KABARBURSA.COM – Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menggelar rapat bersama Dewan Komisaris dan Direksi Garuda Indonesia, Selasa, 21 April 2026. Pertemuan tersebut membahas pembaruan rencana bisnis maskapai pelat merah, mencakup kinerja keuangan, strategi pengelolaan rute, serta penguatan struktur operasional perusahaan.
Dony menjelaskan, agenda rapat juga menyoroti langkah transformasi berkelanjutan yang tengah dijalankan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). “Rapat ini mencakup pembahasan transformasi berkelanjutan, progres kinerja keuangan, strategi pengelolaan rute, hingga penguatan struktur operasional,” ujar Dony, dikutip dari akun Instagram resmi @bumn_id, Rabu, 22 April 2026.
Ia menegaskan, pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong Garuda Indonesia menuju kondisi yang lebih sehat dan kompetitif. “Langkah ini penting untuk memastikan Garuda terus bergerak menjadi perusahaan yang lebih sehat, efisien, dan berdaya saing,” katanya.
Selain itu, Badan Pengaturan (BP) BUMN juga menekankan pentingnya konsistensi dalam pelaksanaan transformasi perusahaan. Dony menyatakan pihaknya mendorong konsistensi transformasi Garuda sebagai national flag carrier agar mampu menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat sekaligus memperkuat konektivitas udara nasional.
Garuda Rugi Rp64 Triliun
Dony sebelumnya menyebut kerugian yang dialami PT Garuda Indonesia Tbk atau GIAA sepanjang 2025 sebesar Rp64 Triliun. Kata dia, kerugian sebelum Danantara mengintervensi. “Kerugian yang dibukukan itu berasal dari kinerja 2025,” ujar Dony, Senin, 30 Maret 2026.
Menurut dia, intervensi Danantara baru dilakukan pada akhir 2025. Dampaknya diperkirakan mulai terlihat pada laporan keuangan awal 2026. “Nanti terlihat di kuartal satu dan dua 2026,” kata dia.
Dony menjelaskan, salah satu persoalan utama adalah keterbatasan perawatan pesawat atau MRO. Kondisi itu membuat proses pemulihan operasional berjalan lambat.Menurut Dony, banyak pesawat tidak beroperasi tetapi tetap menimbulkan beban biaya. “Pesawat grounded tetap menanggung biaya sewa yang besar,” ujar Dony.
Sepanjang 2025, Garuda mencatat akumulasi kerugian sebesar USD3,83 miliar. Angka itu setara sekitar Rp64,3 triliun dengan asumsi kurs Rp16.780. Defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar USD3,50 miliar.
Perseroan juga mencatat rugi bersih USD319,39 juta sepanjang 2025. Kerugian itu melonjak dari tahun sebelumnya sebesar USD69,78 juta.
Penurunan pendapatan turut memperburuk kinerja perusahaan. Pendapatan penerbangan berjadwal turun 8,30 persen menjadi USD2,51 miliar.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, mengakui adanya keterbatasan kapasitas produksi. “Kapasitas terbatas karena banyak pesawat menunggu perawatan,” ujar Glenny.
Selain itu, tekanan juga berasal dari fluktuasi kurs dan kenaikan biaya tetap. Program pemulihan armada turut meningkatkan beban operasional. Jumlah pesawat layak operasi meningkat menjadi 99 unit pada akhir 2025. Sebelumnya, jumlah tersebut hanya sekitar 84 unit pada pertengahan tahun. Sebanyak 43 pesawat masih dalam proses perawatan hingga akhir tahun.
Jumlah penumpang tercatat 21,2 juta sepanjang 2025. Angka itu turun 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan juga dipicu penurunan yield penumpang dan gangguan rantai pasok global. Pendapatan penerbangan tidak berjadwal hanya tumbuh tipis menjadi USD340,88 juta. Kenaikan tersebut belum mampu menutup penurunan segmen utama.
Di sisi biaya, beban operasional penerbangan mencapai USD1,54 miliar. Beban pemeliharaan dan perbaikan tercatat USD661,36 juta. Sementara beban kebandaraan dan pelayanan penumpang masing-masing mencapai ratusan juta dolar.
Danantara menyuntikkan dana sebesar Rp23,67 triliun pada Desember 2025 kepada Garuda Indonesia. Dana tersebut terdiri dari konversi pinjaman dan tambahan modal tunai.
Sebagian besar dana dialokasikan untuk menyelesaikan kewajiban Citilink. Sisanya digunakan untuk perawatan armada Garuda Indonesia. Suntikan modal ini memperbaiki posisi ekuitas yang kembali positif.
Per 31 Desember 2025, ekuitas tercatat sebesar USD91,9 juta. Sebelumnya, ekuitas perusahaan berada di posisi negatif USD1,35 miliar. Kas dan setara kas juga meningkat menjadi USD943,4 juta. “Kondisi ini menunjukkan perbaikan likuiditas perusahaan,” ujar Glenny.
Garuda Indonesia menargetkan pengoperasian 68 pesawat layak terbang pada 2026. Sementara Citilink menargetkan 50 pesawat siap operasi. Perusahaan akan mempercepat program perawatan armada sepanjang tahun ini. Langkah itu mencakup perawatan berat dan overhaul komponen utama pesawat. Upaya tersebut diharapkan mempercepat pemulihan kinerja operasional.
Saham GIAA Datar, Kinerja Belum Pulih
Di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat transformasi maskapai nasional, kinerja saham dan fundamental GIAA justru belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan yang solid. Pada perdagangan Rabu, 22 April 2026 siang, saham berkode GIAA stagnan di level 72 dengan pergerakan yang cenderung sempit dalam kisaran 71–74 dalam satu hari perdagangan.
Jika ditarik ke rentang mingguan, tren yang terbentuk bahkan menunjukkan tekanan yang masih berlanjut. Harga saham GIAA terkoreksi sekitar 2,70 persen dalam sepekan terakhir, dari sempat menyentuh area 77 hingga kembali turun ke kisaran 72. Pola ini memperlihatkan belum kuatnya sentimen positif yang mampu mendorong akumulasi investor secara konsisten.
Ironi semakin terlihat ketika melihat kinerja keuangan perseroan. Data Stockbit Sekuritas menunjukkan bahwa sepanjang 2025, Garuda masih membukukan rugi bersih sebesar Rp5,31 triliun secara tahunan. Angka ini bahkan lebih dalam dibandingkan rugi Rp1,152 triliun pada 2024, memperpanjang tren tekanan yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.
Jika ditelusuri per kuartal, tekanan tersebut terjadi secara merata. Pada kuartal pertama 2025, rugi tercatat Rp1,25 triliun, disusul Rp1,11 triliun di kuartal kedua, Rp636 miliar di kuartal ketiga, hingga kembali melebar menjadi Rp2,33 triliun pada kuartal keempat. Pola ini menunjukkan bahwa pemulihan operasional belum mampu menutup beban yang masih besar di sisi biaya dan struktur keuangan.
Situasi ini menempatkan Garuda dalam posisi yang tidak sederhana. Di satu sisi, perusahaan didorong untuk menjalankan transformasi sebagai flag carrier dan memperkuat konektivitas udara nasional. Namun di sisi lain, pasar masih membaca proses tersebut dengan hati-hati, tercermin dari pergerakan saham yang cenderung datar dan kinerja keuangan yang belum stabil.
Bagi investor, kondisi ini menjadi sinyal proses transformasi Garuda masih berada pada fase transisi yang panjang. Ekspektasi terhadap perbaikan kinerja belum sepenuhnya terkonversi menjadi keyakinan pasar, setidaknya dalam jangka pendek.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.