Logo
>

Pengamat Ungkap Fenomena Berburu Valas di Desa usai Rupiah Terus Melemah

Pengamat menilai kepanikan Rupiah memicu masyarakat desa ikut memborong dolar dan valas lain lewat akses digital.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Pengamat Ungkap Fenomena Berburu Valas di Desa usai Rupiah Terus Melemah
Pelemahan Rupiah disebut mendorong warga desa beralih ke dolar AS dan valas lain. Pengamat soroti fenomena FOMO kurs. Foto: IG @presidenrepublikindonesia.

KABARBURSA.COM — Kontradiksi ekonomi-politik dalam krisis nilai tukar ini kian diperparah oleh narasi penenangan dari Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tidak sinkron dengan sosiologi masyarakat di tingkat bawah. Belakangan, pernyataan Prabowo yang menyebut bahwa orang kampung tidak menggunakan dolar dan bisa bertahan dengan kayu bakar serta kekayaan alam desa menuai kritik.

Narasi defensif tersebut dinilai terlalu menyederhanakan masalah dan mengabaikan fakta bahwa kepanikan domestik berupa currency shifting (perpindahan instrumen tabungan ke valuta asing) justru sedang bergerilya dari bawah akibat memudarnya kepercayaan pada stabilitas Rupiah.

Fakta sosiologis ini bahkan sempat membayangi jalannya Rapat Kerja Komisi XI DPR RI pada Senin, 18 Mei 2026, kemarin. Pimpinan sidang secara eksplisit menyoroti posisi Rupiah yang bertengger di level psikologis Rp17.600-an dan meminta publik tidak panik berlebihan karena mengamini bahwa pelemahan ini merupakan imbas dari situasi makro global.

Namun, kepanikan di tingkat tapak kadung terjadi dan pembantu Prabowo dinilai gagal menyuplai data riil mengenai penetrasi teknologi finansial yang telah mengubah perilaku masyarakat daerah. Berkat teknologi online, masyarakat pedesaan saat ini bukan lagi komunitas terisolasi, melainkan telah menjelma menjadi pelaku aktif yang sensitif terhadap pergerakan valuta asing.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi membongkar fenomena psikologi pasar domestik yang sangat rentan terhadap isu ikut-ikutan (fear of missing out atau FOMO). Ketika rumor liar bahwa Rupiah berpotensi terperosok hingga Rp22.000 mulai menyebar ke daerah, masyarakat tingkat bawah langsung bergerak mengamankan aset mereka.

"Prabowo tidak ingat bahwa teknologi sekarang itu lebih maju di kampung daripada di kota... Buktinya, yang banyak pegang valas orang kampung. Orang kampung bener, orang kampung semua. Kenapa? Karena teknologi online," ungkap Ibrahim kepada KabarBursa.com, Selasa, 19 Mei 2026.

Menurut Ibrahim, dinamika ini menciptakan pergeseran portofolio retail yang masif di daerah. Masyarakat yang semula mengamankan kekayaan di instrumen emas batangan atau tabungan bank konvensional, berbondong-bondong memindahkan dana mereka ke mata uang asing seperti Dolar AS, Euro, hingga Dolar Singapura begitu melihat tren harga emas melandai dan dolar terus mendaki.

"Masyarakat sudah semua ke valas... Palas (valas) banyak, Rupiahnya sedikit kan? Nah ini yang membuat pelemahan," tambah Ibrahim. Heboh berburu fisik valas ini, menurutnya, mencerminkan karakter masyarakat domestik yang agresif memanfaatkan peluang digital namun mudah panik, mirip siklus tren musiman yang cepat meledak lalu ditinggalkan jika momentumnya lewat.

Dampaknya secara makro justru mematikan bagi nilai tukar. Ketika ratusan ribu nasabah retail di daerah secara kolektif menahan dolar dan melepas mata uang lokal, pasokan Rupiah di dalam negeri kian banjir sementara permintaan terhadap valas ikut mencekik stabilitas kurs.

Analisis ini sekaligus menegaskan bahwa mengisolasi krisis kurs seolah-olah hanya menjadi urusan korporasi dan masyarakat kelas atas di kota besar adalah sebuah kekeliruan fatal. Kegagalan Istana dalam membaca kepanikan retail di tingkat tapak ini membuat kebijakan penenangan yang dikeluarkan pemerintah justru kehilangan relevansinya di mata pasar.

Prabowo Subianto sebelumnya melontarkan candaan soal pihak-pihak yang dianggap paling terdampak kenaikan dolar Amerika Serikat.

Prabowo mengatakan masyarakat desa tidak terlalu memikirkan dolar karena aktivitas ekonomi mereka tidak menggunakan mata uang asing. Menurut dia, pihak yang paling merasakan tekanan kurs justru mereka yang sering bepergian ke luar negeri.

“Mau dolar berapa ribu, kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, benar nggak. Yang pusing yang itu, yang suka keluar negeri,” ujar Prabowo di hadapan peserta acara saat menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dikutip Sabtu, 16 Mei 2026.

Presiden kemudian menyebut beberapa nama yang hadir dalam acara tersebut, mulai dari pejabat hingga kalangan pengusaha. Salah satu nama yang disinggung adalah Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

“Ayo, siapa ini? Mbak Titik ini, pusing ini,” kata Prabowo yang langsung disambut tawa hadirin.

Tak berhenti di situ, Prabowo juga menyinggung Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Ia menyebut Trenggono kemungkinan ikut terdampak karena latar belakangnya sebagai pengusaha.

“Mana lagi ini yang menteri tapi pengusaha, coba aku cek. Trenggono! Ah, Trenggono!” kata Prabowo.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).