KABARBURSA.COM- Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia tengah berada di momentum krusial untuk kembali masuk dalam rantai pasok industri semikonduktor global. Ia menyebut peluang ini sebagai “second chance” yang tidak boleh terlewat.
Dalam paparannya pada Program Pembekalan Nasional Talenta Semiconductor 2026, Airlangga menyampaikan bahwa pembangunan ekosistem teknologi tinggi menjadi syarat mutlak untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Kita pernah masuk dalam ring semikonduktor di era 1980-an bersama Fairchild. Kesempatan itu lepas. Sekarang kita dapat kesempatan kedua. Ini tidak boleh dilewatkan,” tegasnya, Kamis, 5 Maret 2026.
Airlangga menekankan, banyak negara maju bertumbuh bukan karena sumber daya alam, melainkan karena kualitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi. Ia mencontohkan Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan yang mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah melalui penguatan industri teknologi tinggi.
Menurutnya, strategi Indonesia berbeda dengan negara lain yang berlomba menawarkan insentif miliaran dolar untuk menarik raksasa chip dunia seperti TSMC atau SK. Indonesia memilih membangun fondasi SDM lebih dahulu melalui kolaborasi strategis dengan Arm Holdings.
“Kalau kita mengundang industri besar, banyak negara chip in dengan investasi miliaran dolar. Jalan kita berbeda. Kita bangun manusianya dulu,” ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, Indonesia menargetkan pelatihan 15 ribu engineer dalam ekosistem desain chip berbasis ARM, dengan skema pelatihan 3–6 bulan per batch.
Airlangga mengingatkan, dunia saat ini memasuki fase “chip war” atau persaingan global penguasaan semikonduktor. Permintaan global diperkirakan menembus USD1 triliun pada 2030, didorong oleh pertumbuhan data center, artificial intelligence (AI), quantum computing, wireless communication, hingga kendaraan listrik (EV).
“Satu kendaraan listrik bisa menggunakan lebih dari 200 chip. Jadi semikonduktor ini adalah otak dari seluruh teknologi modern,” katanya.
Selain itu, ekonomi digital global diproyeksikan mencapai USD16 triliun. Di kawasan ASEAN, melalui Digital Economic Framework Agreement (DEFA), nilai ekonomi digital ditargetkan meningkat dari USD1 triliun menjadi USD2 triliun pada 2030. Dengan porsi ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia berpotensi meraih sekitar 40 persen dari total tersebut.
Namun ia mengingatkan, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar. Dengan 230 juta pengguna internet dan penetrasi seluler 116 persen, Indonesia harus menjadi pemain dalam desain dan produksi teknologi.
Airlangga secara khusus meminta perguruan tinggi segera menyiapkan kurikulum semikonduktor dan chip design, termasuk penguatan laboratorium mikroelektronika dan mekatronika.
Beberapa bidang yang perlu diperkuat antara lain solid state physics, semiconductor physics, electronic design, IC design, fabrikasi semikonduktor, hingga produksi.
Ia juga mendorong kolaborasi dengan kampus luar negeri seperti National Taiwan Normal University yang menjadi mitra TSMC, serta membuka peluang kerja sama dengan Purdue University dan Arizona State University.
“Inovasi lahir dari kolaborasi triple helix: pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Tanpa itu, ekosistem tidak akan jalan,” ujarnya.
Untuk mendukung riset dan pendidikan, pemerintah telah menyiapkan insentif super tax deduction bagi industri yang bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam kegiatan R&D dan vokasi, dengan potongan pajak hingga 200–300 persen.
Airlangga meminta perguruan tinggi lebih proaktif memanfaatkan kebijakan tersebut dan bergerak cepat dalam membangun kemitraan industri.
Di tengah peluang besar, Airlangga mengingatkan adanya risiko geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasok semikonduktor global. Ia menilai resiliensi menjadi kunci dalam menghadapi situasi dunia yang sulit diprediksi.
“Kita tidak boleh berhenti karena tantangan. Justru dalam situasi seperti ini, daya tahan ekonomi dan kualitas SDM menjadi penentu,” pungkasnya. (*)