KABARBURSA.COM – Indonesia dan Rusia sepakat memperluas kerja sama strategi di berbagai sektor, mulai dari energi dan sumber daya mineral hingga investasi, pertanian, pendidikan, dan teknologi. Penguatan hubungan bilateral ini mengemuka dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin, di tengah nilai perdagangan kedua negara yang tercatat meningkat 12 persen.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan pertemuan kedua pemimpin berlangsung selama lima jam, terdiri atas dua jam pertemuan bilateral dan tiga jam pertemuan empat mata. Dari pertemuan tersebut, kedua negara menyepakati sejumlah poin penting kerja sama jangka panjang, terutama di sektor energi dan hilirisasi.
“Disepakati beberapa poin, antara kerja lain sama di sektor ESDM jangka panjang, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi,” kata Teddy dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu 15 April 2026.
Selain sektor energi, Teddy menyebut Indonesia dan Rusia juga menginginkan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian teknologi, pertanian, hingga investasi untuk pembangunan industri di Indonesia.
Menurut dia, kerja sama yang semakin luas menunjukkan hubungan bilateral kedua negara terus bergerak ke arah yang lebih strategis.
“Keberlanjutan beberapa kerja sama di bidang pendidikan riset teknologi, bidang pertanian, dan bidang investasi di berbagai sektor terutama pembangunan industri di Indonesia,” ujarnya.
Teddy menilai Rusia memiliki posisi yang sangat strategis dalam perekonomian global, sehingga kemitraan dengan Indonesia menjadi semakin relevan untuk jangka panjang.
Selain sebagai negara pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB, Rusia juga merupakan salah satu pendiri BRICS dan memiliki sumber daya alam yang sangat besar.
“Kita ketahui bahwa posisi Rusia sangat strategis di dunia global, selain sebagai salah satu negara pemegang hak veto PBB dan pendiri BRICS,” kata Teddy.
Ia menambahkan, Rusia merupakan salah satu kekuatan besar dunia yang dapat menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam mendukung agenda pembangunan nasional.
“Rusia merupakan salah satu kekuatan besar dunia yang mempunyai sumber daya alam terbesar di dunia,” lanjutnya.
Menurut Teddy, intensitas hubungan kedua negara juga tercermin dari frekuensi pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Putin.
Ia menyebut keduanya terakhir kali bertemu pada Desember lalu di Moskow dan sudah lima kali bertemu dalam berbagai kesempatan selama satu tahun terakhir.
Sementara itu, Presiden Putin menyatakan hubungan Indonesia dan Rusia terus berkembang secara konsisten dan kini memiliki substansi yang semakin kuat, terutama setelah kedua negara menyepakati deklarasi kemitraan strategis pada tahun 2025.
“Saya sangat senang bahwa kami melakukan langkah-langkah yang memberikan makna dan isi yang cukup besar antara hubungan kedua negara kita,” kata Putin.
Putin juga menyoroti perkembangan kerja sama ekonomi dan perdagangan sebagai salah satu pilar utama hubungan bilateral.
Menurutnya, nilai perdagangan antara Indonesia dan Rusia mengalami peningkatan sebesar 12 persen, meski pada awal tahun sempat terjadi sedikit perlambatan.
“Pada awal tahun ini, kami menyaksikan sedikit perlambatan dalam perdagangan bilateral, tetapi kami memiliki berbagai cara untuk meningkatkannya. Kami memberikan makna besar kepada komisi bersama antarpemerintah, dan kami berharap bahwa dalam pertemuan hari ini, Yang Mulia, kami akan sempat mencari berbagai solusi untuk tetap meningkatkan kemitraan antara kedua negara kita,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Putin menekankan bahwa kedua negara terus memprioritaskan kerja sama di sejumlah sektor strategis yang dinilai memiliki nilai tambah besar bagi hubungan bilateral. Bidang-bidang tersebut meliputi energi, antariksa, pertanian, industri pengolahan, farmasi, hingga pendidikan.
"Antara lain, kita bicara mengenai kerja sama di bidang energi, di bidang antariksa, juga di bidang pertanian, di bidang penghasil industri, serta di bidang farmasi. Kami memberikan makna besar untuk mengembangkan kerja sama di bidang humaniter, antara lain di bidang pendidikan," kata Putin.
Ia juga menyoroti eratnya koordinasi antara kementerian luar negeri kedua negara dalam berbagai forum internasional.
Menurut Putin, keanggotaan Indonesia dalam BRICS membuka ruang baru yang lebih luas bagi pengembangan kerja sama strategis, termasuk di kawasan Uni Ekonomi Eurasia.
“Indonesia sudah menjadi anggota BRICS, hal ini membuka peluang baru untuk mengembangkan kerja sama kita. Hal sama kita bisa bicara mengenai kerja sama dengan Uni Ekonomi Eurasia,” ujarnya.
Dengan meningkatnya perdagangan dan perluasan ruang kolaborasi di sektor strategis, hubungan Indonesia dan Rusia kini tidak lagi bertumpu pada diplomasi politik, tetapi juga semakin diarahkan untuk menopang agenda ketahanan energi, hilirisasi, dan investasi jangka panjang.(*)