KABARBURSA.COM — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kinerja APBN Kita hingga awal 2026 menunjukkan kondisi yang tetap kuat dengan dukungan penerimaan negara yang meningkat serta aktivitas ekonomi yang terus bergerak.
Dalam paparan APBN Kita pada Rabu 11 Maret 2026, Purbaya menjelaskan bahwa kondisi ekonomi domestik masih berada dalam tren positif dengan prospek pertumbuhan yang tetap optimistis.
“Di awal tahun ini kondisi ekonomi mencerminkan situasi yang cukup kuat dengan prospek pertumbuhan yang optimis. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan bisa mencapai sekitar 5,5 persen, bahkan berpotensi menuju kisaran 5,5 hingga 6 persen,” ujar Purbaya.
Menurutnya, prospek tersebut didukung oleh peningkatan investasi, percepatan proyek strategis, serta kontribusi sektor manufaktur yang terus berkembang. Selain itu, pemerintah juga terus menjaga stabilitas sektor keuangan domestik di tengah dinamika global.
Purbaya juga menyoroti tren penurunan suku bunga kredit yang dinilai semakin mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Ia menyebut suku bunga kredit perbankan tercatat turun menjadi sekitar 8,8 persen pada Januari 2026, lebih rendah dibandingkan sekitar 9,12 persen pada Agustus tahun lalu.
“Penurunan ini membuat suku bunga menjadi lebih kompetitif sehingga dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga mencermati perkembangan harga komoditas energi. Purbaya menyebut realisasi harga minyak mentah Indonesia hingga Februari masih berada di bawah asumsi yang ditetapkan dalam APBN.
“Realisasi harga minyak mentah Indonesia sampai Februari berada di sekitar 68,8 dolar AS per barel, masih di bawah asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel. Artinya kita masih memiliki ruang fiskal yang cukup baik,” jelasnya.
Dari sisi fiskal, kinerja penerimaan negara juga menunjukkan tren positif. Hingga akhir Februari 2026, realisasi pendapatan negara tercatat sekitar Rp3,58 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target APBN. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kinerja penerimaan perpajakan yang tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara rinci, penerimaan perpajakan mencapai sekitar Rp290 triliun, tumbuh 20,5 persen secara tahunan. Di dalamnya, penerimaan pajak tercatat sekitar Rp245 triliun dengan pertumbuhan 30,4 persen, sementara penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai sekitar Rp44,9 triliun.
Menurut Purbaya, pertumbuhan penerimaan pajak mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.
“Kalau ada transaksi di perekonomian, maka ada PPN yang dibayar. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berjalan dan transaksi di masyarakat terus berlangsung,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi belanja negara, realisasi hingga akhir Februari tercatat sekitar Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu APBN, dengan pertumbuhan sekitar 41,9 persen secara tahunan. Belanja tersebut diarahkan untuk mendukung program prioritas pemerintah serta menjaga daya beli masyarakat.
Dengan perkembangan tersebut, posisi APBN hingga awal tahun mencatat defisit sekitar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen terhadap PDB, yang masih berada dalam batas yang direncanakan pemerintah.
Purbaya menegaskan bahwa desain APBN memang disusun dengan skema defisit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui belanja pemerintah.
“APBN kita memang didesain defisit agar belanja pemerintah bisa mendorong aktivitas ekonomi. Dengan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh dan belanja yang terakselerasi, APBN tetap menjadi instrumen penting untuk stabilisasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.(*)