rp5,07 miliar. Meski nilainya lebih kecil dibanding sehari sebelumnya, arus dana asing yang masih positif menunjukkan minat akumulasi yang belum reda.
Jika ditarik dalam rentang tiga hari perdagangan tersebut, investor asing secara kumulatif masih membukukan net buy sekitar Rp15,27 miliar. Artinya, meskipun harga saham ADMR sempat mengalami koreksi tajam dari 1.530 ke 1.305, investor asing justru lebih banyak masuk dibanding keluar.
Fenomena seperti ini sering kali menjadi sinyal bahwa pasar sedang mencari titik keseimbangan baru setelah fase tekanan jual yang cukup agresif.
Buy on Weakness, di Harga Berapa?
Dari sisi teknikal, rekomendasi MNC Sekuritas yang menempatkan ADMR dalam strategi buy on weakness pada area 1.120-1.230 menjadi menarik untuk dicermati. Secara teori, pendekatan ini mengasumsikan bahwa koreksi yang terjadi masih merupakan bagian dari fase konsolidasi dalam tren yang lebih besar.
Target harga di area 1.575 hingga 1.720 mencerminkan potensi pemulihan yang cukup signifikan apabila momentum beli kembali berlanjut.
Namun demikian, investor tetap perlu bersikap kritis. Kenaikan 5,75 persen pada 4 Juni memang memberi sinyal adanya respons positif pasar. Tetapi, harga ADMR masih berada di bawah level pembukaan 2 Juni yang mencapai 1.530.
Dengan kata lain, reli yang terjadi saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya pemulihan setelah tekanan besar, bukan konfirmasi bahwa tren naik baru telah sepenuhnya terbentuk.
Karena itu, konsistensi volume transaksi dan keberlanjutan akumulasi asing dalam beberapa hari ke depan akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah ADMR benar-benar mampu melanjutkan kenaikan menuju target yang diproyeksikan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.