KABARBURSA.COM — Di tengah langkah Amerika Serikat memblokade Selat Hormuz, pasar keuangan global justru merespons dengan relatif tenang. Pergerakan indeks saham dan komoditas menunjukkan bahwa pelaku pasar belum sepenuhnya melihat situasi ini sebagai krisis terbuka.
Data perdagangan menunjukkan, bursa Asia seperti Nikkei dan Hang Seng hanya terkoreksi terbatas masing-masing 0,74 persen dan 0,9 persen. Indeks futures Wall Street juga bergerak tipis, dengan S&P 500 turun 0,62 persen dan Nasdaq melemah 0,65 persen.
Reaksi yang cenderung moderat ini menjadi sorotan. Di tengah eskalasi geopolitik, Stockbit Sekuritas mencatat pasar biasanya merespons lebih tajam. Namun kali ini, tekanan terlihat terkendali.
“Kembali menguatnya saham–saham konglomerasi – sehingga dapat menopang IHSG – kami perkirakan merupakan indikasi meningkatnya optimisme market terhadap update atau pengumuman yang positif dari MSCI,” tulis Stockbit dalam risetnya yang dirilis Senin, 13 April 2026.
Optimisme itu juga tercermin di dalam negeri. IHSG justru menguat 0,56 persen ke level 7.500, didorong saham konglomerasi seperti BRPT, BREN, dan TPIA. Sementara itu, saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI mengalami tekanan.
Di sisi lain, harga minyak melonjak signifikan sekitar 7,9 persen ke level USD102,7 per barel atau sekitar Rp1.736.000 per barel. Lonjakan ini menjadi indikator bahwa risiko utama tetap berada pada gangguan pasokan energi, bukan kepanikan sistem keuangan.
Namun demikian, pembacaan pasar yang relatif tenang ini bukan tanpa catatan. Dalam analisisnya, Tim riset Stockbit Sekuritas menilai bahwa reaksi global yang terbatas justru mencerminkan ekspektasi bahwa konflik belum mencapai titik eskalasi penuh.
“Reaksi negatif yang terbatas dari bursa Asia dan indeks futures bursa AS dengan penurunan masing–masing tidak lebih dari 1 persen, kemungkinan mengindikasikan optimisme market bahwa ruang negosiasi antara AS–Iran tidak tertutup sepenuhnya,” tulis Stockbit.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Investment Strategist Global X ETFs, Billy Leung. “Terdapat kepercayaan bahwa dinamika di atas merupakan bagian dari taktik negosiasi serta market telah melewati puncak ketidakpastian,” katanya.
Meski begitu, situasi di lapangan menunjukkan risiko yang belum sepenuhnya mereda. Iran melalui IRGC telah memperingatkan bahwa kehadiran militer AS di sekitar Selat Hormuz dapat dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata. Ini membuka potensi eskalasi yang masih cukup besar.
Di titik ini, pasar tampaknya berada dalam fase wait and see. Pelaku pasar masih menimbang apakah blokade ini akan benar-benar berkembang menjadi konflik terbuka atau hanya menjadi bagian dari strategi tekanan dalam negosiasi.
Bagi investor, kondisi ini menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi, stabilitas pasar saat ini memberi ruang optimisme jangka pendek. Namun di sisi lain, lonjakan harga minyak menjadi sinyal bahwa tekanan fundamental belum hilang.
Jika eskalasi meningkat dan mengganggu distribusi energi secara nyata, pasar berpotensi berbalik lebih volatil. Sebaliknya, jika jalur diplomasi kembali terbuka, tekanan bisa mereda tanpa gejolak besar. Dengan kata lain, ketenangan pasar saat ini bukan berarti risiko telah hilang, tapi lebih mencerminkan keyakinan sementara bahwa konflik masih berada dalam koridor yang bisa dikendalikan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.