KABARBURSA.COM – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggelar forum dagang sarang burung walet dengan pelaku usaha dan pembeli dari China. Agenda ini membahas akses pasar sekaligus respons atas temuan kandungan aluminium pada produk ekspor Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan forum tersebut juga menindaklanjuti temuan otoritas China. Temuan tersebut berdampak pada penghentian sementara ekspor dari sejumlah perusahaan Indonesia.
“Selain untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga akses pasar sarang burung walet di China, kami mendiskusikan temuan General Administration of Customs China mengenai kandungan aluminium di atas ambang batas pada produk sarang burung walet Indonesia yang berdampak pada suspensi 18 perusahaan,” ujar Puntodewi.
Ia menyebut Chinamasih menjadi pasar utama ekspor sarang burung walet Indonesia. Pangsa pasar ke negara tersebut mencapai 80,15 persen dari total ekspor.
Namun, nilai ekspor ke China pada 2025 tercatat USD 380,20 juta. Angka tersebut turun 11,33 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Puntodewi menyampaikan pemerintah melakukan komunikasi dengan otoritas China melalui jalur teknis dan diplomasi perdagangan. Langkah ini dilakukan untuk membahas parameter pengujian yang digunakan.
“Pemerintah terus berkomunikasi intensif melalui jalur diplomasi perdagangan dan teknis terkait temuan kandungan aluminium oleh GACC. Upaya ini dilakukan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas parameter pengujian yang digunakan,” kata dia.
Pemerintah juga menyatakan akan mengawal proses verifikasi terhadap perusahaan yang terkena suspensi. Tujuannya agar perusahaan tersebut dapat kembali melakukan ekspor.
Selain itu, pelaku usaha didorong melakukan audit internal dan perbaikan sistem produksi. Fokus perbaikan diarahkan pada pengendalian kualitas produk.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, menyebut terdapat peluang pengisian pasar akibat penghentian sementara ekspor dari sejumlah perusahaan. Volume yang terbuka diperkirakan sekitar 300 ton.
“Pemerintah mendorong perusahaan-perusahaan lain yang memiliki kapasitas dan sudah memenuhi kualifikasi untuk segera bersinergi dan mengisi kuota tersebut,” ujar Miftah.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor sarang burung walet Indonesia pada 2025 mencapai USD 551,56 juta. Nilai tersebut setara 58,31 persen pangsa pasar global.
Selain China, pasar ekspor lain meliputi Hong Kong sebesar USD 36,26 juta. Kemudian Singapura USD 19,75 juta, Vietnam USD 15,48 juta, dan Amerika Serikat USD 12,77 juta.
Secara kumulatif, ekspor sarang burung walet Indonesia pada 2025 tercatat USD 474,35 juta. Nilai ini turun 16,27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan juga terjadi pada awal 2026. Nilai ekspor Januari hingga Februari tercatat USD 83,04 juta atau turun 10,65 persen secara tahunan.
Direktur Manajemen Risiko Karantina Hewan Badan Karantina Indonesia, Anes Doni Kriswito, menyampaikan pemerintah tengah melakukan penyesuaian pengawasan. Langkah tersebut mencakup perbaikan regulasi dan peningkatan kontrol di tingkat perusahaan.
Sementara itu, pelaku usaha menyoroti perbedaan hasil pengujian antara Indonesia dan China. Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia, Boedi Mranata, menyebut kondisi tersebut memengaruhi kepastian ekspor.
“Produk yang telah lolos pengujian di Indonesia belum tentu lolos saat diperiksa di China sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha,” ujar Boedi.
Di sisi lain, pembeli dari China menyampaikan kebutuhan standar yang konsisten. Presiden Yan TyTy, Li Li, menyatakan kesiapan untuk menjembatani kebutuhan pasar dengan pelaku usaha Indonesia.
“Kami siap berperan dalam penyesuaian standar kualitas, perbaikan proses, penyampaian kebutuhan pasar, serta penyediaan pasokan yang sesuai,” kata Li Li.
Forum tersebut juga membuka peluang kerja sama lanjutan. Ketua China Agricultural Wholesale Market Association, Ma Zhengjun, mengundang pelaku usaha Indonesia untuk mengikuti kegiatan bisnis di China pada musim gugur mendatang.(*)