KABARBURSA.COM — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 memang sudah resmi tercatat sebesar 5,11 persen. Angka itu melampaui realisasi 2024 yang sebesar 5,03 persen dan sedikit di atas ekspektasi pasar. Namun di balik deretan angka makro tersebut, tersimpan perubahan penting tentang arah mesin ekonomi nasional. Struktur pertumbuhan Indonesia kini mulai bergeser, dari yang sebelumnya banyak bertumpu pada ekspor, menjadi lebih digerakkan oleh kekuatan pasar domestik.
Analisis terbaru Stockbit Sekuritas menggarisbawahi perubahan pola itu. Menurut mereka, percepatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 lebih banyak didorong oleh komponen dalam negeri, terutama investasi dan konsumsi rumah tangga. Peran ekspor justru mulai menyusut seiring perlambatan permintaan global.
“Secara umum, percepatan pertumbuhan ekonomi pada 4Q25 yang lebih didorong oleh peningkatan pasar domestik dibandingkan ekspor relatif sejalan dengan tren Purchasing Managers’ Index manufaktur Indonesia dan akselerasi pertumbuhan kredit,” tulis Tim Stockbit Sekuritas yang dikutip Minggu, 8 Februari 2026.
Data Badan Pusat Statistik atau BPS menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan pada kuartal IV-2025, lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 5,04 persen. Angka ini juga menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022. Namun yang lebih menarik bukan hanya besaran pertumbuhannya, melainkan dari mana sumber pertumbuhan itu berasal.
Komponen pembentukan modal tetap bruto atau investasi tercatat sebagai motor paling kencang. Pada kuartal terakhir 2025, investasi tumbuh 6,12 persen secara tahunan, naik signifikan dibanding kuartal sebelumnya yang hanya tumbuh 5 persen. Sepanjang 2025, pertumbuhan investasi akhirnya mencapai 5,09 persen.
Kenaikan investasi tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Data realisasi investasi dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat pertumbuhan 9,7 persen pada periode yang sama. Peningkatan impor mesin produksi untuk kebutuhan industri serta belanja pemerintah untuk peralatan dan mesin menjadi pendorong utama akselerasi tersebut.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia juga menunjukkan penguatan. Pada kuartal IV-2025, konsumsi tumbuh 5,11 persen, lebih cepat dibanding kuartal sebelumnya yang berada di level 4,89 persen. Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga sepanjang 2025 tumbuh 4,98 persen, sedikit lebih baik dibanding 2024 yang sebesar 4,94 persen.
“Pertumbuhan konsumsi rumah tangga relatif sejalan dengan peningkatan momentum pada indeks penjualan ritel dan indeks keyakinan konsumen yang turut didorong oleh pemberian paket stimulus sebesar Rp37,4 triliun,” tulis Tim Stockbit Sekuritas.
Dukungan stimulus pemerintah pada akhir tahun lalu memang memberi dorongan tambahan bagi belanja masyarakat. Pergerakan positif itu juga tercermin dari berbagai indikator sektor riil, mulai dari aktivitas ritel hingga kredit konsumsi yang mulai menggeliat.
Berbeda dengan dua komponen utama tersebut, kinerja ekspor justru menunjukkan pelemahan. Pertumbuhan ekspor pada kuartal IV-2025 hanya mencapai 3,3 persen secara tahunan, jauh melambat dibanding kuartal III-2025 yang sempat tumbuh 9,14 persen. Sementara itu, impor justru naik 4 persen, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang hanya 0,9 persen.
Kondisi tersebut membuat kontribusi net ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih kecil. Perlambatan permintaan global dan dinamika perdagangan internasional menjadi faktor yang menahan laju ekspor Indonesia pada akhir tahun lalu.
Perubahan komposisi ini memberi pesan penting bagi arah ekonomi ke depan. Dengan konsumsi dan investasi yang mengambil peran lebih besar, ekonomi Indonesia dinilai memiliki fondasi yang lebih stabil karena bertumpu pada kekuatan domestik.
Bagi pasar modal, dinamika ini membawa implikasi tersendiri. Stockbit Sekuritas melihat tren makro yang membaik berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan pada 2026. “Tren perbaikan makroekonomi yang berkelanjutan berpotensi memberikan dampak positif terhadap IHSG, terutama pada saham–saham blue chip seperti perbankan dan konsumer dari kembalinya foreign inflow,” tulis mereka.
Optimisme itu juga sejalan dengan target pemerintah untuk tahun 2026. Pemerintah memasang sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, sementara Menteri Keuangan bahkan memproyeksikan target yang lebih ambisius di level 6 persen. Dengan basis konsumsi yang kuat dan investasi yang terus meningkat, target tersebut dinilai bukan hal mustahil.
Penguatan peran sektor domestik juga memberi bantalan terhadap berbagai ketidakpastian global. Di tengah gejolak ekonomi dunia, mulai dari perang dagang hingga perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat, Indonesia memiliki keuntungan karena pasar dalam negerinya yang besar dan relatif tangguh.
Bagi investor, perubahan struktur pertumbuhan ini menjadi sinyal penting dalam menentukan strategi. Sektor-sektor yang dekat dengan konsumsi domestik dan perbankan yang diuntungkan oleh peningkatan kredit diperkirakan menjadi penerima manfaat utama.
Dengan demikian, cerita pertumbuhan ekonomi 2025 bukan sekadar soal angka 5,11 persen. Lebih dari itu, tahun lalu menjadi penanda bahwa mesin ekonomi Indonesia mulai bertransformasi. Ketergantungan pada ekspor berkurang, sementara kekuatan pasar dalam negeri semakin menguat. Jika tren ini berlanjut pada 2026, arah ekonomi Indonesia akan semakin ditopang oleh daya beli masyarakat dan investasi produktif.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.