Logo
>

Laba Central Omega (DKFT) Melonjak 74 Persen, Mengapa Sahamnya Justru Ambles 31 Persen?

Kinerja DKFT membaik, laba kuartal I 2026 melonjak 74 persen. Namun sahamnya justru terkoreksi lebih dari 31 persen.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Laba Central Omega (DKFT) Melonjak 74 Persen, Mengapa Sahamnya Justru Ambles 31 Persen?
Laba DKFT naik 74 persen pada kuartal I 2026, tetapi sahamnya turun 31 persen dalam sebulan. Simak faktor fundamental dan tekanan pasar. Foto: Dok. DKFT.

KABARBURSA.COM – Di tengah tekanan hebat yang melanda pasar modal Indonesia, PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) menghadirkan sebuah paradoks yang menarik perhatian investor. Ketika kinerja keuangan perusahaan nikel ini justru menunjukkan perbaikan signifikan, harga sahamnya malah bergerak ke arah sebaliknya.

Dalam satu bulan terakhir, saham DKFT anjlok sekitar 31 persen dari level 835 menjadi 570 per saham. Bahkan hanya dalam sepekan terakhir, saham ini terkoreksi hampir 20 persen. Pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, DKFT kembali tertekan 10,94 persen dan ditutup di level 570.

Penurunan tajam tersebut menimbulkan pertanyaan baru di kalangan pelaku pasar, apakah pasar sedang melihat risiko yang belum tercermin dalam laporan keuangannya atau justru DKFT menjadi korban dari sentimen negatif yang sedang menyelimuti pasar modal Indonesia secara keseluruhan?

Pertanyaan itu menjadi menarik karena secara fundamental, kondisi perusahaan justru terlihat membaik. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, DKFT membukukan laba bersih sebesar Rp573 miliar atau melonjak sekitar 56,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja tersebut ditopang oleh membaiknya bisnis pertambangan dan pengolahan nikel yang menjadi tulang punggung perseroan.

Momentum positif itu berlanjut pada kuartal pertama 2026. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, DKFT berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp237 miliar, naik sekitar 74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jika laju kinerja tersebut mampu dipertahankan hingga akhir tahun, laba bersih perseroan berpotensi mendekati Rp900-an miliar secara tahunan. Dengan harga saham saat ini, valuasi DKFT secara sekilas bahkan terlihat relatif murah dibandingkan sejumlah emiten nikel lainnya. Namun pasar tampaknya memiliki pandangan berbeda.

Di pasar saham, laporan keuangan sering kali menceritakan masa lalu, sementara harga saham lebih banyak mencerminkan ekspektasi masa depan. Hal itulah yang terlihat pada DKFT dalam beberapa pekan terakhir.

Pergerakan harga pada Jumat lalu menunjukkan tekanan jual yang cukup agresif. Saham ini dibuka pada level 640, yang sekaligus menjadi posisi tertinggi hari itu. Setelah pembukaan perdagangan, tekanan jual terus mendominasi hingga harga sempat menyentuh level terendah 555 sebelum akhirnya ditutup pada posisi 570.

Pola semacam ini umumnya menunjukkan bahwa pelaku pasar masih lebih banyak memilih keluar dibandingkan masuk. Tekanan tersebut juga belum diimbangi oleh aktivitas beli yang signifikan dari investor asing.

Data perdagangan menunjukkan nilai pembelian investor asing pada perdagangan Jumat mencapai sekitar Rp1,31 miliar. Namun di saat yang sama, nilai penjualan asing mencapai Rp2,46 miliar sehingga tercatat net foreign sell sekitar Rp1,15 miliar.

Nilainya memang tidak tergolong besar. Namun arah arus dana tersebut menunjukkan bahwa investor asing belum menunjukkan minat akumulasi yang kuat terhadap saham ini.

Data perdagangan menunjukkan tekanan jual asing masih mendominasi DKFT pada awal Juni 2026. Berdasarkan aktivitas broker asing, saham ini diperdagangkan oleh sejumlah institusi besar seperti CGS International Sekuritas Indonesia, UBS Sekuritas Indonesia, CLSA Sekuritas Indonesia, Maybank Sekuritas Indonesia, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, hingga J.P. Morgan Sekuritas Indonesia.

Setelah sempat mencatat pembelian bersih tipis senilai Rp87,6 juta pada 2 Juni dengan harga rata-rata Rp700 per saham, kelompok broker asing tersebut berbalik melakukan distribusi besar sehari kemudian. Pada 3 Juni, nilai jual bersih melonjak menjadi sekitar Rp1,4 miliar dengan volume mencapai 20,5 ribu lot pada harga rata-rata Rp663. Tekanan tersebut berlanjut pada 4 Juni dengan net sell Rp163,1 juta pada harga rata-rata Rp622 dan kembali terjadi pada 5 Juni sebesar Rp236,2 juta pada harga rata-rata Rp589.

Bukan Hanya DKFT yang Tertekan

Di luar faktor internal perusahaan, tekanan terhadap DKFT juga sulit dilepaskan dari kondisi pasar yang sedang tidak bersahabat. Sejak pertengahan Mei hingga awal Juni 2026, pasar modal Indonesia berada dalam fase risk-off yang cukup kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terperosok ke area 5.500 setelah mengalami tekanan jual besar-besaran.

Pada saat yang sama, rupiah juga menembus level psikologis Rp18.000 per USD, sementara investor asing terus mencatatkan arus keluar dari pasar saham domestik. Dalam kondisi seperti itu, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap saham-saham berisiko tinggi, termasuk emiten lapis kedua di sektor komoditas.

Akibatnya, kualitas fundamental sering kali tidak menjadi faktor utama dalam jangka pendek. Sentimen pasar dan kebutuhan likuiditas justru menjadi penggerak utama harga saham.

Fenomena ini menjelaskan mengapa sejumlah saham dengan kinerja keuangan yang sebenarnya solid tetap mengalami tekanan jual. DKFT bukan satu-satunya contoh. Beberapa emiten berbasis komoditas lain juga mengalami koreksi meskipun harga komoditas global relatif stabil dan kinerja operasional masih menunjukkan pertumbuhan.

Bagi investor, situasi yang terjadi pada DKFT saat ini menghadirkan dua kemungkinan. Skenario pertama, pasar sedang mendiskon risiko yang belum tercermin dalam laporan keuangan. Risiko tersebut bisa berasal dari prospek harga nikel, dinamika industri pengolahan mineral, maupun faktor lain yang belum sepenuhnya terlihat dalam kinerja kuartalan.

Skenario kedua, penurunan harga yang terjadi lebih banyak dipicu oleh sentimen pasar yang sedang negatif dan aksi jual jangka pendek, sementara fundamental perusahaan sebenarnya masih berada dalam jalur yang positif.

Hingga saat ini, laporan keuangan DKFT belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan operasional yang signifikan. Perseroan masih mencatat pertumbuhan laba, menjaga profitabilitas, serta memperoleh manfaat dari aktivitas bisnis nikel yang relatif stabil. Namun di sisi lain, grafik harga saham menunjukkan investor belum sepenuhnya yakin untuk kembali masuk.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).