KABARBURSA.COM — ChatGPT yang dulu dikenal sebagai chatbot untuk kebutuhan sehari-hari kini mulai diarahkan ke fungsi yang lebih serius. OpenAI menggeser fokus bisnisnya ke segmen korporasi, seiring kebutuhan mencari sumber pendapatan baru di tengah biaya operasional yang terus membengkak.
Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, mengaku teknologi yang sama yang ia gunakan untuk mencari resep masakan di rumah kini juga dipakai untuk pekerjaan rutin di kantor, mulai dari merangkum email hingga pesan kerja. Perubahan ini bukan tanpa alasan. OpenAI melihat potensi terbesar justru datang dari penggunaan di dunia kerja, bukan sekadar konsumsi individu.
“Dalam waktu dekat, Anda akan melihat model baru dari kami. Kami sangat bersemangat dengan itu,” ujar Friar, dilansir dari AP, Jumat, 17 April 2026.
Saat ini, ChatGPT digunakan lebih dari 900 juta pengguna setiap minggu. Namun sekitar 95 persen di antaranya tidak membayar layanan tersebut. Di satu sisi, hal ini memperluas adopsi. Di sisi lain, penggunaan besar-besaran justru membebani biaya komputasi yang sangat tinggi.
Kondisi itu mendorong OpenAI untuk lebih agresif membidik pelanggan korporasi sebagai sumber pendapatan utama. Dalam dua tahun terakhir, kontribusi pelanggan bisnis terhadap pendapatan OpenAI meningkat signifikan. Jika pada 2024 hanya sekitar 20 persen, kini sudah mencapai 40 persen dan diproyeksikan menembus 50 persen pada akhir tahun.
Di tengah perubahan strategi ini, persaingan dengan Anthropic semakin ketat. Kedua perusahaan yang sama-sama belum mencetak keuntungan itu kini berlomba menarik klien korporasi sekaligus menyiapkan diri menuju pasar saham.
OpenAI sendiri memiliki valuasi sekitar USD852 miliar (Rp14.398 triliun), sementara Anthropic berada di kisaran USD380 miliar (Rp6.422 triliun). Meski bernilai besar, keduanya masih menghadapi tekanan untuk menutup biaya operasional yang tinggi.
Dalam upaya memperkuat lini bisnis, OpenAI mulai mengurangi sejumlah proyek yang berorientasi konsumen, termasuk pengembangan aplikasi video berbasis AI. “Saya pikir itu sedikit menyakitkan, tapi kami menyadari itu bukan fokus utama saat ini,” kata Friar.
Sebagai gantinya, OpenAI menyiapkan model AI baru yang ditujukan untuk pekerjaan profesional bernilai tinggi. Model ini diklaim memiliki kemampuan penalaran lebih kuat, pemahaman konteks yang lebih baik, serta hasil yang lebih konsisten.
Langkah ini juga menjadi respons terhadap pesaingnya. Anthropic sebelumnya meluncurkan model baru yang diklaim mampu melampaui kemampuan manusia dalam mendeteksi celah keamanan sistem.
Selain itu, OpenAI juga memperkenalkan model khusus bernama GPT-Franklin yang difokuskan pada riset ilmu hayati dan penemuan obat.
Di sisi lain, perusahaan mulai merampingkan arah bisnis. CEO OpenAI Sam Altman menilai terlalu banyak eksperimen justru berisiko membuat perusahaan kehilangan fokus.
“Perusahaan teknologi yang sedang tumbuh sering mencoba terlalu banyak hal, dan itu bisa berujung buruk. Perusahaan hebat justru mampu menyaring dan memfokuskan diri meski itu menyakitkan,” ujar Friar.
Perubahan arah ini juga diperkuat dengan penunjukan Chief Revenue Officer pertama, Denise Dresser, yang ditugaskan memperluas pasar korporasi. Menurut Dresser, fase eksperimen AI kini mulai ditinggalkan dan perusahaan sudah masuk tahap penggunaan nyata.
“Perusahaan-perusahaan sudah melewati fase eksperimen dan mulai menggunakan AI untuk pekerjaan nyata. Para pemimpin bisnis melihat ini sebagai perubahan paling besar dalam hidup mereka,” ujarnya.
Namun, di tengah optimisme tersebut, muncul kekhawatiran dari sejumlah pengamat. Industri AI dinilai masih menghadapi tantangan besar dari sisi biaya dan keberlanjutan bisnis. Kritikus teknologi Ed Zitron menyebut fenomena ini sebagai risiko baru dalam industri digital.
“Saya menyebutnya krisis AI subprime. Banyak orang membangun bisnis di atas perusahaan yang pada akhirnya bisa mengetatkan layanan saat mencoba menekan biaya,” katanya.
Ia juga mengingatkan kebutuhan pendanaan yang sangat besar menjadi tantangan utama. ““Perusahaan publik pun bisa runtuh, terutama yang membutuhkan USD100 miliar hingga USD200 miliar setiap tahun hanya untuk bertahan,” ujarnya.
Di tengah perlombaan ini, satu hal menjadi jelas. AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan sudah bergerak menjadi infrastruktur utama dalam dunia kerja. Namun, apakah model bisnisnya bisa bertahan, masih menjadi pertanyaan besar.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.